Guru Puisi Hasan Aspahani:
Mengajak dan Mengajar Berpuisi dari Blog hingga ke Buku

PARA BLOGGER Indonesia, khususnya yang menyenangi puisi nyaris bisa dipastikan mengenal dan pernah mengunjungi halaman sejuta-puisi.blogspot.com. Sebagai seorang blogger saya pun tentu sangat mengenalnya. Saban pagi saya datang bertamu di blog itu–meski belum pernah sekalipun bertatap paras dengan pemiliknya secara langsung. Tak puas membaca blognya, saya mengajaknya berbincang di Yahoo Messenger di sore hari atau mengikuti kuliahnya di berbagai mailing list sastra. Di malam hari saya menulis puisi agar di halaman blogku ada yang bisa ia baca dan komentari esok harinya. Pemilik blog sejuta-puisi itu adalah seorang penyair bernama Hasan Aspahani: guru para pelajar puisi di dunia internet Indonesia.

Hasan Aspahani, penyair yang lahir di Sei Raden, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kaltim, 1971 adalah guru yang tekun belajar dan mengajar puisi. Ketika saya tanya mengapa ia begitu tekun menekuri puisi, ia menjawab dengan sangat sederhana: saya mencintainya. Membaca blognya saya serta-merta percaya pada kalimat-dua-kata itu. Hasan mencintai puisi sedemikian intimnya. Ia merenungi puisi dan membagi renungannya (dan hasil percakapannya dengan puisi) kepada tetamu yang datang bertandang ke blognya lewat semacam rubrik yang dinamakannya sebagai Ruang Renung.

Tak puas hanya dengan merenungi, ia bersurat-surat dengan puisi. Bacalah serial Surat untuk Sajak yang dengan murah hati dipajangnya tanpa perlu membelinya di blog Hasan. Bukan itu saja, sebab Hasan adalah pecinta yang buas, ia tak pernah puas, ia ingin merenangi seluruh laut-puisi yang luas. Hasan ingin memahami bahasa-puisi. Lalu ia pun menuliskan serial Esai 11 Alinea, esai memikat yang selalu berjumlah 11 paragraf tentang bahasa puisi.

Jangan dikira hanya sampai di situ energi cinta Hasan pada puisi! Ia memiliki energi yang tak pernah habis. Ia pecinta yang tak mau mengalah, tak mau lelah. Ia ingin menunjukkan bahwa cintanya melebihi cinta yang pernah ditunjukkan penyair mana pun di dunia ini. Maka ia menerjemahkan sajak-sajak asing. Di blognya, saya bertemu dengan Pablo Neruda, Emily Dickinson, Ezra Pound, Robert Frost, Wirslawa Simborzka, Octavio Paz, Li Po, Maria Rilke dan banyak penyair ulung lainnya. Mereka semuanya bicara dalam bahasa Indonesia karena Hasan. Gilanya, Hasan tak hanya menerjemahkan puisi mereka. Ia juga mengisahkan proses kereatif para pecinta puisi itu. Ia dongengkan kepada muridnya tentang cerita-cerita sampai yang paling personal dari para pecinta puisi itu.

Dan Hasan bukanlah pecinta yang egois. Bukan sama sekali! Ia tak pernah berhenti mengajak semua orang merasakan nikmatnya mencintai puisi. Jika ada yang tak tahu bagaimana cara menikmatinya, dengan sabar ia mengajarinya. Dibangunnya pula sebuah sekolah puisi: Sekolah Puisi Grammata. Di sana betul-betul ia guru puisi teladan! Lewat alamat surat elektroniknya ia melayani semua yang mau belajar. Di Yahoo Messenger ia juga melakukannya.

Selesaikah? Tidak. Hasan tak mau selesai. Baginya, perjalanan mencintai puisi adalah perjalanan yang tak pernah sampai. Ia juga membaca semua puisi pecinta puisi lainnya. Ia buat sebuah acara khusus untuk menghormati puisi-puisi orang lain. Ia rutin melakukan Tadarus Puisi. Ia tak pilah-pilih penyair, meskipun tentu saja ia pilih-pilah puisi. Puisi yang baginya memikat ia kaji, ia bertadarus. Puisi yang ia baca dari blog, dari koran minggu atau kumpulan puisi ia baca semuanya. Ia kaji yang ia suka lalu ia bagi kepada tamunya. Buku-buku puisi yang baru terbit tak luput pula ia kaji, ia resensi. Ia katakan yang ia tak suka, ia katakan yang ia suka. Berbagai judul buku puisi sudah ia resensi di blognya. Bacalah, siapa tahu salah satunya adalah bukumu!

Hasan memang sungguh-sungguh mencengangkan. Ia tak mau berhenti mencintai puisi. Ia tak mau berhenti bahkan jika semua orang pun mencintai puisi. Ia pelajari seluruh perihal tentang puisi. Ia ulas satu per satu majas yang digunakan dalam puisi. Ia ceritakan kata per kata istilah-istilah puisi. Ia bagi semua yang pernah ia baca tentang puisi, dari koran, dari buku, dari perbincangannya dengan penyair, dari halaman situs asing, atau dari mana pun. Bahkan tanpa perlu dipilih sebagai anggota dewan ia buat Rancangan Undang-undang Perpuisian Indonesia. Ah, gila!

Dan yang paling dahsyat adalah dia juga menulis puisi di sela-sela seluruh aktifitas belajar dan mengajarnya itu–juga pekerjaan lainnya sebagai wartawan, kartunis yang sedang belajar melukis, suami dan ayah. Sangat masuk akal jika ia menamai blognya sejuta-puisi, sebab tak bisa lagi saya hitung berapa jumlah puisi yang pernah saya baca di sana sejak pertama kali Hasan mengisinya tanggal 18 Desember 2002. Tak salah kalau Hasan kemudian dinobatkan sebagai penyair terbaik Cybersastra 2001 – 2006.

TAK SEMUA orang masuk ke dalam internet. Tak semua orang bisa bertamu ke sejuta-puisi. maka Hasan pun ada di halaman-halaman media cetak. Puisi-puisinya ia kirim ke redaktur-redaktur seni-budaya. Dan di hari Minggu pagi kita bisa membacanya sambil menghirup kopi hangat. Para penikmat koran Minggu tentu tak lagi asing pada nama Hasan Aspahani. Sering sekali ia ada di sana.

Bukan hanya di koran Minggu tentu saja. Ia juga menghadiri undangan baca puisi di mana-mana. Ia pembaca sajak yang baik, kata orang-orang yang pernah mendengarnya. Sayang sekali saya belum pernah datang di depan panggung di mana ia baca puisi. Di lomba-lomba menulis puisi, lagi-lagi namanya sering disebut sebagai pemenang. Sungguh pecinta puisi yang tak mau kalah! Keras kepala. Ia betul-betul sudah membuktikan dirinya sebagai pecinta puisi itu.

Setelah Hasan meraih semua itu, jangan kira ia tak lagi mau mengajar puisi. Ia guru puisi yang sangat mencintai profesinya–tak pernah mogok mengajar meskipun tak bergaji. Ia kini menerbitkan bukunya: buku puisinya dan buku ajar puisinya. Sebentar lagi semua orang bisa belajar puisi bukan hanya di blog Hasan tetapi lewat bukunya, Menapak Ke Puncak Sajak. Sebentar lagi puisi-puisinya tidak hanya bisa dinikmati di sejuta-puisi dan lembar-lembar koran Minggu tetapi lewat bukunya, Bibirku Bersujud di Bibirmu. Selamat, Pak Guru!

Makassar (sedang hujan), 2 November 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s