Hujan Pagi

hujan hijau
bertunas-tumbuh
sehabis subuh

di beranda aku jadi penonton
mereka jadi ranting lalu berbunga
aku membayangkan kau tiba
kuyup menyusup
mencari hangat matahari
ke dalam ringkih rengkuhku

satu-dua buah jatuh dipetik
lentik jari-jari angin
aku pungut
mengupas dan mengunyahnya
kecut
seperti suara sol sepatumu
menjauh dari pipih pintu

sambil berlari-lari dalam kota
dari bangunan berita koran
aku merangkai-rangkai cerita sendiri
sebuah hutan tumbuh di halaman
entah di mana diletakkan tepian
aku sesat di tengah-tengah sendirian

kuhirup kopi sebelum berlalu dingin
kau tahu, kopi itu kuseduh
sambil tersedu-sedu
sebab alangkah sendu
bunyi sendok dan gelas beradu

tunas hijau hujan mulai berdaun lebat
aku melihat wajahmu sekelebat
lalu lesat
ke arah tak kuingat

pagi itu
jarum jam menjauh
di beranda aku beku
di manakah kau?

2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s