DALAM PUISI INI

DALAM PUISI INI

di sinilah, dalam puisi ini,
seperti pernah engkau ramalkan,
kita berpisah
tubuhmu engkau tanggalkan
engkau tinggalkan
sebagai kenangan atau sebagai permen
bagi rasa sakitku yang kekanakan

“pelan-pelan ia akan membusuk, habis,
lalu hilang,” katamu

tetapi engkau tak mengerti
puisi adalah pengawet paling sempurna
tidak sekadar mengubah mayat jadi batu

tubuhmu akan tumbuh

suatu waktu nanti engkau jenguk puisi ini,
engkau akan berkata, “akhirnya aku kau lupakan!’
sambil lekat menatap perempuan dalam pelukanku
seolah-olah engkau pernah mengenalnya

itulah engkau, engkau yang hidup,
engkau yang lain,
engkau yang aku nikahi
dalam puisi ini

Makassar, 23/11/06

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s