Review

Sebuah catatan: Perempuan, Rumah Kenangan

oleh Soeltrayani

Judul Buku: Perempuan, Rumah Kenangan
Penulis: M Aan Mansyur
Penerbit: InsistPress
Tebal: 186 halaman

Saya membeli buku ini di bulan Agustus, sepulang kerja di sebuah Toko Buku di Atrium, Senen. Tepatnya saya temukan di deretan buku-buku chicklit dan teenlit, sempat bingung juga ketika mencarinya, pasalnya setiap ke Toko Buku saya tak pernah menyentuh area buku-buku sejenis itu. Jenuh mencari di deretan fiksi-novel dan jam menunjukkan beberapa menit lagi toko akan tutup, berinisiatiflah saya ke penjaga Toko. Sebelumnya dua buah buku lain yg saya niatkan untuk dibeli sdh berhasil saya dapatkan, Jalan Raya Daendels-Pram dan Tuesday With Morrie-Mitch Albom. Akhirnya setelah saya tanyakan, Mbak penjaga toko menunjukkan arah tempatnya. Pergilah saya ke deretan fiksi mengikuti penjaga toko, lalu ke area khusus chicklit dan teenlit. Dengan sabar Mbaknya mencari, gotcha! Di deretan bagian paling bawah, tidak sulit memang karena desain sampulnya lain sendiri (hehehe…).

Membaca buku ini membuat saya cukup lama berpikir untuk mencerna setiap kalimat yang ada. Bukan! Bukan sulit untuk dicerna karena kata-katanya yang susah, tapi tiap kalimat dan ada beberapa yang sangat saya suka dituturkan secara sederhana namun dalam dan penuh makna. Sayang jika hanya dilewatkan begitu saja, bukankah pada suatu kata menyimpan makna?. Ini memperjelas bahwa si penulis memang seorang pencandu buku dan gemar membaca apapun tentang hidup. Dari prolog sudah terlihat:

”Aku tak akan pernah mau mencoba menipu kenangan dengan melupakannya, sebab kenangan punya banyak cara untuk menjerat lalu membunuh kita. Sesungguhnya manusia tak lebih dari seekor binatang bodoh dan lemah di hadapan kenangan. Hanya ada dua pilihan; menjadi jinak atau mati terjerat dalam sejenak.” (hal: 4)

”Hal-hal besar digerakkan oleh hal-hal kecil.” (hal: 6)

”Mati bukanlah sesuatu yang menakutkan bagiku, sudah sejak kecil aku bersahabat dengannya.”(hal: 7)

Atau di bab-bab lain:

”Hidup ini sungguh indah-meskipun kadang-kadang menyebalkan! Atau justru bagian yang menyebalkan itulah keindahan sejati?.” (hal: 170)

Menunjukkan kepiawaian seorang penulis yang juga penyair dalam mengolah kata dan menjiwai kisah itu. Dari yang pernah saya baca dan pahami, penulis tak sepenuhnya menulis secara objektif, itu pun berlaku bagi pembaca (hehe…). Jika saja saya tidak tahu sama sekali dengan sosok penulis ini, tentu saja saya akan menganggapnya langsung ini kisahnya. Nyata dan menjiwai. Seperti halnya Winnetou karya Karl May (maaf An, jika saya berlebihan).

Saya pun mengangguk-angguk ketika membaca buku ini, menandakan jika sepaham dengan setiap kata yang saya baca, tersenyum dan terdiam sejenak menertawai diri, seperti bercermin saja. Mengingat di buku ini pembahasan mengenai perempuan dengan sisi-sisi psikologis dan karakteristiknya dibahas dengan bahasa-bahasa sindiran maupun bahasa simbol, ini dapat dibaca pada bagian perkenalan dan hubungan-hubungan sang tokoh dengan beberapa perempuan. Terkadang juga tidak sepakat dengan menggelengkan kepala dan beradu argumen dalam hati(hal saya sukai dari aktivitas membaca, kita bisa menguasai apapun untuk menjadi diri kita, membuka ruang-ruang dialog dengan monolog). Buku ini membuat saya hanyut ke dalam setiap ceritanya dan tak mau membuat saya berhenti membacanya (seingat saya, waktu itu saya membacanya di angkot hingga sampai rumah dituntaskan). Sama halnya seperti waktu membaca karya Muhidin M Dahlan, Aku Buku dan Sepotong Sajak Cinta (kalau tak salah edisi baru judulnya beda, saya tak ingat). Gaya bertuturnya asyik! Tak bosan untuk dibaca berkali-kali.

Buku yang tak sekedar novel biasa, banyak gagasan dan harapan yang tertuang ingin disampaikan penulisnya. Hal yang lumrah pada sebuah karya. Tak sekedar menggambarkan kisah cinta yang menguras emosi pembaca, namun juga memberi wawasan dan kesadaran (tentang film, musik, buku dan perbukuan, kepenulisan, pendidikan dan banyak tentang hidup tentunya). Seorang tokoh laki-laki yang digambarkan memiliki cita-cita yang bagi sebagian orang di negeri ini mungkin ”aneh” alias tak lazim, menjadi penulis dan pemilik Rumah Baca untuk tujuan yang terkesan klise “mencerdaskan anak-anak bangsa”. Bergelut di bidang perbukuan dan kepenulisan, suatu hal yang langka. Yang saya tangkap dari buku ini, penulisnya berharap bisa menggugah kesadaran orang untuk membaca lalu menuliskannya. Hal ini bisa dibaca di beberapa halaman:

”Maka dengan menuliskannya ke dalam sebuah buku, aku berharap seluruh masa lalu itu berbaring di sana dengan damai dan menjadi tetap ada-mungkin sesekali akan menghantui tidurku, tetapi aku yakin akan membuatku tersenyum dan menangis bahagia berkali-kalidi saat-saat jaga. Sebab segala kata yang dituliskan adalah gudang yang menyimpan roh kita-membuat kita tetap hidup bahkan setelah kita mati.” (hal: 8)

”Bukankah benar bahwa satu-satunya hal yang tak akan pernah mati adalah buku?” (hal: 8)

” Kesedihan akan kuberikan kepada hal-hal lain saja. Air mataku akan aku hujankan buat perang yang tak henti-henti di seluruh penjuru bumi. Tangisku akan kuberikan untuk orang-orang yang tak mau membaca buku. Bukankah hal-hal seperti itu jauh lebih menyyedihkan?” (hal: 172)

Jika Hernowo menghasilkan karya itu dalam bentuk buku-buku How To, buku ini menyajikan hal-hal persuasif (mengajak) dalam bentuk nge-sastra dengan segala alasan dan pertimbangan kenapa kita harus membaca dan menulis. Cukup kaya akan sindiran-sindiran dan kritikan yang membangun semangat. Setiap bab selalu diawali quote-quote terkenal yang terkait dengan inti dari cerita bab itu.

Salah satu paragraf yang saya suka di dalam buku ini:

”Bagaimanapun sepi dan tidak bahagianya masa kecil, ia tetaplah sebuah karya sastra yang selalu menarik untuk dibuka dan dibaca, dibaca lagi. Uniknya setiap orang memiliki karya sastranya masing-masing dengan sangat khas. Disitulah letak berbagi dan menziarahi masa kanak-kanak kita.” (hal: 22).

Perempuan Rumah Kenangan, sebuah buku yang menggambarkan perempuan dengan kelemahannya yang menjadi kekuatannya. Saya jadi ingat sebuah kutipan entah dimana pernah dibaca, karena kesetiaannya itu perempuan dikatakan perempuan. Dan ingat bacaan di buku Quraish Shihab yang berjudul Perempuan, dikatakan ada seorang pakar psikologi yang berpendapat bahwa perempuan cinta penderitaan, berkorban karena teguh akan komitmen. Seperti halnya cerita dalam buku ini (Ibu si tokoh utama).

Rumah, bagi saya tempat yang nyaman dimana berkumpulnya keluarga inti sebagai ruh, taman yang asri sebagai nafas, ruangan perpustakaan pribadi dengan banyak buku yang beragam sebagai penyempurna diselingi diskusi-diskusi bebas penghuninya.

Rasanya lebih asyik membaca buku ini sambil mendengarkan musik-musik instrumen, Kenny G juga boleh. Atau… Coldplay, why not?.

Selamat membaca!!!

ps: An, cuma ini yang bisa saya tuliskan sebagai seorang amatiran /(^_^)\

One thought on “Review

  1. Yayayaya, buku ini impressif. Hadiah Aan buat my beloved wife ketika kami bertandang ke gudang ilmu Biblio, buku ini mengingatkan kita ttg makna sejatinya kehidupan yg direfleksikan melalui wajah dan raga perempuan…(i Nuntung, in Meulaboh http://daengnuntung.com )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s