PETIR

apakah kau dengar

petir dari balik bilik

dadaku bergetar getir

ah, kau angka kalender

itu-itu saja

seperti seorang raja

menunggu tiba kudeta

sia-sialah segala suara kulontar

seperti kerontang belukar

menunggu bakar


aku belum bertemu putus asa

meski mata berkali-kali basah

biarlah segala yang di luar

adalah negeri asing yang bingar

namun suaraku jadikan paling dengar

sebab aku tak perlu

bertanya sesering ini

bahwa temali

takdirnya lepas dari simpul


biarlah kelopak kembang

memilih dongeng sendiri

seperti sisir dedaun pisang

pada rambut angin

seperti tumpukan gelisah

pada ceruk asbak

tetapi kau,

tiada memiliki telinga

Makassar

HUJAN PAGI


hujan warna hijau

tumbuh dipagari pagi

di beranda aku jadi penonton

mereka jadi ranting lalu berbunga

dan membayangkan kau kuyup menyusup

mencari hangat matahari

ke dalam ringkih rengkuhku

satu-dua buah jatuh dipetik lentik

jari-jari angin

aku pungut

mengupas dan mengunyahnya

kecut seperti suara sol sepatumu

yang menjauh dari pintu

sambil berlari-lari dalam kota

dari bangunan berita koran

aku merangkai-rangkai cerita sendiri

:sebuah hutan tumbuh di halaman

entah di mana diletakkan tepian

aku sesat di tengah-tengah

kuhirup kopiku sebelum berlalu dingin

kau tahu, kopi itu kuseduh

sambil tersedu-sedu

sebab alangkah sendu

bunyi sendok dan gelas beradu

tunas hijau-hujan mulai berdaun lebat

aku melihat wajahmu sekelebat

lalu lesat ke arah tak kuingat

pagi

juga jarum jam menjauh

di beranda aku beku

di manakah kau?

Makassar, 2006


MATA IBU

sejak dulu kala

matamu hulu kali

airnya lelehan cermin

menggenangi pipi, telaga tempat ikan-ikan

berenang; anak-anak yang engkau lahirkan

dan tumbuh dewasa lalu melepaskan

siripnya di antara batu-batu buta

air itu jualah menguap ke langit

sebab tak ada mulut laut

mau jadi muara

di ceruk pipimu, para pemancing datang

bagai gelombang pengungsi dari pulau-pulau jauh

tetapi engkau tak tahu mengeluh

sebab air kali itu membuat langit

selalu biru,

selalu baru

dan lelaki bangun mendapati

setiap hari sebagai hari baik buat memancing

tetapi engkau tak tahu mengeluh

mulutmu corong doa-doa paling minta

agar tuhan tak mengeringkan kali

sebelum ternak dan anak-anak

menemukan hujan

Balikpapan, 2006


SAJAK TAHUN MENJAUH

ia amati segala yang menjauh

umpama kapal melepas sauh

ada yang mengecil jadi tanda baca

lalu kosong, tak ada apa-apa

kecuali sesuatu mengganggu kepala

seperti hati

ia berkerut menjadi kecil

dulu daging segumpal

lalu setangan terkepal

lalu lebih kecil dari kerikil

rongga dada itu lemari es

bukalah,

ada yang membeku

seperti bongkah es batu

bukalah, lihatlah,

tahun sudah mau berangkat


Makassar, 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s