KUKILA

Kukila, kini engkau cuma sesobek perca gombal
bagi jengkal-jengkal tubuhnya berpeluh dan kumal
padahal, sungguh, dulu ia melamar perempuan peramal;
bahwa ia kelak bahagia kekal
dengan istri baik hati dan pintar meramu sambal,
rumah kayu sederhana, tabungan cukup, dan dua anak nakal

di mana engkau sembunyikan perempuanmu binal
yang dulu meneluhku jadi seekor hewan tumbal
rela mati dan rela hidup kembali sebagai kadal
menyusuri seluruh pematang sungai dan kanal
demi menemukanmu masih dengan tubuh sintal

tetapi kini engkau tak lebih sobekan perca gombal
bagi lelaki yang engkau cintai namun tak mampu beli sandal
yang tak henti memanggilmu sundal dengan tangan terkepal

Kukila, mengapa cinta tak mau memberi kita ganjar setimpal?

Makassar, 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s