Menelponlah, Kekasih!

O, Kekasih, pergilah ke mana saja, ke tempat paling jauh dari jangkauan mata. Berdiamlah di ujung kabel telepon. Tekan angka-angka telepon saya. Bicaralah. Jangan pernah tamatkan pembicaraan kita.

Bicaralah terus. Tentang apa saja. Berpura-puralah jadi perempuan paling jahat yang tidak kenal tanda baca. Marahilah saya karena lupa berdoa usai sembahyang, karena tidak memotong kuku dan rambut, membeli novel yang salah, lupa di mana saya letakkan album foto kita. Cerewetlah di dua telinga saya.

Rumah biarlah kita bangun dalam gagang telepon: tempat paling aman dan nyaman saat ini untuk tinggal tanpa diganggu kemacetan, klakson, dan suara knalpot.

Saya mencintai suaramu. Saya mencintai kemarahanmu. Kamu mengungsikan saya dari seluruh macam kekesalan kepada jalan raya yang menggusur badanku hingga kurus.

Ke dalam tidurku menelponlah. Ceritakan mimpi-mimpi tentang apa saja. Tentang desa paling dicintai kemarau, tentang bangkai para pahlawan, gunung meledak, atau bom pecah membuat kita berdarah sambil berpelukan.

Pemerintah sedang mengincar lahan tidurku yang lapang. Mereka punya rencana jahat membangun supermarket, hotel, dan tempat parkir di sana.

Jika kamu masih mencintai , habiskan tabunganmu buat bayar pulsa. Jangan berhenti atau kamu akan menemukan tubuh saya hanya kenangan yang tak bisa kau ziarahi nisannya.

Menelponlah, Kekasih!

One thought on “Menelponlah, Kekasih!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s