SENJA DAN LAIN-LAIN
:dari catatan harian

Pantai Losari, 1/09/2001

“aku mencintai senja,” katamu

aku mendengar harapan
dan apa pun di meja makan
sambil menyantap sarapan
aku bernyanyi sendirian

Bone, 31/10/2002

sebelum matahari dihanguskan malam
ibu menyalakan semua lampu
di dapur, beranda, dan ruang tamu
ia ketakutan pada masa lampau
yang menunggu dalam gelap

Pantai Losari, 07/06/2003

senja bagai jus jeruk tumpah dari gelasmu
dan malam adalah nodanya di taplak meja

aku datang mencari pecahan gelas kaca
yang jatuh membentur lantai kafe;
gelas yang pernah menyentuh jarimu,
gelas yang pernah mencium bibirmu

Pantai Melawai, 21/12/2004

senja dinyalakan
bayangan burung camar
menindih bayangan langit
di genangan air matamu

pada hampar pasir
tiada bayanganmu
menindih bayanganku

Stasiun Tugu, 08/04/2005

sejak pukul senja
aku di ruang tunggu
di tanganku helai-helai novel
membuka penghianatan seseorang

malam yang datang
tak membawa kereta api
yang membawa engkau

Tompobulu, 28/11/2006

Gunung Saraung
menaung kampung
matahari susah payah
tiba di jendela rumah

pada sepasang kekasih
yang dikutuk jadi tebing batu
aku menyaksikan tak ada senja

2006

KERETA API
:dari catatan harian

Aku punya tiga kereta api
dalam catatan harianku

Solo, 14/01/1994

Aku bertemu kereta api seminggu
setelah engkau tak mau lagi bertemu

Aku sungguh gugup berkenalan

Engkau pernah cerita: banyak pencopet,
mereka tahu betul bagaimana orang baru
menyebtukan nama dan menjabat tangan,
juga dompet di mana disembunyikan

Di kotaku, engkau tahu, tak ada rel kereta
tetapi aku mau mencarimu

Katamu di waktu lain,
“Tahu lagu Stasiun Balapan?
Aku tinggal tak jauh dari situ.”

Yogyakarta, 23/01/2000

Di depan loket karcis beberapa detik
sebelum kereta menutup pintu
dan berangkat aku ingin tergesa-gesa
memasang pelukan tebal ke tubuhmu
sebagai baju penghangat untuk musim hujan
yang menyimpan demam dan dendam

Makassar, 30/08/2005

Waktu pernah jadi jendela kereta api
semuanya lewat secepat kilat
di luar, aku tak pernah sempat
menandai wajahmu yang berkelebat

Lalu waktu menjelma rel kereta api
mengembalikan semua yang pergi

Sayang, sudah aku tinggalkan stasiun.

2006

14 JANUARI
:dari catatan harian

Bone, 14/01/1999

Seberapa jauh kuda waktu
mampu membawaku di pelana?

Hei, anak sulung tanpa ayah,
beradik dua, ibumu sudah tua,
cepat sekali kau tujuhbelas

Mengapa anak-anak itu
tak mau meninggalkan mainannya
dari lapangan dadamu?

Makassar, 14/01/2001

Kalender telah menyiapkan perjamuan;
segelas alkohol, angka sembilanbelas,
dan teman-teman yang pergi jauh

Aku ingin sekali menelpon
mengatakan pada semua nomor
hanya sedikit yang aku cintai
pada kesepian

Makassar, 14/01/2002

Langit biru baru dibilas hujan
udara bagai larutan aneka dupa

Aku memeluk tubuh sendiri
di halte tempat mau menemukanmu
tetapi engkau sembunyi di sudut kafe,
alamatnya tak pernah aku tahu

Padahal hari ini aku ingin menemukanmu
meminta bantuanmu menghitung waktu

Bone, 14/01/2003

Aku hanya menginginkan
ulang tahunku yang ketujuh

Pesta kecil tak perlu kenangan
hujan dan seorang perempuan
yang pernah menemani meniup lilin

Aku hanya menginginkan
hadiah mainan dan buku kosong,
banyak hal mau kugambar

Samarinda, 14/01/2004

Aku memotong sebagian besar rambut
yang tumbuh bagai belukar
di kepalaku juga kuku-kuku runcing
yang sering melukai wajahku sendiri

Sebab begitulah, kata ibu,
waktu adalah gunting

Di binatu aku titipkan semua pakaian
kotor lalu pulang mandi lebih lama
dari biasanya

Sebab begitulah, kata buku,
waktu adalah air

Yogyakarta, 14/01/2005

Jika ada yang melebihi perih
irisan jeruk nipis di atas sayat luka
tentulah kalender di atas meja

Hari-hari berjatuhan bagai daunan
bagai pohon dikepung badai

Tak ada satu angka dilingkari
buat merayakan kemenangan

Hari ini, kembali aku dipaksa berjanji,
di setiap perang aku mesti di garis depan

Balikpapan, 14/01/2006

Kabel telepon yang ujungnya di lain kota
dan lain waktu mengantarnya tiba

“Hari ini kau ulang tahun. Selamat tidur!”

Ia memang peramal yang paling aku kagumi
tahu persis aku belum tidur
sejak dua puluh empat tahun lalu

Tetapi ia menutup telepon
sebelum aku bertanya
bagaimana caranya tidur

2006

CATATAN HARIAN HALAMAN 147

Seorang penyusup meninggalkan catatan
di buku hariaku, halaman 147

Aku ingin menduduki satu atau lebih tidurmu.
Memasang ranjau atau bom waktu.

Jika engkau jalan-jalan menjenguk dirimu
engkau diledakkan berkeping-keping
bagai botol bir yang kau lempar
ke jalan raya setelah berteguk-teguk
membuatmu mabuk

Inisial A di sudut bawah tak bisa menjawab
siapadan kenapa dan semua tanda tanyaku.

2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s