Bermain-main lagi

Tak ada sajak beberapa hari terakhir ini. Sama-sama buntu. Aku dan Jamil, seperti biasa, sepakat bermain. Berikut hasil main-mainku. Hasil main-main Jamil bisa dibaca di sini.

Kata-kata berikut harus kami buat jadi sebuah sajak:

– baju kotor,
– mobil ambulans,
– karpet hijau,
– kaleng kosong,
– abu rokok,
– jam pasir.

ENGKAU DI ANTARA MOBIL AMBULANS DAN JAM PASIR

di antara mobil ambulans yang lesat di jalan raya dan jam pasir yang lambat di atas meja kaca, engkau mengenang suara langkah sepasang sepatunya di lantai berkarpet hijau, karpet yang benci abu rokok. jelas kau dengar langkah-langkah itu mencari pintu untuk keluar dari rumahmu, dari kamarmu, dari dirimu.

di antara mobil ambulans yang lesat di jalan raya, jam pasir yang lambat di atas meja kaca dan suara langkah sepasang sepatunya di lantai berkarpet hijau, engkau merasakan tubuhmu pelan-pelan berubah jadi kaleng kosong, kaleng yang dicintai hanya oleh sampah, genangan sisa hujan dan jentik-jentik penyakit.

di antara mobil ambulans yang lesat di jalan raya, jam pasir yang lambat di atas meja kaca, suara langkah sepatunya di lantai berkarpet hijau dan tubuhmu yang pelan-pelan berubah jadi kaleng kosong, engkau berdoa agar baju kotor yang membungkusmu terbelah punggungnya, jadi sayap dan mengangkatmu ke langit.

Tak puas. kami lanjutkan permainan. Tantangannya harus lebih.

Kata-kata berikut harus kami buat jadi sebuah sajak:

– majalah bekas,
– kamar pas,
– bulu ketiak,
– hari jumat,
– pemantik api,
– ibu hamil,
– gantungan kunci,
– kaki kuda.

KISAH SEDERHANA DARI SEBUAH MAJALAH BEKAS YANG ROBEK

Aku suka membaca kisah ini sebelum tidur:

Ia (tak disebutkan nama dan usianya) masuk ke supermarket yang baru sebulan buka, supermarket yang menggusur lapangan sepak bola di sebelah rumahnya. Hari itu, hari jumat, ia berulang tahun. Ia ingin menghabiskan sejumlah uang untuk membeli barang-barang kecil: silet untuk bulu ketiaknya, pemantik api untuk musim hujan dan gantungan kunci dari kuku kaki kuda untuk mengenang ayahnya.

Supermarket itu langit-langitnya dipenuhi cermin yang di dalamnya tubuh para pengunjung berubah jadi ganjil. Ia tertawa, tawanya yang pertama hari itu. Di sela-sela rak ia berjalan sambil mendongak membuatnya tersesat hingga ke bagian baju hamil. Untung tak ada ibu hamil yang belanja hari itu. Ia tertawa sekali lagi. Di ujung tawanya, tiba-tiba saja, ia mengingat pesan ibunya.

Hidup itu tak ubahnya toko pakaian. hari-hari hanyalah kamar pas. kau mencoba-coba baju atau celana hingga kau temukan yang kau rasa pas.

Hidup itu tak ubahnya toko pakaian. kau tak bisa tinggal di sana. seusai membayar pakaian yang kau suka, kau harus keluar.

Hari itu, ia batal membeli silet, pemantik api dan gantungan kunci. uangnya ia tukar dengan sehelai baju berwarna……

Aku suka membaca kisah ini sebelum tidur, kisah yang aku temukan di sebuah majalah bekas yang robek. aku suka menebak-nebak bagian yang hilang dari kisah itu.

One thought on “Bermain-main lagi

  1. jd ingat sewkt di UoW dulu, kau jg sring mengajak tmn2 mnulis dan mnemukan bhn tulisan dgn cr ini.pasti kau sdh jenuh dipanggil guru, lbh sk mjadi tmn mnulis.skrng tak ada lg tmn bermain kata, kecuali kamar kos dgn tumpukan buku yg ingin dibaca si empunya. si lelaki gunung pun tak lg memberi inspirasi utk mnulis puisi.main sendirian saja lah..salam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s