#2.2008

Surat Allen Ginsberg yang Tiba Kemarin Sore

Begini saranku: lembar surat ini bacalah sembari berbaring
di salah satu ranjang ruang unit gawat darurat yang paling
dekat dari beranda rumahmu. Bayangkan kankerku menulari
dadamu, terserah kau mau yang sebelah kanan atau yang kiri.

Mati itu tidak enak rasanya. Percayalah! Ibarat masakan gadis
bodoh yang kau usir dari kamar tidurmu karena suka menangis.
Utang tidak serta-merta habis saat tubuhmu dikuburkan 6 kaki
dari akar rumputan teki. Makanya, gempa yang membalik bumi
atau banjir yang melautkan segala-galanya tidak membuatmu
kasihan kepada koruptor yang rumahnya rubuh atau hanyut.

Jika kau sudah tak tahan ingin mati, yakinlah kau sudah mandi—
orang-orang yang memandikan mayatmu kelak saling berbisik
tentang kulitmu yang menjijikkan dan baumu yang betapa amis—
dan tulislah sesuatu, sebaiknya dalam bentuk puisi. Contohlah
para penyair yang belum lahir atau yang mati sebelum sempat
menuliskan rasa sedihnya pada diri sendiri. Contohlah mereka!

Alangkah menjengkelkan orang-orang tua, termasuk aku, bukan?
Setelah berulang tahun puluhan kali, sudah menganggap diberi
kekuasaan untuk menyebut-nyebut diri paling bijak dan pandai.
Maka dicaci-makilah semua kesalahan yang sengaja kau lakukan.
Padahal kau ingin mengejek! Tetapi, begitulah, agar kau mampu
bersedih dan tertawa-tawa di dalam perut kembung kesedihan itu.

Adakah seseorang melihatmu sedang membaca surat ini? Bukan tirai,
dokter, perawat atau tembok putih maksudku—mereka tidak memiliki
keingintahuan pada rahasia-rahasia yang indah semacam ini—tetapi
mungkin seorang gadis yang setia menjaga sakitmu yang pura-pura
kau pinjam dari kankerku. Aha, tentu saja tidak akan ada siapa-siapa!

Sudah kuduga, aku membaca kesepianmu yang ribut di dalam surat
yang kau kirimkan di musim yang dilepaskan dari tangkainya. Kau kuat
seolah jembatan yang mampu dilewati truk-truk pengangkut gunung.
Tetapi nyatanya kau hanya melukiskan angan-angan yang kau inginkan.
Dan aku baca beberapa puisimu di Koran Minggu, betapa rapuh suaramu!

Sebab surat ini sudah tiba di tamat, berbaringlah terus di ruang gawat darurat,
di ruang yang aroma obatnya sangat menyengat, dan tulislah selembar surat.
Ceritakan dengan suara yang kuat, sesuaikah kankerku di dadamu, Sahabat?

Iklan

4 thoughts on “#2.2008

  1. Kakak, bukuta’ masih di ibu kota. Lina pesan sama Kakak saja deh! Hehehe! :)… Kak, informasita’ dulu tentang buku2 best seller yg bermutu atau penulis2 yg baik di MY. Soalnya, sdh beberapa buku yg Lina beli, kok gak ada yg menarik dan tdk membawaku ke dlm isi bukunya.Atau Lina yg tdk pandai membaca buku kali ya. Hehehe! Atau… Kakak mau memesan buku? Boleh! Ditunggu Kak ya informasinya! 🙂 salam hormat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s