Sajak Saat Hujan

jika saja waktu dan kenangan adalah layang-layang
sudah kugulung benang-benangnya dan kugunting
bagian yang tak kuingin.

hari itu hujan curah tak begitu deras namun lama,
kaca jendela berembun hingga tak perlu juntai tirai
sebagai selubung, tak akan ada orang yang melihat kita, bisikmu
lalu kau buka kancing-kancing baju dengan tangan gemetar
memperlihatkan kerumunan tahi lalat yang kau rahasiakan
di sisi kiri payudaramu yang perawan menawan
kau tuntun tanganku menghitungnya satu per satu
tetapi aku gagal menyebut jumlah.

setiap hujan seperti ini, aku berkeringat teringat
hangat tubuhmu, dan meski kukatup mata sepenuh tutup
sedikitpun tak ada yang terlupa, seluruh benar-jelas-selalu

tahi lalat yang tak pernah kutahu jumlahnya itu
kini menjelma jutaan belatung yang tak kenal kenyang
dan usiaku adalah bangkai-bangkai kucing dan anjing

jika saja waktu dan kenangan adalah layang-layang,
di saat-saat hujan begini, sudah ada seorang lain perempuan
yang pahanya jadi bantal dan tangannya mencabut
uban-uban di ubun-ubunku.

2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s