Di Tempatmu Berbaring Sekarang

POHON yang tumbuh sendiri di tengah padang rumput itu punya rahasia. Pohon itu menceritakannya padaku suatu siang saat aku istirahat selepas memandikan sapi-sapiku. Sebelumnya aku tak pernah berani berteduh di bawah pohon itu, sebab orang-orang mengatakannya sangat angker, namun panas matahari betul-betul tak membuatku takut pada apapun siang itu.

Pada sebuah batu di kaki pohon itu, aku berbaring. Angin padang seperti belaian lembut tangan Ibu, membuatku tertidur.

“Akan aku ceritakan padamu sebuah kisah cinta. Sebuah rahasia,” kata pohon itu mengagetkanku sesaat setelah aku masuki pintu sempit mimpi yang terbuka seolah hanya untukku.

“Sebuah rahasia?” aku bertanya heran.

“Sebentar lagi kemarau datang menggugurkan daun-daunku juga mengeringkan batang dan cabang-cabangku. Kemarau itu akan membunuhku dan aku tak ingin mati sebelum rahasia ini aku ceritakan pada seseorang. Aku sudah sangat tua. Sudah berusia ratusan tahun.”

Aku tak berkata apa-apa demi mendengar suara haru pohon itu. Mungkin pohon itu melihatnya sebagai isyarat bahwa aku setuju mendengarkan ceritanya.

“Kau beruntung terpilih mendengarkan kisah ini. Berbahagialah,” katanya lagi padaku sebelum mulai bercerita.

***

DULU, seorang lelaki, namanya Pilang, setiap malam duduk di sini, di tempatmu berbaring sekarang. Ia selalu datang dan duduk sendiri tak mengatakan apa-apa. Ia hanya memandang ke arah barat, ke seberang padang rumput. Di sana, ada sebuah rumah panggung berdiri menghadap ke utara. Rumah panggung itu dihuni sepasang suami istri. Mereka hidup bertahun-tahun tetapi tak memiliki seorang anak pun.

Dengan sebungkus tembakau Pilang selalu tiba di kakiku, saat suara-suara burung malam mulai memperdengarkan lagu-lagunya. Selalu seperti itu, setiap malam—di musim penghujan ia tak pernah lupa membawa selembar daun pisang sebagai payung. Ia duduk dan memandang sisi kiri rumah panggung itu dengan sepasang mata coklatnya. Asap tebal tembakau tak pernah henti mengepul dari sela bibirnya yang hitam dan diam.

Ya, sisi kiri rumah panggung itulah yang dipandangnya nyaris tanpa kedip. Rumah itu memiliki dua jendela di sisi kirinya, aku tak pernah melihat sisi kanan rumah itu—dari sini sisi kanan rumah itu tak bisa terlihat. Jika malam, dua jendela itu dari sini terlihat seperti dua buah bulan persegi empat. Atau kadang-kadang terlihat seperti kapal yang berlayar ke utara dengan lampu dari jendela-jendelanya.

Jendela yang di belakang lebih redup cahayanya dibanding yang di depan, mungkin karena yang di depan itu ruang tamu sementara yang di belakang ruang tengah. Atau mungkin juga disengaja dengan alasan tertentu yang aku tak ketahui. Di jendela yang tak begitu terang itulah setiap malam seorang perempuan dengan rambut terurai duduk memandang ke arah sini. Di jendela depan duduk seorang lelaki, juga memandang ke sini. Setiap malam seperti itu, hingga larut.

Pilang baru beranjak dari sini setelah malam larut, setelah gulungan tembakau terakhirnya ia nyalakan—saat dua bulan persegi empat itu padam. Ia akan beranjak dari tempat duduknya sambil menggumamkan sebuah lagu yang tak pernah kutahu liriknya. Aku hanya mendengarnya sebagai nada-nada sedih. Sangat sedih!

***

SETIAP petang, setelah lampu-lampu dinyalakan, Kukila akan duduk di ambang jendela menatapku. Tidak, ia tidak menatapku. Ia menatap lelaki tua yang duduk di kakiku, di tempatmu berbaring sekarang. Bayangannya setengah menutup jendela itu, sehingga membuatnya seperti sebuah lukisan perempuan hitam dengan latar kuning keemasan. Kukila akan duduk di sana sampai malam larut, sampai minyak tanah tak terjangkau lagi oleh sumbu obor.

Aku tahu kenapa perempuan itu duduk di sana.

Pilang dan Kukila dulu selalu datang ke sini, setiap sore duduk berdekatan di tempatmu berbaring sekarang. Sesungguhnya mereka itu dulunya adalah sepasang kekasih tak terpisahkan. Mereka akan berkasih-kasihan sampai matahari tenggelam. Bertahun-tahun mereka rutin datang ke sini, saling mengucap janji dan berbagi bahagia.

Tetapi suatu sore, tiba-tiba Kukila datang sambil menangis. Ia menjatuhkan dirinya ke pelukan Pilang. Aku dengar mereka sempat bersitegang sejenak. Kukila akan dinikahkan dengan anak pemangku adat, Sultan namanya. Orang tuanya menerima lamaran Sultan. Kukila tak bisa menolak kemauan orang tuanya. Aku sempat mendengar mereka merencanakan sebuah pelarian.

Aku pikir orangtuamu pernah bercerita tentang hukuman seperti apa yang akan menimpa orang-orang yang berani melarikan diri dari kampung ini. Di sini, di cabangku pernah terjadi sepasang kekasih digantung karena melanggar hukum adat—mereka mencoba lari namun tertangkap di tengah jalan. Mereka diseret seperti binatang untuk dibawa ke tengah padang ini, dan di cabangku akhirnya mereka mati, dibiarkan tergantung berhari-hari seperti orang-orangan sawah.

Aku dengar Pilang mengingatkan kisah tragis itu pada Kukila.
Sambil menangis, Kukila akhirnya berkata:“Kalau begitu, aku terpaksa harus menikah dengan Sultan. Tetapi maukah kau tetap menjadi kekasihku?”

“Bagaimana mungkin itu terjadi, Kukila?”

“Begini saja, aku akan meminta Sultan membangun rumah di sana menghadap ke utara. Di jendela rumah itu setiap malam aku akan duduk memandangimu. Setiap malam.”

“Sultan akan membunuhmu karena hal itu.”

“Kalau Sultan benar-benar mencintaiku, ia akan mengizinkan aku melakukannya. Percayalah!”

“Tetapi jika semalam saja kau tidak duduk di sana, aku akan gantung diri di pohon ini.”

“Aku berjanji!”

Itulah terakhir kalinya mereka datang berdua ke sini.

Setelah pernikahan Kukila dan Sultan yang dirayakan dengan meriah—pernikahan dengan mahar sebuah rumah panggung—Kukila setiap malam duduk di jendela rumah panggungnya memandangi Pilang yang duduk di tempatmu berbaring sekarang mengisap gulungan tembakau. Setiap malam selama bertahun-tahun seperti itu.

***

LELAKI yang setiap malam duduk di jendela depan rumah itu sesungguhnya adalah Sultan, suami Kukila. Ya, ia juga duduk di sana memandang ke sini setiap malam hingga larut, hingga sumbu obor tak mampu menjangkau minyak tanah.

Dari sini, jendela depan itu terlihat setengahnya ditutup siluet Sultan. Rumah panggung itu seperti dinding dengan dua buah lukisan manusia hitam dengan latar kuning keemasan. Dengan melihat dua jendela dengan siluetnya masing-masing setiap malam, bisa dipastikan bahwa rumah tangga mereka sungguh tawar—mereka mungkin tak pernah bercinta. Tetapi kamu tahu kan apa hukuman bagi orang-orang yang bercerai di kampung ini? Apakah kau pernah mendengar bahwa, dulu, jika ada orang yang bercerai meraka akan diikat bersama dan beri pemberat batu kemudian ditenggelamkan di sumur?

Sultan anak pemangku adat, ia tak mungkin melanggar hukum adat. Sultan tak mungkin bercerai. Maka setiap malam akan terlihatlah pemandangan aneh itu; tiga orang diam saling memandang dari jarak jauh. Aneh, bukan? Setiap malam seperti itu hingga larut.

Namun sesungguhnya hal itu tidak aneh sekiranya kau tahu bahwa dulu, sebelum menikahi Kukila, Sultan juga sering datang ke sini, duduk sendiri di tempatmu berbaring sekarang. Setelah Pilang dan Kukila pulang ke rumahnya masing-masing, ia akan duduk sendiri di sini menghadap ke barat memain-mainkan daun-daun keringku yang jatuh.

Sultan akan menggumamkan lagu sedih entah apa. Seperti seorang yang memendam sebuah perasaan tak tersampaikan. Dan memang seperti itulah, bertahun-tahun Sultan memendam perasaan cintanya dan tak pernah berani mengatakannya. Ia hanya bisa memandang sepasang kekasih itu bercumbu di tempatmu berbaring sekarang dari jauh dari balik pohon—dulu selain aku ada beberapa pohon lain di sekitar sini. Ia tak mampu mengatakannya, meskipun sesungguhnya di kampung ini, waktu itu, Sultan adalah pemuda paling tampan, kaya dan anak pemangku adat.

Setelah Pilang dan Kukila pulang, Sultan akan datang ke sini mengungkapkan segala bentuk kekesalannya karena tak pernah bisa mengungkapkan perasaannya itu—hingga larut, hingga suara-suara malam terdengar semakin seram.

Suatu malam, seperti biasa, Sultan datang lagi ke sini. Ia sangat cemburu melihat sepasang kekasih itu berciuman lama di bawah pohon ini, di tempatmu berbaring sekarang. Lalu ia datang menangis, menangis seperti seorang anak kecil. Setelah menangis ia terdengar menyusun-nyusun rencana. Mungkin kemudian ia menyadari bahwa sebagai anak seorang pemangku adat, ia bisa melakukan apa saja yang ia inginkan. Maka kemudian ia berteriak: “Aku akan menikahinya!”

Setelah itu, dengan suara yang dipelankan ia kemudian berkata:“Dengan menikahi Kukila, Pilang yang aku cintai itu tak akan menjadi milik siapa-siapa lagi. Sebab aku tahu pasti, Pilang tak akan mengingkari janjinya yang tak mau menikah kecuali dengan Kukila. Ya, aku akan menikahi Kukila. Aku akan menikahi Kukila.”

Sesungguhnya Sultan mencintai Pilang dan bukan mencintai Kukila. Dan meskipun dalam hukum adat belum diatur kasus seperti itu, karena belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi Sultan sangat yakin akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih berat jika hal itu diketahui oleh orang lain. Lelaki mencintai sesamanya lelaki adalah aib besar, tentu saja. Dan ayahnya yang pemangku adat itu tentu akan sangat berang. Masalahnya lagi, dulu hukum adat tak mengenal anak atau keluarga. Siapapun yang bersalah harus dihukum.

Begitulah, akhirnya hingga Sultan mengambil sebuah keputusan yang aneh; menikahi Kukila, agar tetap bisa mencintai Pilang meskipun dari jauh—dari jendela rumahnya setiap malam. Perasaan cinta Sultan pada Pilang disimpannya bertahun-tahun dalam dada. Selain ia sendiri, hanya akulah yang tahu perasaannya.

***

SETELAH bertahun-tahun mereka menjalani kisah cinta aneh itu, suatu malam, saat itu alam dipenuhi cahaya bulan purnama, mungkin perasaan cinta sama-sama tak mampu mereka tahankan lagi. Entah siapa yang mulai melangkah lebih dulu, dua orang di jendela itu turun dan berjalan ke sini ke tempat Pilang duduk mengisap tembakaunya.

Di sini, di tempatmu berbaring sekarang, kemudian terjadilah sesuatu yang luar biasa itu. Kukila, Sultan dan Pilang mengakui perasaannya masing-masing dengan jujur. Dan kau tahu apa yang mereka lakukan selanjutnya? Mereka sepakat mati bersama-sama dengan menggantung diri di cabang pohonku. Itulah sebabnya tak ada orang yang berani datang ke sini, sebab katanya mereka selalu melihat hantu; dua orang lelaki dan seorang perempuan. Bahkan burung-burung pun tak ada yang berani hinggap di rerantingku, apalagi membuat sarang.

Malam itu, mereka bertiga berpelukan sambil mengucapkan perasaannya masing-masing sebelum satu persatu memanjatku lalu melompat dengan tali di lehernya. Aku menangis menyaksikan mereka melakukannya, bukan karena mereka bunuh diri. Di sini, di cabang-cabangku, sudah banyak orang bunuh diri disebabkan oleh bermacam-macam hal. Aku tak pernah menangis karena itu, aku tahu cabang-cabang pohon memang ditakdirkan sebagai tempat menggantung. Bukan, bukan itu yang membuatku menangis. Tetapi ketiganya dengan jujur saling mengakui cintanya masing-masing tanpa saling berselisih satu sama lain. Itulah yang membuatku menangis.

Aku lihat Pilang mencium Kukila kemudian membagi juga bibirnya untuk dicium Sultan dan terakhir Kukila mencium suaminya sebelum ketiganya saling erat berpelukan. Sungguh sebuah adegan yang indah dan mengharukan. Sekali lagi aku katakan, alam dipenuhi cahaya bulan purnama saat adegan indah dan mengharukan itu terjadi—dan aku menangis sepenuh haru. Aku menjatuhkan hampir seluruh daun-daunku sebagai bentuk kesedihan.

Itulah sebabnya sebelum kemarau yang ditugaskan membunuh pohon-pohon datang, aku ceritakan rahasia ini padamu agar kau tahu bahwa di tempatmu berbaring sekarang pernah terjadi sesuatu yang sangat, sangat, sangat…

***

AKU tiba-tiba terbangun oleh sesuatu yang jatuh menyentuh pipiku, sesuatu yang hangat seperti air mata.

Mungkin pohon itu bercerita lama sekali dalam mimpiku, sebab saat membuka sepasang mataku, aku lihat matahari di barat sudah berwarna oranye. Aku bangun dan menemukan sapi-sapiku merumput tenang tak jauh dari pohon itu. Aku bangkit melihat tempatku tertidur—sebuah batu panjang berwarna hitam—kemudian melangkah meninggalkan pohon itu.

Sebentar lagi kemarau datang membunuh pohon tua itu, dan aku sedih membayangkannya. Perasaan sedih itu membuatku berjanji dalam hati, besok dan seterusnya akan datang lagi berbaring dan tidur di batu hitam mendengarkan rahasia lain pohon itu.

Makassar, Januari 2006

Iklan

One thought on “Di Tempatmu Berbaring Sekarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s