Belakang Panggung Puisi Indonesia

oleh Ook Nugroho

BUKU 100 Puisi Terbaik Indonesia 2008 pastilah tidak sempurna. Isinya niscaya tidak bakal memuaskan semua pembacanya—saya misalnya termasuk yang tidak puas. Tapi marilah kita lupakan kenyataan itu, marilah kita sebentar berandai-andai bahwa buku itu cukup memberi gambaran “utuh” mengenai kondisi kehidupan puisi kita. Dan dengan bertolak dari pengandaian optimistik itu kita akan coba mengotak-atik data para penyair yang “beruntung” puisinya terpilih, untuk mendapatkan informasi belakang panggung dari dunia puisi kita hari ini.

Penyair Pria Lebih Dominan

Ternyata jumlah penyair laki-laki mendominasi buku. Jumlahnya mencapai 79%. Sebanyak 21% penyair wanita sisanya menariknya hanya berasal dari tiga daerah, yaitu Bali 6 orang, Lampung 4 orang, dan satu dari Subang.

Mengapa terjadi kesenjangan jumlah begitu jauh tentulah menarik dikaji lebih lanjut. Bukankah tempo hari pernah ada tokoh penting sastra kita yang bersabda bahwa masa depan sastra kita ada di tangan wanita—mengapa kenyataanya begini beda?

Stok Lama dan Calon Bintang

Penyair sepuh Sapardi Djoko Damono (68) masih ada di panggung puisi kita. Ia ditemani konco lawasnya Goenawan Mohamad, dan Frans Najira. Sedangkan penyair termuda dalam buku ini adalah Merisa Hartiningsih (19), dari Bali.

Jumlah penyair usia di bawah 40—yang sering dijuluki “penyair muda”–ternyata lebih banyak ketimbang mereka yang di atas usia 40. Perbandingannya adalah 60 : 40. Dari kelompok “penyair muda” ini kita dapati sejumlah nama yang sepertinya menjanjikan di masa depan : Aan Mansyur, Inggit Putria Marga, Jimmy Maruli Alfian, Sunlie Thomas Alexander, Marhalim Zaini, Mashuri, Arif B Prasetyo, Hasan Aspahani, Zen Hae.

Sedangkan pada kelompok penyair di atas usia 40 tapi di bawah 60—penyair “setengah tua?”–dijumpai sejumlah nama penyair seleb : Afrizal Malna, Jokpin, Nirwan Dewanto, Sitok Srengenge, Acep Zamzam Noor, Gus tf. Lalu ada sejumlah “stok lama” yang sepertinya baru beberapa tahun belakangan ini mendapat sorotan ekstra : Mardi Luhing, Sindu Putra, Wendoko, umpamanya.

Daerah Mengurung Jakarta

Selain Jakarta, ada beberapa kota dan daerah lain yang menyumbang penyair dalam jumlah cukup signifikan : Lampung dan Bali. Lampung mungkin menarik diamati sebagai bahan kaji lebih jauh karena di sini berhuni beberapa nama “penting”.

Kota-kota “kecil” lain ternyata juga memberi sumbangan berarti. Di Payakumbuh telaten berjaga Gus tf, Mataram dikawal Sindu Putra, Hasan Aspahani bikin pos di Batam, Aan Mansyur meronda di Makasar, sementara di pesisir Gresik, Mardi Luhung tinggal khusu mengolah majas. Globalisasi memang menerjang ke mana-mana.

Datang dari Kelas Menengah

Boleh dikata hampir seluruh penyair dalam buku ini berlatar-belakangkan pendidikan perguruan tinggi—atau minimal pernah kuliah—malah ada yang doktor dan profesor. Secara gamblang ini membuktikan bahwa para penyair kita adalah kelompok elit terdidik, sebuah “kasta” priyayi pilihan, yang pintar dan tidak bodoh.

Boleh jadi secara ekonomis pun mereka hidup mapan, atau minimal berkecukupan. Cerita penyair kere yang terpaksa berhutang di warung (atau melego celana) guna menyambung hidup mungkin tinggal dongeng, atau memang hanya dongeng yang sengaja dikarang-karang.

Fakta ini sekaligus menerangkan mengapa tema sosial tidak pernah “laku” dalam khazanah puisi kita. Karena kemiskinan ternyata memang “jauh” dari kehidupan penyair kita..

Beberapa Catatan Lain

Agak mencengangkan bahwa sebanyak 64% penyair—dari berbagai rentang usia– ternyata memilih berkhidmat pada komunitas-komunitas sastra/seni. Pada mereka yang masih muda, mungkin itu semacam pilihan temporal. Tapi bagi nama-nama mapan seperti Acep Zamzam Noor, itu barangkali bukti nyata betapa berahi mereka sungguh total pada kesenian.

Profesi lain yang dijalani penyair kita adalah dosen, wartawan, pegawai, dan ada juga yang “nyambi” jadi pastor (Leo Kleden).

Cukup banyak penyair yang selain menulis puisi juga menggarap cerpen dan ternyata sukses (Gus tf), menulis esai, aktif di teater, melukis (Frans Najira), bahkan ada yang juga terjun ke dunia tarik suara & rekaman (Saras Dewi).

Sebanyak 62% beruntung sudah memiliki buku puisi tunggal. Sejumlah penyair juga pernah mendapatkan penghargaan (award) dari yang kelasnya lokal/daerah sampai nasional bahkan internasional.

Terakhir, 4 penyair dalam antologi ini (Aan Mansyur, Hasan Aspahani, Jokpin, Ook Nugroho) adalah juga “sastrawan blog”. Mereka punya kebiasaan memajang puisi mereka di blog masing-masing sebelum kemudian diuji-cobakan ke koran. Fakta bahwa puisi mereka sanggup menembus barikade sastra koran, dan beberapa kemudian terpilih dalam antologi ini, otomatis menggugurkan anggapan miring bahwa sastra blog hanyalah sastra hura-hura atau “sastra silaturahmi” belaka.

Begitulah, antologi ini dengan segala kekurangannya, ternyata memberikan sekelumit gambaran belakang panggung dari kehidupan puisi kita hari ini. Mana tahu sekelumit gambaran itu ternyata memang merupakan bayangan dari kenyataan seutuhnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s