Mengejar Kaki-Kaki Kota

Presiden mengubah sepuluh angka kalender
yang berwarna hitam menjadi warna merah.
Dia paham orang-orang kelelahan mengejar
kaki-kaki kota yang larinya semakin laju.

“Pulanglah ke desa berehat panjang,” katanya.

Dan kita pulang ke desa membawa semua isi
supermarket sebagai oleh-oleh, seolah-olah
rindu bisa diobati dengan barang-barang itu.

Di desa kita beli sawah, ladang dan gunung.
Kalau pensiun nanti kita rencana membangun
sebuah kota yang jauh lebih ramai di sana.

Setelah kalender kembali hitam, dengan geram
kita kembali ke kantor mengejar kota membawa
tumpukan kerja yang membosankan di punggung.

Tapi, ah, sudah terlalu jauh kota meninggalkan kita!
Maka sebaiknya kita tak boleh tidur. Kita hanya
boleh bermimpi presiden yang baru punya kalender
yang memiliki lebih banyak angka berwarna merah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s