[ulasan] Aku Hendak Pindah Rumah #1

Aku Hendak Pindah ke Sajak MAM

:: Erni Aladjai ::

Buku sajak ini saya beli ketika betul-betul ingin menikmati sajak. Saya membeli buku kumpulan sajak dengan judul Aku Hendak Pindah Rumah karya M. Aan Mansyur (MAM) ini di tempat istimewa – dimana tempat pengarangnya berpindah rumah yang kedua kali.

Buku ini mengingatkan saya pada buku seorang penyair dari Bali bernama Wayan Sunarta (tak ada maksud saya untuk mengekor sastra Bali) karena buku kumpulan sajak Wayan Sunarta juga berisi 99 sajak dari rentang kepenyairannya selama lima belas tahun. Wayan membagi lima belas tahun itu dalam tiga penggal. Penggal pertama dari tahun 1992-1996. Penggal kedua 1997-2001. Dan penggal terakhir 2002-2006. Sedangkan buku puisi MAM ini berisi 99 sajak (ditambah dua sajak pendek di Taman Depan Buku dan Taman Belakang buku). Semua sajak ditulis MAM dalam rentang waktu antara 2004-2007. Buku ini memiliki taman depan dan taman belakang, begitu matching dengan judulnya.

Terus terang, saya agak tidak percaya diri untuk membuat ulasan – yang justru dari tangan pengarangnya lahir pabrik kata-kata dan cerobong-cerobong sajak yang mumpuni. Sewaktu membuka buku kumpulan puisi ini, puisi pertama yang saya baca berada di taman depan buku ini berjudul Engkau dan Sajakku.

Engkau selalu sengaja memilih busana yang sederhana/ agar kecantikanmu tidak karam ke dalam kemewahan/ aku selalu sengaja memilih bahasa yang bersahaja saja/ agar makna sajakku tidak lenyap di perangkap ungkapan.

Sederhana atau bersahajakah puisi MAM? Saya tidak bisa menjawabnya. Bagi saya yang baru dua tahun memulai menikmati Puisi, maka puisi berjudul Engkau dan Sajakku adalah gabungan keterampilan kontemplasi bahasa penyair dengan penggabungan anti kemewahan kata-kata – yang kadang-kadang saking terlalu ‘agung’ orang tak lagi memahami maksud yang diusungnya.

Saya membandingkan misalnya, ketika membaca sajak-sajak Goenawan Mohamad yang terlalu musikal dan merdu itu saya jadi kesulitan membenamkan diri pada sajaknya. Maka kali ini saya memilih membenamkan diri saya pada sajak MAM berjudul Dunia Yang Lengang.

Sebuah Usaha, agar orang orang/ lebih banyak bicara dengan mata/ pemerintah membuat aturan ketat/setiap orang hanya berhak memakai/seratus tiga puluh kata per hari, pas/ jika telepon berdering, aku meletakan/ gagangya di telingaku tanpa menyebut Halo/ Di restoran aku menggunakan jari telunjuk/ memesan mi atau Coto Makassar. Aku secermat/ mungkin melatih diri patuh aturan dan berhemat/ tengah malam, aku telepon nomor kekasihku/di Jakarta , dengan bangga aku bilang padanya/aku menggunakan delapan puluh sembilan/kata hari ini. Sisanya kusimpan untukmu/ jika ia tak menjawab, aku tahu, pasti/ ia telah menghabiskan semua jatahnya/ maka pelan-pelan aku berbisik : Aku/ mencintaimu, sebanyak lima belas kali/ setelah itu, kami hanya duduk membiarkan/ gagang telepon di telinga kami dan saling/ mendengar dengus nafas masing-masing.

Bagi saya “Dunia Yang Lengang” memerlihatkan betapa sajak itu adalah gabungan ungkapan-ungkapan cerdas dari ketrampilan seorang penyair menciptakan bahasa dan kedalaman refleksi seorang pemikir yang melihat kondisi sosial masyarakat yang lebih banyak menghamburkan kata-kata di telepon, di sms, di voice chat, dan chatting. Dimana hampir semua orang telah terperangkap berbicara dengan teknologi. Di satu sisi bisa jadi juga MAM menggugat masyarakat yang makin hemat mengeluarkan kata-kata kritik di lingkungannya, dan bisa jadi juga MAM merindukan kota yang tak hiruk-pikuk dengan pembicaraan politik dan infotaiment.

Hiruk-pikuk adalah kota dan kota adalah penjara modern – yang di dalamnya bersesak-sesak mall, hotel, bioskop, restoran, pabrik-pabrik dan orang-orang kikir. Betapa jahatnya orang-orang kota yang telah mensugesti orang desa untuk sok kota . Di kota, kita kehilangan ruang untuk mengheningkan batin. Dan sajak MAM yang berjudul Kota: Anak Desa Yang Kurang Ajar, membantu membalaskan ‘sakit hati’ saya pada hiruk-pikuk kota. Di sajak ini pula MAM belum meninggalkan tradisi puisi lirik, MAM barangkali dengan sadar bermain kata-kata dengan rima yang bagi saya sangat merdu untuk didengar. Inilah kutipan puisi yang saya katakan penyairnya sadar akan kata yang dipakainya, sajak itu berjudul “Kota: Anak Desa Yang Kurang Ajar”.

Kota adalah anak desa yang amat kurang ajar/tidak satu pun petuah yang dia mau dengar/ Dia kira bisa dewasa dengan membakar lembar/ buku-buku tua dan hanya membaca surat kabar/ Kota menikah dengan orang asing lalu lahir/anak-anak yang setengah mati pandir dan kikir/Dia mendirikan banyak bangunan tanpa pikir/mall,hotel,bioskop, restoran dan lahan parkir.

Sajak-sajak MAM seakan representasi hidup kesehariannya yang bersahaja seperti penampilannya yang sederhana, dengan postur kerempeng, dan berwajah tirus. Semoga kebersahajaan MAM dan mungkin sajaknya tidak terperangkap dalam iklan yang membajiri dalam kota. Saya tak ingin sajak-sajak MAM termuat dalam kolom-kolom iklan perumahan mewah, produk kosmetik, apalagi Pilkada – seperti yang pernah kita lihat pada sajak-sajak Joko Pinurbo yang berjudul Tiada, Citacita, Rumah Cinta dan Baju Bulan pernah dimuat dalam kolom iklan sebuah perumahan mewah di sebuah surat kabar nasional. Karena bagi saya sajak tetaplah bagian dari produk kesenian yang dianggap memiliki nilai-nilai tertentu dan jauh dari aroma komersial. Karena saya takut suatu hari nanti kita lebih diwajibkan membaca iklan daripada membaca sajak.

Mari kita beramai-ramai pindah ke 99 sajak MAM.(p!)

ulasan ini dimuat dan bisa di baca di sini: www.panyingkul.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s