Di Awal Musim Penghujan

Telah sampai di halamanmu langit mengulur hujan:
berjuta-juta utas kabel tipis yang mengantar kembali
semua berita-cerita-derita yang pernah kau makamkan
sebagai kenangan di musim kemarau kemarin.

“Musim hujan selalu saja kembali seperti ini
membuat subur yang mendengkur di liang kubur.
Musim hujan itu kesedihan yang berkembang biak
beranak pinak kesedihan lain yang lebih banyak,” katamu.

Musim hujan bukanlah kesedihan itu sebenarnya.
Ia adalah keriangan yang merindukan kesedihan.
Sebab anak yang lahir dari pernikahan kesedihan
dan keriangan adalah puisi. Puisi paling puisi.

Pernahkah kau menyaksikan rimbun embun puisi
di bening kaca jendelamu ketika gelak anak-anak
mandi di selokan menyapamu yang sedang terisak?

Selamat pagi, aku sedang ingin berbagi!

Kau dengar itu? Bukalah pintumu!
Jamu musim hujan sebagai tamu.
Ia datang mencari kesedihan di matamu
demi bebaris puisi yang selalu kau sebut tangis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s