Genangan Kenangan

Genangan Kenangan

:dari sebuah novel yang segera terbit


Halaman 4


AKU tak akan pernah mau menipu kenangan dengan melupakannya. Kenangan punya banyak cara untuk menjerat lalu membunuh kita. Sesungguhnya kita tak lebih sepasang binatang bodoh dan lemah di hadapan kenangan.

Hanya ada dua pilihan: menjadi jinak atau mati terjerat dalam sejenak. Kau memilih melawan kenangan, yang artinya tinggal menanti saatnya tiba mati terjerat. Aku memilih menjadi jinak, menjadi binatang piaraan kenangan.

Halaman 65


AWALNYA sangat sederhana, hanya bukit dengan hijau rumputnya. Lalu kita tiba pada pertanyaan: bangunan apa sebagai tanda?

Cinta, katamu, adalah hiruk-pikuk kota. Lalu kau dirikan restoran dan kafe dengan musik berbahasa asing, bioskop dengan film-film Eropa dan Amerika, mal dengan etalase-etalase yang mengeringkan kantong, dan hotel yang kasurnya membuatmu tak pernah lelah bercinta.

Tetapi aku lebih suka cinta itu dalam dan sepi, maka kugali sebuah perigi di kaki bukit yang meluruhkan gerah, yang membasahi dahaga, dan membuat rumput berbunga

Awalnya sangat sederhana, hanya bukit dengan riang ternaknya.

Tetapi seperti yang kuduga, riuh kota akan membuatmu jengah dan lelah. Dan kau runtuhkan semua yang berdiri—semua yang kau bangun sendiri. Lalu pergi mencari tanah bukit yang lain, melupakan cinta dan aku yang tak mengerti.

Sementara perigi tak bisa dipindahkan. Ia akan abadi meski kota mati berkali-kali. Di sana, aku terkurung di dasarnya. Air mataku jadi mata airnya.

Halaman 92


HARI-HARI itu seperti hujan, menebar wangi tanah basah sejenak. Lalu dingin. Lalu asing. Tak perlu terlalu khawatir pada perihal-perihal kecil yang akan membuatmu menyesal. Sudah kuhabiskan tabungan membeli baju penghangat, kopi pahit dan buku-buku puisi. Masukkan hari-hari itu ke dalam koper atau lipat rapi di diari juga foto-foto di ruang tengah dan di atas meja riasmu.

Pergilah, pergilah! Kau boleh menoleh, jendela tak kukancing. Kau bisa melihat tubuhku mengecil sebelum kau pelan-pelan ditelan tikungan jalan.

Halaman 174


SIANG ini, jalan-jalan lengang. Matahari bersinar dengan cerlang tetapi langit tetap menjatuhkan hujan. Mereka bersaing ingin saling mengalahkan, tak ada yang mau diam.

Aku mengingat suatu siang, sebuah pertengkaran. Aku marah, merah seperti matahari. Kau menangis, deras seperti hujan. Kita bersaing ingin saling menyalahkan, tak ada yang mau diam.

Lalu kau berlari ke arah kanan. Aku berbalik ke lain jalan. Kemudian hanya ada lengang, lengang yang panjang.

Halaman 217

EMPAT tembok yang berdiri mengepung seperti ditumpahi tinta atau cat hitam. Lampu pijar matahari kecil itu, yang lebih senang kau sebut bintang, tak lagi kulihat bergantung di langit kamar.

Inilah yang kuminta di setiap doa: kamar gelap dan kau bisa kubayangkan datang dan telentang di sisiku. Mengeluhkan haidmu telat seminggu, sedikit perih di sekitar payudaramu, atau sekadar memintaku mengelus rambut atau punggungmu.

Inilah yang kutunggu di setiap malam: alam kelam dan aku bisa menangis sambil mengulang-ulang namamu tanpa seorang melihat mataku basah.

Di saat yang sama, biar kutebak, apa yang sedang kau lakukan. Kau menyalakan sebatang lilin dan membaca ulang puisi yang kuselip di saku jaket biru tuamu, sesaat sebelum tangan kita saling melepas. Kau sesekali menggigit bibir dan mendongak menahan tangis. Atau kau sedang khusyu berdoa agar lelampu segera kembali bercahaya. Sebab kau tak mampu menahan kenangan yang melayang-layang ingin membawamu terbang. Pulang.

Halaman 237


JIKA saja waktu dan kenangan adalah layang-layang, sudah kugulung benang-benangnya dan kugunting bagian yang tak kuingin.

Hari itu, hujan curah tak begitu deras namun lama. Kaca jendela berembun hingga tak perlu juntai tirai sebagai selubung. Tak akan ada orang yang melihat kita, bisikmu. Lalu kau buka kancing-kancing baju dengan tangan gemetar, memperlihatkan kerumunan tahi lalat yang kau rahasiakan di sisi kiri payudaramu yang perawan menawan. Kau tuntun tanganku menghitungnya satu per satu. Tetapi aku gagal menyebut jumlah.

Setiap hujan seperti ini, aku berkeringat teringat hangat tubuhmu, dan meski kukatup mata sepenuh tutup, sedikitpun tak ada yang terlupa. Seluruh benar-jelas selalu.

Tahi lalat yang tak pernah kutahu jumlahnya itu, kini menjelma jutaan belatung yang tak kenal kenyang dan usiaku adalah bangkai-bangkai kucing dan anjing.

Jika saja waktu dan kenangan adalah layang-layang. Di saat-saat hujan begini, sudah ada seorang lain perempuan yang pahanya jadi bantal dan tangannya mencabut uban-uban di ubun-ubunku.

Halaman 296


“APA yang paling kau suka dariku?”

Pertanyaan itu paling sering kau ajukan. Meski sudah tahu jawabannya, kau merajuk manja jika aku tak mengatakannya.

“Deretan gigimu, saat kau tersenyum!”

Lalu kau, dengan malu-malu, tersenyum, dan setelahnya menawarkan ciuman—jika kebetulan tak ada orang yang melihat. Sebagai semacam hadiah atau ucapan terima kasih.

Walau waktu telah jauh, juga kau, rapat rapi geligi itu adalah penjara dengan jeruji yang terlalu kuat bagi jemari. Aku tak bisa meloloskan diri.

Makassar, 2006

—-
Catatan: Novel yang dimaksud adalah Perempuan, Rumah Kenangan [InsistPress, 2007]. Kalau nanti beredar dan ketemu di toko buku, beli ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s