perempuan, rumah kenangan

Membaca novel ini tidak bisa membuat saya berhenti. Serius. Padahal hari itu saya lelah sekali. Ian, si aku, berhasil membuatku terjaga di hari yang sumpek itu. Ian yang cinta hujan, cinta buku, cinta perempuan, sangat membenci laki-laki dan menyesali diri terlahir sebagai seorang laki-laki. Yang pada usia 43 tahun telah berhasil mewujudkan mimpinya tentang Rumah Buku untuk para pecandu buku di Makassar dan mengungkapkan seluruh rahasia tentang perempuan-perempuan yang lalu lalang dalam hidupnya. Walaupun akhirnya hanya satu perempuan saja yang terus terpatri yang kemudian membuatnya tidak akan menikah, perempuan yang namanya tidak boleh disebut. Seperti Voldemort di kisah-kisah Harry Potter.

Bagian-bagian terfavorit yang membuatku tersenyum adalah:

Perempuan itu seperti anak kecil, senang mengatakan tidak; sementara laki-laki seperti seorang anak kecil yang idiot, menanggapi penolakan perempuan dengan sangat serius (hal.80)

Aku hanya berbagi rahasia dengan Tuhan – sahabat paling baik yang menyediakan telinganya dan tidak membiarkan bibirnya bocor lalu menceritakan kepada siapa-siapa (hal.155)

[Ocha, selengkapnya baca di sini]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s