Sajak-sajak yang Tidak Berutang


oleh Hasan Aspahani

metamorfosa bibirmu dan telingaku

Di bibirmu dulu mekar bunga belukar dan rumput liar,
oleh bisikanmu, daun telingaku menjelma kupu-kupu.

Kini engkau pandai mengubah diri jadi orang lain,
mencium, memagut dan berbisik dengan bibir asing,
bibir yang ditumbuhi buku psikologi, layar televisi,
dan kutipan-kutipan yang penuh kosakata ayah-ibumu.

Maka untuk bibirmu kukutuk telingaku jadi kepompong,
menunggu lagi belukar dan rumput-rumput liar itu mekar,
yang dari dadamu sendiri seluruhnya berhulu dan berakar.

AAN M Mansyur – salah seorang dari penyair mutakhir yang saya sukai – amat pandai menjaga keutuhan sajak-sajaknya, seraya itu menebarkan kompleksitas di sekujur sajak itu. Hal itu ia pertontonkan terutama sajak-sajak yang saya sukai. Termasuk sajak yang hendak kita bahas kali ini. Saya menyebutnya sajak yang tidak berutang. Tapi bukan berarti urusan beres setelah pembacaan selesai. Sajak di atas sekilas saya tangkap hanya menyajikan tiga tiga hal.

Pertama, imaji-imaji lewat kelomppok kata yang berkolokasi dengan bibir. Ia hadirkan bibir itu sendiri, bisikan, telinga, mencium, memagut. Lantas ia bancuh dengan kelompok kata kedua yang mempermanaikan imaji-imaji hutan liar. Ia hadirkan bunga belukar, rumput liar, kupu-kupu, kepompong, belukar, mekar, berhulu, berakar.

Dan kelompok kata ketiga yang tidak berkolokasi apa-apa, tapi ketika berhadapan-hadapan dengan dua kelompok sebelumnya maka merkea membuat sajak ini menjadi kompleks: asing, buku psikologi, layar televisi, kosa kata ayah-ibumu.

Kata-kata itu bergerak, digerakkan, menggerak-gerakkan bermacam gambar. Sajak menjadi seperti layar teater. Ibarat film, plotnya tidak linier, dan asyiknya memang di situ. Ada adegan daun telinga yang menjadi kupu-kupu setelah bibir itu membisikkan sesuatu di bait pertama. Ini bermakna apa? Saya memaknainya, bisikan itu adalah semacam janji yang membahagiakan. Kupu-kupu menjadi metafora yang pas. Lantas, di bait terakhir, bait ketiga itu, adegan itu disambung dan diselesaikan dengan kutukan terhadap telinga itu menjadi kepompong saja. Bukan kupu-kupu.

Artinya? Si aku masih berharap ada bisikan dari bibir itu yang bisa membuat telinganya menjadi kupu-kupu. Inilah isi dari plot seluruh sajak ini: Harapan itu masih ada, meskipun terasa harapan itu sebagai siksa yang pedih. Dan Aan M Mansyur menuntaskan tugasnya sebagai penyair dengan sangat baik. Ia mengolah apa yang disediakan bahasa. Ia memilih kata, ia mambangun imaji, dan ia dengan tertib menyerasikan perasaannya ke dalam sajaknya itu.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s