tentang kumpulan puisiku #1

Adakah yang Sia-sia?
:empat paragraf untuk antologi Aku Hendak Pindah Rumah

Pakcik Ahmad, Penyair, pengelola blog puisi: http://pakcik-ahmad.net

Ketika berujar, ucapan manusia telah melalui proses yang tidak ringkas. Sebagian berawal dari pantulan cahaya pada benda yang ditangkap mata. Sebagian lainnya adalah cernaan dari pesan-pesan imajinatif dari sebuah tempat yang intagible. Namun kesemuanya tetap melalui sebuah tahapan yang sama, yaitu proses metabolisme pesan-pesan dalam sebuah mesin raksasa, otak.

Puisi-puisi Aan adalah karya dari sebuah kerja serius yang memadukan kedua hal itu, kesan visual dan kesan perasaan. Mudah saja menemukan impresi ini. Cobalah kita pegat kata per kata dalam tubuh salah satu puisinya. Timanglah dan hantarkan kemampuan imajinasi anda ke suatu tempat yang nir-suara. Ketika melakukan hal itu saya sakan menemukan Aan yang sedang mengumpulkan banyak kosa kata dan memilih yang merupakan kaldu dari daftar itu. Ini kerja serius yang tidak akan dapat dilakukan dengan tergesa-gesa. Hasilnya adalah sebuah bangun puisi yang setiap unsur pembentuknya merupakan materi yang mandiri. Hal ini semakin memberikan rasa ingin untuk menyelam ke dalam sungai puisi-puisinya. Mencari sumber pusaran yang membuat permukaan air yang terlihat tenang namun arus di bawahnya ternyata bergerak deras.

Kelebihan Aan yang sedemikian rupa sedikit sulit untuk dilalui oleh mereka yang ingin/akan menulis sebuah puisi. Terlebih lagi di buku ini Aan seperti memiliki gudang dari ribuan imaji dan kearifan ciri tradisi. Saya menyimpulkannya demikian sebab puisi-puisi yang panjang haruslah ditulis dalam komposisi yang cerdik. Pemilihan kata, bentuk pengucapan dan kemampuan menjaga harmoni rasa sang pembaca agar tetap stabil. Namun laku seperti ini dapat membawa seorang penyair seakan meniti sebuah jalan setapak di sisi tebing yang rawan longsor dan jurang yang dalam di sisi sebelahnya. Bahaya yang mengendap-endap seolah bayangan maut bagi si penyair maupun pembacanya.

Dengan berposisi pandangan sebenang lebih tinggi dari pembaca lainnya saya berkesimpulan sebagai berikut : Aan memiliki pencernaan dan kemampuan memakan imajinasinya pada titik yang tidak semua orang (penyair) dapat lakukan. Ketajaman lidahnya mencecap banyak rasa seakan sebanding dengan kejelian dirinya untuk mengatur ke arah mana esensi asupannya hendak dia salurkan. Sehingga sulit dicari ampas kesiasiaan dari unsur-unsur terkecil sekalipun dalam puisinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s