jurnal rasa sakit #1


PROLOG

seluruh udara adalah nganga pintu kematian
dengan mudah kau bisa masuk ke dalamnya

sebab bundar bumi ini berporos pada rasa sakit

1. SAKIT GIGI

gigiku sakit, ibu, ada lubang di situ
kata dokter seharusnya aku lebih rajin bersikat
dan berkumur anti-kuman sehabis bersendawa
juga sebelum bermimpi ketemu dewi atau dewa

tetapi dalam denyut kecil rasa sakitnya
para muka yang aku cintai dan aku benci
tiba satu per satu seperti antrian penumpang
kereta api kelas ekonomi di musim lebaran

juga mulai aku sadari laku burukku
suka membentak dan tak bersabar

eh, ternyata ada gigi di rongga mulutku
yang mengasihani lambung dan ususku

karang-karangnya seperti tempat bersarang
mahluk laut yang menghidupi nelayan dan
terutama orang yang kikir membuka dompet
tetapi ada sisa-sisa bahan peledak di sana
dan orang kota tak mau merasa bersalah
mereka lebih gemar marah-marah

gigiku sakit, ibu, hingga ke gua telinga
dan tak kudengar suara-suara yang memintaku
berterima kasih kepada udara, kepada cuaca,
kepada seluruh benda kecil yang sering terlupa,
juga semua kekasih yang pernah menyayangiku

eh, ternyata ada dua telinga di kepalaku
yang mengubah suara kendaraan jadi lagu

tetapi aku dengar gigiku di sana membisikkan
rasa sakit, rasa sakit yang nikmatnya selalu jauh
dari kepalaku hingga aku selalu mengeluh
bahkan pada hujan, debu dan peluh
yang membuatku harus mandi dan cuci baju

aku membenci dokter, ibu
mereka mengambil uangku
dengan mengatakan sesuatu
yang seharusnya mereka katakan dulu
sebelum adanya rasa sakit di gigiku

tetapi rasa sakit mengajariku berdoa
dan tentu saja menitikkan air mata

Iklan

6 thoughts on “jurnal rasa sakit #1

  1. Ada yg berminat membaca “Kota Tanpa Karya”? (jika sudah terbit)… Silahkan memesan sama saya…Hehehe… 🙂 … (tdk apa-apa ya kak promosi? :D)salam hormat,lina

  2. Saya menitikkan air mata saat membaca puisi anda ini… Hehehe… Entah mengapa ya? Padahal, saya tidak pandai mengartikan sebuah puisi… Thanks!Salam puisi.

  3. Saya menitikkan air mata saat membaca puisi anda ini… Hehehe… Entah mengapa ya? Padahal, saya tidak pandai mengartikan sebuah puisi… Thanks!Salam puisi.

  4. Saya menitikkan air mata saat membaca puisi anda ini… Hehehe… Entah mengapa ya? Padahal, saya tidak pandai mengartikan sebuah puisi… Thanks!Salam puisi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s