Petir

apakah kau dengar
petir dari balik bilik
dadaku bergetar getir

kau angka kalender
itu-itu saja
seperti seorang raja
menunggu tiba kudeta

sia-sialah segala suara kulontar
seperti kerontang belukar
menunggu bakar

aku belum bertemu putus asa
meski mata berkali-kali basah

biarlah segala yang di luar
adalah negeri asing yang bingar
namun suaraku jadikan paling dengar

sebab aku tak perlu
bertanya sesering ini
bahwa temali
takdirnya lepas dari simpul

biarlah kelopak kembang
memilih dongeng sendiri
seperti sisir dedaunan pisang
pada rambut angin
seperti tumpukan gelisah
pada ceruk asbak

tetapi kau,
tiada memiliki telinga

2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s