tiga sajak dari tiga kawan

Hari ini aku dihujani sajak dari kawan-kawanku–semuanya tentang hujan. Selepas membaca ‘Sajak Terakhir tentang Hujan’ yang aku tulis, mungkin, mereka menuliskan sajaknya masing-masing. Ada apa coba? Mau ikut menikmati sajak mereka? Silakan! Siapa tahu mau menulis sajak lain buat saya.

Ini dia sajak mereka itu:

sajak al-Muzzammil
HUJAN ITU DATANG SAMBIL MENANGIS

:MAM

duduk di sini adalah sebuah pengalaman teramat puitis
bukan karena hujan itu datang sambil menangis
tetapi karena dua sebab berikut ini,

sebab pertama: malam yang kemarin seperti mata polantas
kebingungan melihat jalanan macet total
saat ini seperti jari-jemari perempuan cantik berwajah nakal

sebab kedua: dinding-dinding menyanyikan lagu-lagu jepang
nyanyian kanak-kanak yang riang
melodis, sesekali melodramatis

adapun hujan yang datang sambil menangis itu
datang mencarimu sehabis membuat kolam di halaman

“langsung saja,” kataku
“naiklah ke lantai dua. sebelah kiri, di kamar paling kiri.
mungkin dia sedang menulis surat cinta terakhir
sekaligus puisi perpisahan untukmu.”

“separah itukah?” tanyanya
aku jawab dengan sebuah barangkali

dan seperti kau tahu, dia tak ke lantai dua menemuimu
menyangka aku seorang penyimak cerita yang baik,
diceritakannya banyak hal tentangmu
cukup banyak sampai aku lupa seperti apa detilnya
kecuali kalimat tak puitis menggelikan seperti ini:
“dia cinta pertamaku, sekaligus terakhir.”
(aduh, hujan kekasihmu ini masih remaja rupanya)

pengalaman ini sungguh puitis. lebih puitis tatkala
dia pamit pulang sesudah kuakhiri ceritanya dengan:
“baiklah, nanti akan kusampaikan padanya,” sambil
menyesali waktuku yang terbuang percuma
(30 menit untuk mendengarkannya bercerita,
50 menit untuk mendengarnya menangis)
sudahlah, barangkali dia memang butuh itu

“kau tak mau menemuinya?”

“entahlah, lebih baik kutunggu saja puisinya besok pagi.”

kau tahu, tanpa hujan yang datang sambil menangis
pengalaman duduk di sini bagiku mungkin akan sangat-sangat puitis
tak kusebut romantis karena pasti kau berkata tak suka
sambil tersenyum sinis dan meringis

makassar, november 07

sajak nurhady sirimorok

SUATU SORE SEHABIS HUJAN

–aan

ia terjaga di satu sore sehabis badai hujan

saat rumput belum lagi sanggup mematut diri
tanah masih bekerja keras mengisap genangan
dan pintu jendela masih terkatup rapat

atas alasan yang hingga hari ini belum diketahui orang

selimut ia singkap hingga menggelepar di lantai
lalu berjalan ke dinding tua yang berhias pigura
barisan kayu pipih itu ia kuak dengan sekali hentak

ia pun melompat tanpa ampun ke luar sana

ke sebuah pemandangan yang tadinya hanya lukisan

den haag, 7/11/07

sajak kamaruddin azis

GERIMIS MENCARI PETIR

–aan “on the stage”

sering, testimonimu di setiap membaca mentari, mengapa tiada terik perih di matamu di setiap senja nan letih berguyur titikan gerimis, engkau tak terlihat mengerang rindu tapi di hari ini, sore tadi, di suatu sudut ulhee lheu engkau bersimbah keringat, tersengal lunglai, memandang laut sabang di pendaran halaman samudera hindia

engkau bertutur seperti kerasukan cerita mistik sejarah kuno, katamu, hati tiba-tiba kalap, hendak berpeluk angin sepoi bawakaraeng, lalu berdiri di gerimis sembari mencari petir

banda aceh, 7 Nov 07

Iklan

One thought on “tiga sajak dari tiga kawan

  1. Subahanallah!Andaikan saya juga bisa seperti Anda2, Wahai Sang Penyair, bisa bermain2 dengan puisi, alangkah indahnya duniaku!Untuk K’Ady: Maaf, Kakak! Ceritanya belum jadi. Selama belum lebaran berikutnya, berarti Lina belum mengingkari janji kan, Kakak?Hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s