surat #1

SURAT KEPADA ALLEN GINSBERG

Ginsberg, jangan terlalu khawatir! Kita pasti akan bertemu lagi,
mungkin di sajak seseorang yang bergaya di Kompas Minggu.
Kita bisa diskusi sampai mampus tentang rupa-rupa penyakit:
migraine, jantung koroner, osteoporosis, teroris dan korupsi.

Kita bisa memesan kopi atau jus macam-macam buah atau bir.
Tetapi tanpa senja tentu saja, sebab senja sudah lama terusir
dari sajak-sajak, sejak penyair tua terkenal itu mati kena sihir
penyair lain yang nyinyir, yang, hehe, sebenarnya amat pandir.
Kau pasti tertawa dengan pernyataan barusan. Kau tak percaya
senja mau pergi dari negeri ini. Sebab negeri ini lahir kembar
dengan senja. Kau betul, Ginsberg, itu hanya angan-anganku saja.
Aku ingin senja dan semua teman-temannya diusir dari sini.

Tetapi bagaimana kabarmu, Ginsberg? Di kubur adakah Amerika
masih sering menelponmu dengan suaranya yang menakutkan itu?
Aku tahu, aku tahu persis, kau tidak pernah takut kepada Amerika
bahkan kepada bapak-ibu, saudara, kakek serta seluruh keluarganya.
Di sini, Indonesia, penjahat yang pernah aku ceritakan, semakin gila.
Orang-orang menjilat sepatunya agar tidak terlindas. Ya, menjilatnya.

Ginsberg, sejak pertemuan terakhir kita di mall, di pintu toko buku itu,
aku lebih banyak tidur. Seperti katamu, di dalam tidur ada toko buku
yang menyediakan lebih banyak judul dan tentu saja jauh lebih murah.
Dan, ini yang paling aku suka, ada seorang gadis selalu menungguku
di sana, yang lebih manis dari semua gadis yang pernah kau kenalkan
padaku. Sungguh sayang sekali, ia tak mau mengatakan siapa namanya.

Sekarang kata-kata apa yang sedang tren di sana, Ginsberg? Apakah
orang tertawa jika ada yang menyebut ranting, ilalang atau dedaunan?
Sudah mati kan semua kata itu? Kau pembunuhnya? Atau temanmu?
Tetapi di sini hujan selalu membasahi kota dan kata, dan matahari sore
membuat setiap mata berwarna jingga, seperti sari sunkis yang kental.
Di surat balasanmu nanti aku ingin kau melampirkan daftar kata baru
yang bisa aku pakai ke pesta dan membuat tetangga-tetanggaku sirik.

Poster siapa yang kau tempel di dinding kamarmu sekarang, Ginsberg?
Tak usah kau jawab pertanyaan ini! Sebab aku pasti tak mengenalnya,
siapa pun nama yang akan kau sebut. Aku hanya mengenal nama-nama
yang bahkan bukunya tidak sudi kau baca saat buang air. Kecuali jika
kau tak punya poster, aku mau tahu kenapa. Apakah kau mengidolakan
diri sendiri atau lebih senang pada kekosongan? Tetapi kau pernah
bilang tak ada lagi yang kosong bahkan angka nol. Semuanya sesak.

Itu saja yang ingin aku katakan, Ginsberg. Selebihnya kita bicarakan
nanti saja kalau kita bertemu di sajak seseorang di Kompas Minggu.

ps: coba kau hitung berapa kali namamu kusebutkan dalam sajak ini.

5 thoughts on “surat #1

  1. Masa ah!Kalau saya, “…Allen adalah Gadis Indonesia Yg Berkualitas Tinggi.”… Hehehe… Gak percaya? tanya aja sama penulisnya! Tidakkah seperti itu, Pak Aan?

  2. Allen Ginsberg, seorang penyair Amerika yang sedang menawan hati saya saat ini. Mungkin gak banyak memang yang mengenal dia. Tetapi bagi saya, dia seorang penyair penting. Di tangannya semua kata-kata jadi puisi.

  3. GM ada menulis sajak tentang Allen Ginsberg. Potret Taman untuk Allen Ginsberg. Itulah pertemuan saya dengan nama itu. Aan betul tentang dia. Dia penentang perang Vietnam yang gigih. Aan, sudah dibalasnya suratmu itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s