SUNGAI KENANGAN DAN RACUN WARNA-WARNI


KEMARIN laut tak menguap, hari ini hujan tak meluap.

Aku sempat berpikir perlengkapan memancing yang aku beli dengan harga mahal dan kubawa dari kota sia-sia saja. Tetapi setelah berhari-hari hujan ruap, meskipun tidak begitu ruah, di hari terakhir liburku langit rupanya berbaik hati ingin berbagi pada matahari. Hari terang seperti hati riang—seperti hatiku.

Akhirnya aku bisa pergi memancing. Akhirnya aku bisa melepaskan segala macam kerinduan pada Dusun Kampiri, tempatku lahir dan menghabiskan masa kanak. Dan terutama melepaskan kerinduan pada sungai yang membelah dusun indah ini. Kerinduan tentang masa lalu. Kerinduan tentang masa kecil. Kerinduan tentang sahabat lama dan kerinduan tentang gadis-gadis kecil mandi telanjang—pada Bollo yang kini sudah tua dan menyisakan sedikit saja kecantikannya.

Aku lewati jalan setapak berkelok-kelok sedikit licin, tempat jejak kaki-kaki kecil masa kanakku, sebelum sampai ke sungai dan menemukan sebuah batu besar. Batu besar tempat aku dulu sering duduk memancing lalu membawa pulang ikan-ikan. Batu besar serupa punggung kerbau jantan milik orang-orang kaya pemilik berhektar-hektar sawah. Batu yang dilindungi bayangan pohon besar yang aku tahu tak pernah berbunga dan berbuah. Aku tak tahu pohon apa namanya. Kini pohon itu masih perkasa, lebih perkasa bahkan.

Aku duduk dan mengeluarkan semua perlengkapan pancingku. Aku pasang cacing di lengkung mata kailku. Sambil membaca mantra yang diajarkan Bapak dulu, kemudian aku lempar kail ke tengah. Tentang mantra itu, aku tak pernah mengerti apa artinya—indah seperti puisi dalam Bahasa Bugis tua. Tapi aku selalu percaya diri dengan merapal mantra itu aku akan mendapatkan banyak ikan.

Sungai ini banyak menciptakan kenangan. Kenangan yang sekarang coba aku masuki kembali. Tak ubahnya seorang lanang yang baru pulang rantau dari negeri jauh mencoba lagi mengenali lekuk-lekuk tubuh kekasih lamanya.

Di sini, di sungai ini, dulu aku sering mandi, berenang, sepulang sekolah. Sungai ini memisahkan dusun dan sekolahku. Saat matahari terasa sangat menusuk, bersama teman-temanku, aku singgah berenang. Setelah merasa lapar—karena kedinginan—dan merasa kembali segar, kami pun segera beranjak meninggalkan air sungai yang tak pernah lelah mengalir. Tak laki tak perempuan kami berenang bersama. Tak jarang kami berenang saling kejar main kucing-kucingan tanpa pakai apa-apa, telanjang. Tentu saja, waktu itu kami masih sama-sama kecil, masih SD. Pasalnya orangtua kami akan memarahi (kadang sampai memukuli) kami kalau mendapati pakaian kami basah, walaupun setibanya di rumah kami tetap akan dimarahi karena mereka tahu kami berenang. Mereka paham betul, mata kami yang merah dan kulit kami yang kering dan bersisik adalah tanda bahwa kami singgah berenang.

Di sungai ini aku sering menunggu Bollo melintas dari sekolah lalu bergegas membuntutinya pulang. Di sungai ini dulu aku merasakan sungai-sungai kecil di dadaku, tentang cinta masa kecil pada Bollo. Di sungai ini pula aku pernah berjanji untuk tetap mencintai Bollo apa pun yang terjadi. Namun kemudian melupakan janji itu setelah tinggal di kota dan mendengar kabar bahwa Bollo dinikahi anak Pak Imam. Ah, janji kanak-kanak itu.

Di sungai ini juga teman bermainku yang paling dekat, Suradi, meninggal. Aku tak punya banyak teman dekat. Kecuali bersama Suradi aku hanya sering ikut Bapak memancing di sore hari, di sungai ini. Aku mengenal banyak anak-anak lain tetapi tidak bisa disebut dekat.

Suradi sudah tidak ada lagi kini, tentu saja. Bukan karena berenang dan tenggelam, tetapi karena hanyut terbawa banjir yang suatu hari tiba-tiba datang seperti gerombolan perampok dalam cerita-cerita silat. Sampai sekarang mayat Suradi tak pernah ditemukan. Meskipun begitu, semua orang yakin ia sudah meninggal.

Orang-orang Dusun Kampiri menganggap Suradi dimakan buaya, penjaga sungai ini. Karena takut anaknya dimakan buaya penjaga sungai itulah sehingga aku dan teman-temanku dilarang berenang di sungai ini. Mereka, para orangtua, percaya bahwa buaya itu—bukan buaya seperti buaya-buaya di TV—tetapi ‘buaya orang’ kata mereka. Buaya itu punya jari-jari kaki dan tangan masing-masing lima, layaknya manusia. Menurut orang-orang, buaya penjaga sungai itu punya rumah—bukan sarang—di bawah sungai ini. Tak ada yang tahu di mana tepatnya rumah buaya itu. Di rumah itulah barangkali Suradi dimakan.

Mengamati air sungai yang mengalir tenang seperti menyiapkan pikiranku jadi muaranya. Sebab alir sungai itu membawa serta begitu banyak kenangan dari masa kanakku.

SUDAH setengah jam lebih aku duduk bisu di batu yang juga bisu ini. Di atas atap pohon, langit belum memperlihatkan tetanda akan menjatuhkan biji-biji hujan. Hari yang baik untuk memancing.

Aku terus mengamati alir air sungai yang bening seperti lelehan kaca sambil menunggu mulut-mulut ikan tersangkut. Satu hal yang selalu aku kagumi dari sungai ini adalah airnya yang tak pernah keruh, meski berhari-hari hujan—apalagi jika hanya hujan yang tak begitu deras—kecuali tentu saja jika bandang yang sangat jarang bertandang. Semoga akan terus seperti itu! Aku selalu mengkhawatirkan pohon-pohon yang tumbuh di sisi kali ini. Jika pohon-pohon itu ditebang juga, maka sungai ini akan keruh. Syukurlah, penduduk Dusun Kampiri lebih senang menjadi petani daripada menjadi penebang liar.

Belum juga seekor ikan menyentuh mata kailku. Barangkali di sungai ini tak ada ikan, tidak seperti dulu lagi, pikirku. Tapi aku tak mau meninggalkan batu serupa punggung kerbau ini sebelum mendapatkan ikan. Mendapatkan ikan adalah kebahagiaan dan kepuasan tersendiri dalam memancing. Tak ada yang lebih malang dari pemancing yang tak mendapatkan ikan. Biarlah aku tunggu. Aku harus sabar. Tetapi jangan-jangan ikan betul-betul sudah habis. Sebelum berangkat ke sungai sepupuku memang sempat mengatakan bahwa kemarin orang-orang banyak yang datang dari dusun seberang menangkap ikan di sini dengan cara menyetrum. Mereka membawa aki di punggung yang dihubungkan ke tongkat, masing-masing di tangan kiri dan kanan. Kalau kedua tongkat itu dicelupkan ke air, ikan-ikan yang berada di sekitar tongkat itu, kira-kira sampai radius 2 meter, akan pingsan beberapa menit. Dan itulah saatnya mereka memunguti ikan-ikan itu. Dengan cara menyetrum, mereka tidak perlu duduk berlama-lama di atas batu menunggu mulut ikan tersangkut di kail, seperti yang sedang aku lakukan. Dengan cara seperti itu pun mereka tak perlu menunggu reda hujan untuk mendapatkan ikan. Kedengaran sangat tidak adil dan kasar bagi seorang pemancing yang mencintai seni menangkap ikan.

Sejam sudah berlalu. Baru satu-dua ikan memainkan kailku, dan belum seekor pun yang tersangkut. Mereka hanya menarik cacing di ujungnya saja, mempermainkan kesabaranku. Lama-lama aku jadi bosan juga. Tapi biarlah! Biarlah aku coba lagi! Bukankah ternyata masih ada ikan di sungai ini? Aku tetap menghibur hati agar tetap bersabar. Toh, di atas batu ini pohon tak berbuah itu tetap sabar dan setia melindungiku dari matahari yang dengan riang bermain di halaman langit setelah berhari-hari tak bisa keluar karena hujan.

WAKTU terus mengalir seperti sungai mengangkut air ke tempat jauh—seperti sungai mengangkut kenanganku ke muara pikiranku.

Belum juga ada ikan yang aku dapatkan. Aku membenamkan pandangku pada jernihnya air. Sungai ini yang menghidupi penduduk dusun. Sungai inilah yang mengaliri sawah-sawah. Sungai yang berhulu di gunung ini adalah sumber air bersih. Di sungai ini pula para perempuan mencuci pakaian suami mereka yang kotor setelah berkubang di sawah.

Lama aku pandangi air sungai, tiba-tiba aku melihat air sungai berubah warna. Warna-warni. Ada kuning dan merah. Ada biru. Ada hijau. Ada ungu dan banyak warna lain karena saling mencampur. Indah sekali. Sungguh seperti pelangi yang larut dalam alir air sungai itu. Aku terkesima. Tetapi kemudian aku tiba-tiba dikagetkan oleh pikiran dari bagian lain di kepalaku; cairan berwarna inilah yang membunuh ikan-ikan di sungai ini, pikirku. Tak salah lagi! Pantas saja tak ada lagi mulut ikan tersangkut.

Siapa yang tega menebar racun itu? Aku yakin, yakin sekali, cairan warna-warni itu pasti racun. Ya, racun. Racun. Racun yang tidak hanya akan membunuh ikan-ikan, tetapi juga ternak bahkan penduduk yang mengambil air minum di sungai ini. Aku jadi ngeri membayangkan semua orang di dusunku mati karena minum air sungai ini. Keindahan pelangi larut tadi hilang begitu saja berganti kengerian yang merindingkan bebulu tubuhku.

Hal ini harus dihentikan. Aku kemasi perlengkapan memancingku, lalu melempar semua cacing yang tersisa ke tengah tanpa merapal mantra ajaran Bapak. Aku ingin menyusuri sungai mencari tahu sumber cairan beracun itu. Aku berdiri dan meninggalkan batu serupa punggung kerbau itu.

Aku berjalan menyusur tepi sungai menuju hulu sambil mencari-cari di mana racun berwarna itu ditebarkan. Seratus meter, dua ratus meter, belum juga aku dapati asal racun itu. Aku belum melihat seorang pun yang menebar racun itu.

Setelah kelokan, aku dengar cekikikan perempuan-perempuan. Aku dekati sumber suara sambil mengendap-endap. Aku membayangkan diriku sebagai Jaka Tarub, lucu sekali, dan perempuan-perempuan itu adalah bidadari, sedang mandi. Sejenak aku lupakan niat mencari sumber racun.

Suara tawa perempuan-perempuan itu semakin jelas dari balik pohon. Aku sembunyi mengawasi mereka. Perempuan-perempuan itu sedang mencuci. Tentulah hari seterang ini juga merupakan hari baik untuk mencuci. Aku dengar mereka bercerita tentang suami-suami mereka. Setelah seorang di antara mereka bercerita, yang lainnya menimpali dengan tawa keras seolah sungai adalah wilayah kekuasaan perempuan-perempuan itu. Aku lihat mereka sedang mencuci kain berwarna-warni. Warna-warni mencolok. Pasti baju bodo[1] dan lipa’ sabbe[2] yang mereka cuci. Biasanya setelah ada acara pernikahan di dusun yang semua penduduknya Bugis ini, ramai-ramai perempuan mencuci pakaian-pakain mereka untuk kemudian memasukkannya kembali ke dalam almari sampai pesta pernikahan berikutnya tiba. Aku tahu sekarang, rupanya kain-kain itulah yang menjadi sumber warna-warni yang meracuni sungai.

Setelah perempuan-perempuan itu mandi—dengan sarung setengah badan yang ujungnya terselip di antara payudara—mereka segera pulang, untuk menyiapkan makan siang buat suami-suaminya. Seperti biasa, cucian mereka tidak dibawa pulang, karena rumah mereka tidaklah jauh dari sungai. Cucian itu mereka jemur di atas batu-batu besar di pinggiran sungai. Di ujung setiap kain mereka letakkan batu sebesar buah jambu air agar kain-kain itu tidak diterbangkan angin.

Mereka sudah pulang. Aku masih dengar tawa mereka dari tempatku berdiri. Aku keluar dari balik pohon yang menyembunyikan tubuhku. Aku dekati kain-kain itu sekedar untuk membuktikan tebakanku bahwa kain-kain itu adalah baju bodo dan lipa’ sabbe. Tebakanku jauh meleset. Kain-kain itu bukan seperti yang aku kira. Kain warna-warni itu ternyata kain warna-warni seukuran bendera partai. Merah, kuning, hijau, biru, warna-warni. Aku baru sadar, tak mungkin perempuan-perempuan itu mau menjemur sarung sutra yang mereka beli dengan berkarung-karung gabah di pinggiran sungai. Dan lagi, sejak kapan ada orang yang mau mencuci sarung sutranya? Bukankah lipa’ sabbe tak boleh kena air? Tinggal di kota selama bertahun-tahun rasanya telah membuatku menjadi semakin bodoh.

Tak bisa aku pastikan apakah kain-kain itu betul bendera partai atau bukan. Tak ada lambang-lambang dan tulisan yang tercetak di atas kain-kain itu, seperti yang ada di bendera partai manapun. Kalau toh benar bendera partai, untuk apa pula perempuan-perempuan itu mencucinya seperti mencuci pakaian suami mereka? Bukankah Pemilu sudah berlalu? Pemilu berikutnya pun masih lama. Sesungguhnya partai-partai memiliki banyak uang untuk membuat lagi bendera untuk Pemilu nantinya. Dan bukankah partai juga suka berganti warna? Pemilu kali ini parta ini warna ini Pemilu depan partai ini mungkin saja warnanya jadi itu. Lalu untuk apa mereka mencuci dan menyimpannya?

Mungkin saja untuk dijahit lalu dibuat menjadi orang-orangan sawah, aku menjawab pikiranku sendiri setelah tak bisa menemukan jawaban lain yang lebih masuk akal. Sebentar lagi padi-padi di sawah akan berbuah dan membutuhkan pengusir burung-burung pipit. Burung-burung kecil itu biasanya takut pada warna-warna terang. Tetapi kenapa warna kain-kain itu luntur? Pastilah kain-kain itu harganya tidak mahal, pikirku. Kain murahan. Karena itu warnanya mudah luntur, seperti janji-janji. Ya, seperti janji kanak-kanakku pada Bollo.

Hal yang paling mengganggu pikiranku setelah menemukan jawaban-jawaban yang tidak sepenuhnya aku yakini itu adalah racun. Racun. Aku takut pewarna kain itu betul-betul bisa membunuh ikan-ikan, ternak dan para penduduk dusunku seperti tuba. Aku ngeri.

Semoga hari ini laut menguap. Semoga besok hujan meluap.

Bone – Makassar, 2005 – 2006


[1] Baju adat Bugis-Makassar, dikenakan oleh perempuan.

[2] Sarung sutra, biasanya dipakai sebagai pasangan baju bodo.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s