KISAH BIASA, KOMENTAR LUARBIASA

Sehari Setelah Istrinya Dimakamkan, cerpen yang saya ikutkan pada Apresiasi Prosa Srikanda 2006 di milis apresasi-sastra, mendapat komentar wah dari para juri (yang semuanya srikandi).
Berikut ini adalah komentar-komentar itu:

Romantisme yang langka antara suami-istri. Saya suka ending pedihnya. (Rini Nurul Badariah)

Saya suka cerpen ini. Sebenernya Idenya sederhana tetapi bisa membangun emosi dengan cara selangkah demi selangkah dan Duar!!!! Endingnya mengejutkan. Tetapi, bukankah biasanya yang membawa kondom itu para lelaki? Atau saya saja yang konvensional pemikirannya? Haha. Terus apa hubungannya dengan coklat itu? (Labibah Zain)

Hehehe Mas Aan pintar. Kisahnya unik, tapi pembaca(aku) tak tertarik pada awal cerita. Daya tariknya ada di paragraph 4 hingga paragraph akhir cukup menarik minat pembaca(aku) utk terus melaju membaca ceritanya. Mas Aan berhasil menyampaikan kesedihan ke pembaca(aku), ikut merasakan kesedihan saat melihat isi tas termasuk rasa coklat yang dimakan nya sambil meneteskan air mata, juga saat melihat sekotak kondom. Sebuah gejolak, emosi, kesedihan, kebencian yang beradu. (Mila Duchlun)

Mengalir dan nyaris tanpa kesalahan ketik ( atau memang tak ada sama sekali…). sangat apik menggambarkan sebuah kehidupan yang tampak sempurna namun ternyata menyimpan sebuah ‘ rahasia ironis ‘ dan ketidakjujuran sebuah hubungan yang terbawa hingga ajal menjemput. (kali ini saya tak bisa tertawa…). (Rida Fitria)

Mas Aan juga terbiasa menulis ya? Alurnya lancar dan bercerita dng sendirinya. Tapi, kenapa antar paragraf tetap diberi spasi lagi? Padahal kan kalimat pertama sudah menjorok ke dalam? Rasanya itu sudah cukup untuk menunjukkan paragraf baru. (Anjar Anastasia)

Jadi ingat film something gotta give, yang dibintangi diane keaton, jack nicholson, keanu reeves. Keaton, seorang penulis drama, jatuh cinta kepada jack nicholson, lalu patah hati, dan menuliskan kisah itu. Sambil mengetik, dia meraung-raung setiap mengingat kenangan manisnya. Serupa partitur lagu. Datar, naik lurus, naik, naik, sampai diakhiri dengan teka-teki, apakah memang si isteri selingkuh atau tidak. Tidak adanya dialog, menunjukkan kelihaian mas aan mengeksplorasi perasaan si tokoh, dengan berbagai fakta menarik, mendebarkan, dan dibuat mengambang. Oya, tulisan coklat kadang-kadang ditulis cokelat. Yang betul, cokelat. (Ita Siregar)

Sepertinya tak ada lain yang mampu meneteskan airmata lelaki selain satu makhluk berjuluk perempuan: ibu, istri, selingkuhan. Gaya penulisan cerita ini cukup aman, tak ter gelincir standarisasi dan kebakuan. (Fati)

Idenya seperti film Korea (lupa judulnya), tapi di sana ceritanya lebih ribet. Istrinya tabrakan dan komi dengan selingkuhannya. Si suami terus berselingkuh dengan istri selingkuhan istrinya. Kalau diolah lagi kayaknya bakal oke. (Rita Achdris)

Smart! Saya kurang suka dengan penuturannya yang agak bertele-tele sehingga membuat penasaran, namun ending-nya benar-benar tepat dan menutupi semua kekurangan lainnya! Ide kondom itu saya akui benar-benar brilian, terlebih dengan adanya dua batang cokelat yang keberadaannya awalnya menjadi pertanyaan besar bagi saya. Pemilihan bahasa dan penulisan juga sudah baik dan konsisten. Judul juga sangat pas dan mengena. Saya suka cerpen ini! Tangisannya juga terasa logis… ironis, namun dikemas dengan sangat manis! Salut! (Melody Muchransyah)

Idenya menarik. Alur cerita padat berisi, tidak melebar kemana-mana. Good! (Feby Indirani)

Nah, ini kisah yang dikomentari itu;

SEHARI SETELAH ISTRINYA DIMAKAMKAN

DENGAN kedua tangan menutupi wajah ia meraung-raung serupa anak kecil menginginkan sesuatu pada ibunya. Tas berwarna merah milik istrinya tergeletak di depannya, di atas meja bertaplak abu-abu. Itulah barang terakhir yang dipegang istrinya sebelum meninggal, tas itu, yang terlempar sejauh lebih lima meter saat sebuah taksi yang melaju tinggi menghantam pinggangnya. Ia sedih memikirkan bukan tangan atau wajahnya dipegang istrinya terakhir kali.

Ia membuka tas itu untuk melihat barang apa saja yang ada di dalamnya. Ia menemukan sebatang coklat dengan gambar kacang mete di bungkusnya bersama barang-barang lain di sana. Ia membuka coklat itu dan memakannya di sela tangis yang sesekali masih meraung itu.

Alangkah sedihnya ia. Sebagai seorang lelaki yang tak mungkin mendapatkan anak, karena mandul, ia betul-betul kehilangan satu-satunya orang yang ia harapkan akan menemani sisa hidupnya

Ia tak mungkin bisa menemukan lagi wanita seperti istrinya itu, dan memang ia tak menginginkan ada yang menggantinya. Istrinya adalah wanita yang sangat baik. Tetangga sangat menyukai istrinya yang tak pernah lupa menaruh sebaris senyum di sela bibirnya. Teman kantor memanggil istrinya dengan Lady Diana.

Kemarin di acara pemakaman istrinya banyak benar orang yang datang. Bahkan banyak dari mereka yang sama sekali tidak ia kenal datang mengenakan pakaian serba hitam sekedar mengucap belasungkawa atau menepuk bahunya. Bergantian orang menaburkan bunga berwarna-warni di atas peti mayat istrinya. Liang tempat berbaring peti itu seperti tak bisa menampung banyaknya bunga-bunga yang dijatuhkan orang yang membawa kesedihan dan rasa kehilangan di wajahnya masing-masing. Itulah bukti baginya bahwa memang istrinya disayangi oleh orang-orang. Ia jadi ingat tayangan TV beberapa waktu lalu tentang acara pemakaman Lady Diana yang penuh dengan bunga. Istrinya adalah Lady Diana, betul.

Hari ini ia tidak masuk kantor. Oleh pimpinannya, ia diberi izin untuk tidak masuk kerja selama tiga hari terhitung mulai hari ini. Tetapi justru itulah yang malah membuat hari ini sangat berat untuk ia lalui.

Ia semakin didera rasa kehilangan dan kenangan tentang hari-hari bersama istrinya. Dan tak ada yang bisa menghiburnya, tidak oleh berita kemenangan Tim Sepakbola Indonesia di koran harian yang datang terlalu pagi, tidak oleh kicau burung tetangga, tidak oleh suara tergesa-gesa kendaraan di depan rumah, tidak juga oleh kopi yang untuk pertama kalinya ia buat sendiri. Tidak ada yang bisa membawanya pergi dari sedih. Tidak ada.

Ia mencoba menghibur diri dengan mengingat kata seorang temannya kemarin.

“Sebab Tuhan mencintai orang yang baik hati makanya ia dipanggil pulang lebih lekas.”

Tetapi beberapa detik kemudian ia menyadari bahwa kalimat itu tak punya kuasa untuk meluruhkan sedihnya.

Rasa coklat samar-samar masih lekat di lidahnya seperti air mata yang masih juga jatuh satu-satu.

Ia melanjutkan membuka tas istrinya untuk melihat barang-barang terakhir yang dibawa istrinya. Ada lipstik berwarna sama dengan warna tas itu. Sebenarnya ia lebih suka melihat istrinya tidak memakai pewarna bibir. Tetapi orang lain selalu mengatakan padanya bahwa istrinya selalu bisa memakai warna di bibirnya yang serasi dengan pakaian dan suasana hatinya sehingga setiap senyumnya selalu saja membuat hati yang melihatnya segar seperti rasa permen mint di mulut. Tetapi kadang-kadang ia bersyukur atas komentar dari orang-orang itu sebab dengan begitu ia tidak merasa telah menjadi seorang suami yang suka mengatur-ngatur istrinya.

Kembali ia menemukan sebatang coklat yang sama. Dan dengan alasan yang belum juga ia mengerti, ia kembali membuka bungkusnya lalu memakannya.

Rasa coklat di lidahnya kembali membuat bendungan di matanya jebol. Ia memang sedikit heran, sejak kapan istrinya suka makan coklat. Ia ingat suatu hari, waktu itu beberapa minggu setelah menikah, ia pulang dari kantor membawa sebatang coklat untuk istrinya tetapi istrinya hanya menyimpannya di lemari es dan tidak memakannya sampai berminggu-minggu. Waktu ia tanya, istrinya dengan jujur mengatakan bahwa selain karena takut sakit giginya kambuh dan takut gemuk ia memang pada dasarnya tidak suka makan coklat. Coklat itu kemudian ujung-ujungnya menjadi hadiah untuk dirinya sendiri sebab suatu hari ia sendirilah yang memakannya.

Memang agak mengherankan kalau tiba-tiba di tas istrinya ia menemukan dua batang coklat. Tetapi rasa ganjil itu tak berdaya di tengah kesedihan dan kehilangan yang ruah serupa bah.

Ia menjilati sisa coklat yang lekat di telunjuknya lalu melanjutkan membuka tas. Di sana ia juga menemukan alat-alat kosmetik selain lipstik. Ia tidak tahu apa saja namanya. Ia berhenti sejenak lalu tersenyum. Ia berpikir bahwa alangkah cantik hati istrinya sebab di usia yang sudah tidak muda lagi ia masih ingin selalu tampil cantik di depan suaminya. Istrinya tetap merawat diri, tentu saja karena ingin tetap tampil cantik di hadapan suaminya. Ah, sekiranya ia bisa kembali sesaat saja. Ia akan mengatakan sebuah kalimat yang selalu ia lupa ucapkan setiap pulang dari kantor.

“Kamu cantik sekali hari ini, sayang!”

Benda berikutnya yang ia temukan di tas itu adalah ponsel yang menyisakan setengah baterai dan sebuah gambar amplop di sudut kiri atas menandakan ada pesan yang belum terbaca. Ia menekan tombol pembuka pesan lalu membaca kalimat yang tertulis di layarnya: Papa tunggu pukul 7!

Kembali ia menangis melihat pesan itu. Pesan yang ia kirim ternyata belum sempat dibaca istrinya. Barangkali saat ia mau membuka tas karena mendengar nada tanda ada pesan masuk, saat itulah taksi berwarna biru itu menabraknya. Ia menduga-duga. Ia kembali menangis. Ia merasa bersalah, kenapa tidak ia jemput saja istrinya di rumah lalu mereka bersama-sama makan malam di sana, sekalian ia bisa mandi sore dan ganti baju.

Ia letakkan ponsel itu lalu kembali mencari benda-benda lain. Ada kacamata. Ada sebotol kecil pil obat sakit kepala. Istrinya memang pengidap migraine akut, ia tahu itu. Ada pulpen dan buku catatan kecil.

Ia berhenti mencari. Ia membuka buku kecil itu dan menemukan di halaman pertama Things to do today! Belanja (jangan lupa beli anggrek)—BL—ketemu teman lama—makan malam dengan suami, lengkap dengan jamnya masing-masing. Istrinya memang seorang perfeksionis dan pintar mengatur waktu. Itu membuatnya semakin merasa kehilangan seseorang yang nyaris sempurna sebagai manusia, atau sempurna sebagai istri.

Ia meletakkan notebook dan beralih pada sebuah sapu tangan berwarna peach dengan sulaman nama istrinya di salah satu sudutnya. Dan itulah yang membuat tangisnya yang sudah reda itu kembali meledak. Ia kembali terlempar jauh ke belakang mengenang masa-masa indah di waktu remaja dulu, saat mereka belum menikah. Sapu tangan itu adalah hadiah yang ia berikan pada saat Valentine Day bersama sebuah kaset bergambar hati warna merah. Istrinya masih menyimpan sapu tangan itu, bahkan membawanya ke mana-mana. Begitu juga cintanya padaku, begitu pikirnya.

Ia telungkup di atas meja tak tahan dengan dera sedih dan kopi tumpah mengotori taplak meja pula lantai yang berwarna putih. Alangkah sedihnya ia.

Setelah yakin badai kesedihan mulai reda, meski masih ada isak yang sesekali terdengar, ia kembali mencari apa-apa dalam tas istrinya. Benda terakhir yang ia temukan di tas itu adalah sebuah kotak yang membuatnya tiba-tiba berhenti menangis. Sekotak benda yang tidak ia percaya ada di sana. Sekotak benda yang sungguh tidak ia harap berada dalam tas istrinya. Sekotak kondom. Ya, sekotak kondom dengan isi yang tak lagi lengkap. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah istrinya memiliki kehidupan lain di luar yang tidak ia ketahui. Apakah istrinya…?

Rasa coklat di lidahnya masih terasa dan itu yang membuatnya kembali menutup wajah dengan tangan dan kembali meraung-raung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s