karena sebuah pertanyaan


DI MANAKAH GERANGAN BERMULA

WAKTU kanak-kanak dulu aku selalu bertanya-tanya
di manakah gerangan bermula jalan bercecabang itu.
Lalu seorang lelaki tua di paragraf pertama novelnya
menyimpan sebuah jawaban buat rasa penasaranku.

“Jalan-jalan diciptakan dari sekelok sungai,” katanya.

Aku percaya setiap rasa penasaran mengandung bahaya.
Jawaban itu kemudian membawaku ke pertanyaan baru.
Di mana bermula sungai yang melahirkan jalan-jalan itu?
Seorang gadis, dengan tangis, menjawab pertanyaanku.

“Sungai diciptakan dari sepasang mata,” katanya lalu pergi.

Pertanyaan tak pernah mau habis. Selanjutnya tentang mata.
Tetapi siapakah yang bisa menjawabnya? Gadis itu tiada lagi.
Maka aku menangis berharap mampu menemukan jawaban
dari mataku sendiri. Tetapi yang terjadi adalah airmataku
hanya melahirkan ribuan kelokan sungai yang melahirkan
jutaan cabang jalan. Dan asal mula mata tetap pertanyaan.

Setiap rasa penasaran memanglah mengandung bahaya.
Maka aku berdiri, berjalan, berlari mencari sendiri gadis itu,
gadis yang pernah memberi jawaban dan harapan padaku,
harapan yang pelan-pelan mengekal menjadi kehilangan.
Seluruh cabang-cabang jalan telah aku lewati, tetapi tidak
kutemukan cabang jalan mana yang menyembunyikannya.

Maka aku kembali menangis. Dan mataku menciptakan sungai.
Dan sungai itu menciptakan cabang-cabang jalan. Dan cabang-
cabang jalan itu menciptakan kehilangan. Dan kehilangan itu
membuat aku menangis. Dan mataku kembali menciptakan
sungai baru. Dan sungai baru itu menciptakan cabang-cabang
jalan baru. Dan cabang-cabang jalan baru itu menciptakan
kehilangan baru. Dan kehilangan baru itu membuat aku sekali
lagi menangis. Dan mataku sekali lagi menciptakan sungai baru.
Dan sungai baru itu sekali lagi menciptakan cabang-cabang jalan
baru. Dan cabang-cabang jalan itu sekali lagi menciptakan kehilangan
baru. Dan kehilangan baru itu sekali lagi membuat aku kembali
menangis. Dan seterusnya, dan seterusnya…


3 thoughts on “karena sebuah pertanyaan

  1. keren banget tuh novel The Famished Road. Saya sebentar lagi menyelesaikan novel itu. Nah itu baru dibilang novel puisi. Keren…keren….Btw, kapan selesai novel puisi ta’ kak.

  2. saya belum baca novelnya, jadi tidak bisa komentar soal novelnya..hehehesaya hanya mau mengomentari puisinya Aan..sebuah puisi yang sarat dengan tanya dan eksplorasi tentang asa muasal..mungkin tanya ini memang selalu hadir dalam hati kita semua..dari mana gerangan bermula..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s