Telur Dadar

aku sungguh-sungguh lapar

dari bingkai jendela kamar
matahari sore terlihat persis telur dadar
matang sempurna dan besar-lebar

tetapi telur dadar itu sudah terbagi-bagi
dipotong oleh antena-antena tivi tetangga
oleh kabel-kabel listrik dan telepon
dan tak ada sedikit pun untuk perutku

aku berusaha menahan airmata tak jatuh
teringat lagi telur dadar ibu
dulu aku selalu dapat satu, utuh
seperti cintanya pada kanak-kanakku

dengan liur leleh tak lelah
kutatap tanpa kedip telur dadar itu
namun beberapa detik saja kemudian
ia telah lenyap disantaplahap
oleh siapa aku tak tahu
dan lalu tinggallah langit
seperti piring kotor belum dicuci

sebentar jika gelap melingkup alam
lampu malam satu per satu padam
aku merangkak ke luar kamar
diam-diam menjilat piring langit
sebelum dibersihkan hujan atau embun
sekedar menghibur perut lapar
lalu tidur memimpikan telur dadar

2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s