Menelponlah, Kekasih!

O, Kekasihku, pergilah ke Jakarta atau ke tempat
paling jauh dari jangkauan mataku. Lalu berdiamlah
di ujung kabel telepon. Tekan angka-angka teleponku.
Bicaralah. Jangan pernah tamatkan pembicaraan kita.
Bicaralah terus. Tentang apa saja. Berpura-puralah
jadi perempuan paling jahat yang tak kenal tanda baca.
Marahilah saya karena lupa berdoa usai sembahyang,
karena tidak memotong kuku dan rambutku, karena
membeli novel yang salah, karena lupa di mana saya
letakkan album foto kita. Cerewetlah di dua telingaku.

Rumah biarlah kita bangun di dalam gagang telepon:
tempat paling aman dan nyaman saat ini untuk tinggal
tanpa diganggu kemacetan, klakson dan suara knalpot.

Saya mencintai suaramu. Saya mencintai kemarahanmu.
Kau mengungsikan saya dari seluruh macam kekesalan
kepada jalan raya yang menggusur badanku hingga kurus.

Ke dalam tidurku menelponlah. Ceritakan mimpi-mimpi
tentang apa saja. Tentang desa paling dicintai kemarau,
tentang bangkai para pahlawan, tentang gunung meledak,
atau bom pecah membuat kita berdarah sambil berpelukan.
Pemerintah sedang mengincar lahan tidurku yang lapang.
Mereka punya rencana jahat membangun supermarket,
hotel, dan tempat parkir di sana. Menelponlah, Sayang!

Kekasihku, jika kau masih mencintaiku, habiskan tabunganmu
buat bayar pulsa. Jangan berhenti atau kau akan menemukan
tubuhku hanya kenangan yang tak bisa kau ziarahi nisannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s