Di Dadanya Kamar Tidurku

perempuan itu
di dadanya kamar tidurku;
kasur seempuk peluk
selimut selembut kabut
di sana ia pejamkan keteganganku
dengan ninabobo semerdu doa ibu
juga ia tiupkan sebuah mimpi
tentang taman tanpa buah terlarang
dan ular mendesis
kecuali tangis
bayi yang renyah

sementara aku tertidur, ia pelan berjalan
ke padang tempat ksatria berperang
ia terkesima keperkasaan kuda mereka
dan tangannya cedera oleh pedang
ia menangis terisak, terguncang-guncang
membangunkan aku tiba-tiba
ia merajuk minta direngkuh
hingga benang-benang hujan reda
dan matanya tinggal genangan bening
dua telaga yang menghapus semua dahaga

lalu ia tuntun aku kembali ke tempat tidur
melelapkan aku dengan dongeng
tentang sepasang kekasih
mati dan menjelma bunga selasih
juga, sekali lagi, mimpi
tentang bayi yang menangis

namun saat aku lelap
dalam senyap ia melayap
ke hutan mencari pemburu
mengagumi busur dan anak panah
menggores keningnya dan berdarah
ia terisak, terguncang membangunkan aku
lalu minta cinta berdekap-dekap

lalu aku tertidur
lalu ia melanglang ke gunung, ke laut,
ke kota, ke mana-mana,
di luar tidurku

lalu ia menangis terguncang
lalu aku terbangun dari mimpi
yang tak pernah sampai

lalu aku lelap
lau ia mengendap-endap
lalu ia menangis
lalu aku redakan tangis

lalu di mana bayi yang menangis?

permainan cinta dan rasa sakit
berganti-ganti seperti siklus musim
hingga tak lagi mampu aku pahami
mengapa aku putuskan tetap terlelap
di dadanya dan terkesiap setiap ia meratap

perempuan itu,
sungguhkah aku mencintainya
atau mencintai rasa sakit mencintainya?

2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s