SEHARUSNYA

seharusnya kaudengar suara petir dari balik bilik

dadaku yang bergetar getir

meski kau ditandangi pagi pada tiap detik dan detak

dengan matahari menyembunyikan diri

dalam kelambu dari benang-benang hujan


namun kau adalah angka kalender yang itu-itu saja

seperti seorang raja

menunggu tiba kudeta


kau bahkan tahu;

tak ada telinga tumbuh di tubuh subuh

setelah lelah semalam ditikam tajam sunyi


lalu sia-sialah segala suara yang kulontar

seperti kering belukar yang menunggu bakar


seharusnya aku tak bertemu dengan putus asa

meski mata berkali-kali basah


meski s
ore hari warnanya senantiasa kain tua

dan daun-daun untuk apa berbicara

seperti anak-anak tak mengenal bahasa


biarlah segala yang di luar kita

adalah negeri asing

sementara yang di sini adalah yang paling


sebab seharusnya tak perlu

kita bertanya sesering ini

bahwa temali mungkinkah memang ditakdirkan

lepas dari simpul


biarlah kel
opak kembang

memilih dongengnya sendiri

seperti sisir dedaun pisang pada rambut angin

seperti tumpukan gelisah pada asbak di atas meja


tetapi kau,

kau seharusnya menyediakan telinga untuk kata-kataku


Makassar, 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s