Reportase dari Seorang Golput

–dandy

Udara dan suara di kota ini semuanya terbuat dari janji. Itulah kenapa mereka pergi mencari kamar sempit itu. Ada yang mengatakan di sana telah disiapkan hadiah, tetapi hanya ada kotak, paku dan bantal kecil di sana.

Mereka memasukkan kertas suara, yang tak kenal suara, ke kotak seolah memasukkan kupon undian berhadiah.

“Tak salah mencoba lagi. Meskipun sebelumnya saya gagal mendapatkan hadiah,” kata seorang yang meminta namanya tak disebutkan di catatan  ini.

Lalu paku kecil itu buat apa? Di kertas ada wajah-wajah, silakan pilih, mata siapa yang paling membuatmu marah. Tusuklah mata itu dengan kegeraman paling dendam!

Disiapkan juga bantal di sana. Siapa sedang mengantuk? Oh, mereka memang berjaga semalam, memikirkan mata siapa saja yang akan mereka tusuk, mata yang merasuk ke mata mereka jadi mimpi buruk tentang masa depan.

Mereka keluar dari kamar sempit itu. Kenapa wajah mereka lesu? Sudah bocorkah rahasia itu? Bahwa sesungguhnya tidak pernah ada yang menyiapkan satupun hadiah.

Puisi ini dilaporkan sangat terburu-buru dari halaman seorang warga yang disulap jadi tempat pemungutan suara. Ah, pemungutan suara! Lebih baik memungut biji-biji hujan saja! Lebih indah kedengarannya, bukan?

Langit adalah pohon raksasa. Dari cabang-cabangnya berjatuhan biji-biji hujan. Hujan. Hujan. Hujan. Mari memungut hujan! Dengannya kita akan mendapatkan hadiah: kenangan dari masa-masa kecil, kenangan dengan kekasih pertama, atau bisa pula mimpi indah.

Tetapi memungut suara. Tidak ada hadiahnya. Memungut suara. Hahahaha, ada-ada saja!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s