Sore yang Asing

Seringkali sore dihadirkan berbeda seperti ini.

Seperti sebuah lukisan tangan gemetar seseorang
yang buta warna sejak lahir—yang tak mampu
membedakan warna-warna waktu. Pagi dan sore
hari berbeda hanya laju benda-benda dan suaranya.

Kita harus menerimanya sebagai hadiah, Sayang.
Hadiah aneh yang mengingatkan kita tersenyum.

*

Seringkali sore dihadirkan berbeda seperti ini.

Seperti nyanyian seorang gadis tuli yang tak pernah
tahu suaranya parah. Dia bernyanyi dan tak peduli
nada dan selera telinga. Dia hanya ingin bernyanyi.

Seluruhnya adalah sajak yang sungguh indah, Sayang.
Sajak yang tidak lelah menginginkan kita jadi penyair.

*

Seringkali sore dihadirkan berbeda seperti ini.

Seperti dunia yang tidak mengenal hari libur:
malam Minggu atau kalender merah. Hanya
kelelahan para pekerja yang mencari rumah
dan kekasih pemilik dada lapang dan hangat.

Masa kanak kembali dari pintu semacam itu, Sayang.
Melunaskan rindu pada kepolosan dan kemanjaan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s