pagi ini

PAGI ini aku terbangun persis di tempat aku tertidur semalam
tapi langit-langit dan dinding kamarku sudah hilang dari tempatnya.
Kepalaku besar dan berat sekali dipenuhi segala macam peristiwa
bahkan yang sama sekali tak pernah aku alami sebelumnya. Mereka
didatangkan dari negeri-negeri yang asing, dari ingatan orang lain.
Peristiwa-peristiwa itu dimasukkan oleh seorang pengantar mimpi
yang menemukan kepala orang lain tak satu pun terbuka. Apakah
dia berpikir kepalaku adalah kotak surat atau mengira aku seorang
yang bisa mengubah peristiwa menjadi berita untuk koran harian?

Pagi ini jalanan dipenuhi pejalan kaki yang datang entah dari mana.
Ramai sekali. Tidak aku temukan seorang pun yang namanya pernah
aku catat di buku teleponku. Semua orang adalah orang lain. Mereka
berjalan dengan sangat ringan seperti topi diterbangkan angin pantai.
Tetapi kakiku selalu menemukan paku di setiap langkah yang mampu
diciptakannya. Dan kepalaku alangkah susah dipalingkan ke sebelah
kiri atau ke kanan. Aku dengar peristiwa-peristiwa itu ribut berkelahi
persis penonton sepakbola dari kubu-kubu yang saling mendendam.
Tapi peristiwa-peristiwa itu tak menyadari diri mereka sebenarnya
kumpulan ingatan yang salah alamat sampai, ingatan yang tersesat.

Pagi ini susah payah aku mencari satu rumah makan yang pintunya
tak dipalang buat sarapan dua irisan roti mentega dan secangkir kopi.
Tapi akhirnya aku menemukan sebuah tempat lengang yang di daftar
menunya menyebut banyak nama makanan tradisional tetapi hanya
menyediakan mi instan buatan pabrik luar negeri.Tak apalah, kataku
kepada pelayan yang belepotan memakai bahasa daerahnya sendiri.
Sepuluh menit menunggu sarapan bagai berabad diasingkan penjajah.
Sialan! Peristiwa-peristiwa di kepalaku terus berteriak-teriak bercacian.
Aku habiskan mi instan rebus yang mengingatkanku pada rambut api
seorang pahlawan dari film kartun dengan berkali-kali bersin di selanya.

Pagi ini aku mencari sebuah kamar mandi buat buang air dan melepas
kepala yang semakin kembung. Tetapi di sisi-sisi jalan melulu cuma mall
yang tak menyiapkan toilet. Aku amat kelelahan. Aku berhenti di halte
yang dipenuhi penunggu. Tetapi tak ada satu pun kendaraan melintas.
Aku kelelahan membawa ginjal dan lambung yang mau buang air. Aku
kelelahan membawa kepala yang ribut. Aku mulai kelelahan menunggu.

Pagi ini aku memutuskan pura-pura jadi orang gila dan tidur di trotoar.
Aku biarkan kepalaku diinjak-injak pejalan kaki yang ringan bagai topi.
Aku biarkan kepalaku pecah bagai telur yang hendak dibuat jadi omlet.
Aku biarkan peristiwa-persitiwa meleleh ke jalan dan melengket pada sol
sepatu orang-orang. Aku terpingkal-pingkal agar sekalian bisa buang air.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s