Buah Kebijaksanaan dari telur dadar

Beginilah hasil pembacaan Hasan Aspahani, penyair dari Batam, setelah membaca salah satu puisi baru saya (lihat postingan sebelumnya)

Kiriman Puisimu, Aan, membuat saya membuat rubrik baru di sejuta-puisi. Tadarus Puisi. Karena saya merasa akan semakin sering saja bertemu dengan sajak-sajak memikat yang perlu diberi hormat dengan membuatkan penafsirannya.
HAH

[Tadarus Puisi # 1] Buah Kebijaksanaan dari Telur Dadar

SAJAK ini terasa sekali nikmatnya. Saya ingin membacanya seperti racikan sebuah masakan. Bahan dan bumbunya: 1. Langit dan matahari, benda angkasa yang menyertainya. Juga antena dan kabel-kabel telepon dan listrik. Sebuah pemandangan yang teramat jamak kita temukan di mana saja. 2. Ada telur dadar beserta perkakas makan, dan rasa lapar. 3. Sedikit saja kenangan masa kecil yang menghadirkan seorang ibu yang mewujudkan cinta dengan sebuah telur.

Dan mari kita tebak bagaimana Aan M Mansyur menyajikannya:

TELUR DADAR

aku sungguh-sungguh lapar

INI kalimat yang sangat biasa. Sajak memang tak harus dibangun dengan kemegahan bahasa atau kerumitan kata-kata. Sajak memang tidak harus langsung menempeleng sejak pertama kita sorongkan muka padanya.

dari bingkai jendela kamar
matahari sore terlihat persis telur dadar
matang sempurna dan besar-lebar

Si penyair mulai bermain. Sudah ia beri tahu bawha Si Aku adalah seorang yang sungguh lapar, karena itu kita pun menerima dan setuju padanya ketika dia mulai menyodorkan fakta-fakta yang mulai ia mainkan untuk kepentingan sajak ini tentu saja: matahari dari jendela kamar ia lihat seperti telur dadar yang matang sempurna, besar dan lebar.

Pada bait kedua ini bagi saya – Aan sudah menguasai pikiran saya. Saya mulai tak bisa berpikir lagi menurut logika wajar saya. Saya rasa inilah yang disebut efek hipnotis dalam puisi. Mula-mula ia menguasai pikiran.

tetapi telur dadar itu sudah terbagi-bagi
dipotong oleh antena-antena tivi tetangga
oleh kabel-kabel listrik dan telepon
dan tak ada sedikit pun untuk perutku

Setelah pikiran dikuasai maka, dibait ini Aan mulai membisikkan mantera untuk menguasai rasa, mengendalikan hati: tentu tujuan buruknya adalah agar saya juga merasakan emosi apa yang ia hidupkan dalam puisinya. Bahkan untuk sebuah telur dadar yang saya bayangkan pun sudah terbagi-bagi pula oleh antena tv tetangga, kabel listrik dan telepon. Habis. Tak ada sedikitpun tersisa untuk perut si aku yang sungguh-sungguh lapar tadi.

aku berusaha menahan airmata tak jatuh
teringat lagi telur dadar ibu
dulu aku selalu dapat satu, utuh
seperti cintanya pada kanak-kanakku

Di bait ini, saya kira bolehlah si penyair beranggapan bahwa rasa hati saya pun telah ia kuasai. Maka makin jauhlah dan makin beranilah ia memainkan rasa itu dengan imaji personalnya: telur dadar ibu. Si aku dulu selalu dapat satu. Utuh. Seperti cintanya. Ini bait berisiko. Tapi si penyair tentu sudah menghitungnya. Tidak semua orang menilai satu telur dadar sama tinggi nilainya dengan yang diinginkan oleh si penyair. Tapi dengan persiapan yang baik di bait-bait sebelumnya, saya rasa perhitungan Aan tepat. Telur dadar – saya setuju sekali – pas disandingkan sebagai lambang cinta ibu.

dengan liur leleh tak lelah
kutatap tanpa kedip telur dadar itu
namun beberapa detik saja kemudian
ia telah lenyap disantaplahap
oleh siapa aku tak tahu
dan lalu tinggallah langit
seperti piring kotor belum dicuci

Permainan dilanjutkan. Siapa yang melahap telur dadar? Pertanyaan yang tak hadir itu berhasil dipakai oleh Aan untuk menghadirkan imaji senja. Matahari tenggelam, sambil terus-menerus mengingatkan akan lapar yang masih berkecamuk di perut si aku. Tinggal langit bagai piring kotor belum dicuci. Utuh sekali imaji lapar yang dibangun dan dihadirkan Aan dari gambar-gambar nyata yang terdiri dari telur, langit, piring hingga selesai bait ini.

sebentar jika gelap melingkup alam
lampu malam satu per satu padam
aku merangkak ke luar kamar
diam-diam menjilat piring langit
sebelum dibersihkan hujan atau embun
sekedar menghibur perut lapar
lalu tidur memimpikan telur dadar

Makassar, 12 Agustus 2006

Bahkan sampai berakhir sajak ini pada bait ini, imaji lapar itu semakin liar dan semakin halus ia mainkan. Si aku merangkak ke luar kamar. Menjilati piring langit. Itu pun harus dilakukan dengan lekas agar tak dibersihkan oleh hujan dan embun.

Hikmah dari sajak ini adalah: saya sejak ini dan seterusnya akan lebih menghargai sepiring telur dadar – lauk yang paling mudah kita dapatkan – kapan dan di manapun serta siapa pun yang menghidangkannya. Sajak yang baik memang harus bisa juga membuat kita menjadi manusia yang lebih bijaksana.[]

::bisa dilihat juga di www.sejuta-puisi.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s