Di Runcing Jejarum Jam

Sejak lama, sebelum kita butuh waktu,
aku sudah tinggal di runcing jejarum jam
yang bekerja keras seperti babu buat meyakinkan
:sekarang sudah pagi, sudah saatnya keluar dari mimpi!

Di jalan raya dan televisi, orang-orang lebih jauh,
sudah ada di pukul dua belas siang. Di kantor-kantor
pemerintah, tempat ayahmu bekerja, matahari baru
saja tenggelam, dan lampu dinyalakan satu per satu.

Namun, katamu lewat telepon, sekarang sudah Januari,
tahun sudah baru lagi. Waktu dihitung dengan kalender
bukan dengan angka-angka jam dinding atau jam tangan.

Aku ingin tertawa dari dasar kepedihan di lambungku
tetapi bahkan tawaku yang paling keras tak akan
mampu sampai menyentuh selaput telingamu.

Kita berpisah, dipisahkan, enam lembar kalender, cukup
buat pohon-pohon berwana kuning lalu hijau kembali.
Cukup buat wajahku bertukar wajah lain di ingatanmu.

Hingga nanti, setelah kita tak lagi butuh waktu,
aku akan mati dan terkubur di runcing jejarum jam.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s