Di Gunung Pasir

:hah

Menuju Kota Kutai, aku mampir di Gunung Pasir
di sebuah warung menggantung di tubuh tebing
istirahat minum secangkir teh hangat
sambil menyaksikan matahari pucat
jatuh ke sela-sela bukit kerontang
dan hampar lautan subur ditumbuhi kilang

Aku teringat kawan, seorang penyair
di sinilah ia lahir
lalu menyingkir karena terusir
oleh lelaki-lelaki kuat
mengangkat kayu gelondong
dan minyak bertong-tong

Sesaat setelah magrib dinyalakan
lelampu tiba-tiba saja padam
Dari mesjid azan terpenggal
serupa suara seru tak dihafal
Perempuan dari balik bilik kasir
aku dengar berkata nyinyir,

“Ladang minyak, ladang minyak,
lampu padam tiap malam.”

Di Gunung Pasir,
aku teringat seorang penyair
yang belusuka menulis syair sarat sindir

2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s