#8.2008

RUMAH DARI JANUARI KE JANUARI


1

Kita tinggal di sini sebab udara dan langit
amat bersih. Rumput-rumput menjemput
setiap pejalan kaki yang hendak masuk
ke halaman dan rumah dengan ramah.

Di jalan-jalan yang menjauh dari pagar
tak ada
seseorang berjalan atau kesasar.
Di
daerah ini, tak ada orang mati atau terjaga
di tengah malam
, yang membuat para tetangga
harus merasa bersalah atau malah terganggu.

Mobil-mobil hanya duduk membuka mata
mengamati tubuh jalan-jalan di depannya.
Lelampu bangun sepanjang malam dan siang
persis pegawai yang senang membangkang.


2

Seorang gadis tetangga sedang berjuang
menyingkirkan nama aslinya yang panjang,
yang senang menganggu wajah manisnya
seperti helai rerambut yang berjejatuhan.

Dia tersenyum padaku, dan kau pikir
airmata akan mulai lahir di sudut bibirmu.
Sebab terus begitulah nampaknya selalu,
kelembutan ibu kandung badai-topan.
Perlahan-lahan kau lihat datang dari kejauhan.
Kau pikir bisa menghindar, namun tiba-tiba saja
menyerang dari dalam dadamu sendiri. Kau heran.

Dia mirip saudara perempuanmu yang menghilang.
Tatapannya tenang berkata: aku onggokan kotoran.
Tetapi kau masih yakin bisa mencuciku hingga bersih.


3

Selusin kartu kredit sama saja, katamu.
Semuanya beraroma sabun yang aneh.
Memenuhi kamar, tubuhmu dan hidungku
selepas mandi subuh berlama-lama.

Kau campakkan semuanya ke atas meja kayu,
seolah sama sekali tidak peduli pada peluhku.
Anak-anak mendengar, dan kita tidak boleh

menyesal karena mereka lahir punya telinga.
Mereka masuk dari halaman seperti lelehan
madu, mereka tersenyum. Namun mata-mata
mereka mengabarkan kelaparan para pengungsi.

Kita berhenti sejenak sambil sama-sama
melirik jendela kaca yang di dalamnya
ada pohon-pohon sedang berbunga.
Merayakan musim semi, musim semai.


4

Dengan seluruh yang kita punya
ada semacam bakat untuk tertawa.
Tertawa kepada apapun, apa saja.
Kepada peristiwa yang telah lewat
atau kesedihan yang sangat gawat.

Juga kita tak melupakan siapapun.
Kau mendengar ibumu di telepon.
Dia sedang mengenang sebuah pepatah
tentang kepolosan seorang anak kecil.

Aku membaca surat-surat ayahku.
Dia mengulang-ngulang petuah usang
tentang kehidupan dan juga kematian
yang katanya kadang datang bersama.

5

Setiap hari Minggu kita selalu punya pesta.
Anak-anak mengungsi ke dada pengasuh.
Wajah mereka terhapus seharian penuh.

Di luar rumah, air hujan bercipratan
menciptakan kolam di sore hari.
Perlahan jadi tinggi lalu meluap ke tangga
atau ke sepasang matamu yang lelah.

Seorang tetangga mengisi lemari pendingin

dengan sayur yang kurang vitamin dan zat besinya.
Seorang mengelap kaca dan mengharumkan seprei.

Seorang bercanda dengan burung peliharaan.
Sementara kau sedang bersiap-siap ke pesta
dan mengajak aku kembali ke masa-masa remaja.

6

Untuk bercanda kita bicara saja tentang kau.
Apapun, melulu lebih bagus bicara tentang kau.
Begitulah kesepakatannya, begitulah aturannya.
Agar anak-anak tak terlalu sering menguping
sambil mengigit bibir dan tangan di balik pintu.

Ini akan jadi malam yang panjang, katamu.
Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin?
Anak-anak sudah tidur dan bermain-main
dengan mimpi yang selalu susah kita pahami.

Malam akan memanjang melampaui siang.
Tidak akan ada pagi selama dua
atau tiga hari.
Dan tawa
kita tidak akan berhenti berderai.
Bahkan pepohonan di halaman menjulurkan
daunnya lewat lubang-lubang atap, mengintip
kita yang sedang menyembunyikan ratap.


7

Mengapa kau menerima lamaranku? Karena.
Karena. Kau paling baik bagiku, katamu gagap.
Namun kau bilang kau sedang gugup.

Mungkin kau tak sanggup.

Di dapur, di atas kloset, di kamar
di balik pintu, di toilet, lembar-lembar
kalender sedang melahap usia kita.

Mengapa kalian ikut mendengar?
Begitu caramu bertanya pada kalender.
Bahkan aku susah menemukan jawaban
kecuali sebuah elusan di urai-rambutmu.


8

Tombak siapa bersandar di kamar tidur?
Apa gerangan yang dibisikkan gerendel

kepada lubang pintu yang tak punya kunci?

Dan tas-tas, pintu-pintu, mulut-mulut.
Semuanya kelaparan minta disuap.

Ketika kau sembunyi di dalam selimut,
senjata di balik bantal geli dan tersenyum
memperlihatkan gigi-giginya yang tajam.


9

Malam ini tiba-tiba saja anak-anak
terjaga dari mimpi yang
seragam.
Tentang daun-daun yang terbakar.

Tentang sepasang gadis dalam gelap
yang mengetahui tidak ada musang
atau lelaki jahat di dalam rumah kita.

Hanya alat-alat elektronika yang sakit,
matanya samar dan suaranya kasar,

juga televisi bicara kepada dirinya sendiri,
dan piring-piring kotor menangis minta dibilas.

Kau dan aku hanya patung yang saling menangisi,
saling mengisi tubuh dengan kesedihan.

10

Kau akan pergi jauh. Rumah sudah terlalu hangat

buat tubuhmu yang selalu ingin disepuh angin.
Kau putuskan semua kabel sambungan telepon.

Tulang-tulang, kaleng-kaleng, sepatu kulit,
dan bedak berdebu di lantai. Kau bakar tissue
Toilet yang masih bergulung-gulung di gudang.

Kau masukkan kembali botol-botol
ke dalam kulkas yang berkarat pintunya.

Di punggung tangga ada musim hujan gelas.
Dan kau meminta: tunda dulu minum susu!


11

Kau boleh pergi sekarang, kata lemari.
Aku tak ingin bicara, kata jam dinding.

Tasmu hitam dan menunggu di atas kursi.
Bagaimana mungkin kau tinggalkan rumah?

Meja dapur hanya menatap langit,

tak mampu mengucap kata secakap.
Namun kau tetap melewati ruang tamu,
berjalan, keluar dan berdiri di depan pintu.

Jalan-jalan, tak ada seorang pun di atasnya.
Bahkan anjing yang dilepas rantainya.

Mobil masih saja terbuka matanya.

Tapi rumput-rumput mulai menangis.

Kau berlari menubruk tubuhku kemudian
memukul, bertanya, menangis sambil memeluk
bahuku yang sebagian besar telah ditelan kalender.


12

Kita akan tetap tinggal di sini, katamu
lalu terdiam dan menatap foto di dinding
yang rindu ada tungku pemanas di bawahnya.

Mari ke kamar tidur, kita harus belajar
memahami mimpi anak-anak yang rumit
dan mulai menyingkirkan masa remaja
ke gudang tempat gulungan-gulungan tissue

sebelum terbakar dan menyisakan abu.

Di luar jendela, udara dan langit sangat bersih.
Kini kita tak lagi punya alasan untuk bersedih.

Kecuali kalender yang terus berganti dari Januari
ke Januari lalu kembali lagi ke Januari yang baru.

Dan rumah, tempat aku-kau-anak-anak tinggal
dan menjadi renta, berada di situ, di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s