PEPUISI SEPULANG DARI BALIKPAPAN

HULU KALI MATA IBU

engkau akhirnya menjawab
hutan pertanyaan dari rimbun embun
di pagi hari yang senantiasa setia
mengusung keranda masa remajamu
yang merah tomat buah

bahwa sejak dulu kala
matamu hulu kali

airnya seperti lelehan cermin mengalir
lalu menggenangi pipi, telaga tempat ikan-ikan
berenang; anak-anak yang engkau lahirkan
kemudian tumbuh dewasa dan melepaskan
siripnya di antara batu-batu buta

air itu jualah yang menguap ke langit haru
sebab tak ada mulut laut
mau jadi muara

di ceruk pipimu, para pemancing berdatangan
seperti gelombang pengungsi dari pulau-pulau jauh
lelaki-lelaki bajingan yang berungkali menipu;
menganggap istrinya sebagai lubang kakus
setiap malam buang kotoran
lalu tidur mendengkur tanpa mencuci pantatnya

tetapi engkau tak tahu mengeluh
sebab air kali itu membuat langit
selalu biru, selalu baru
dan lelaki-lelaki itu bangun dan mendapati
setiap hari sebagai hari baik untuk memancing
meskipun ikan-ikan sudah tahu tipuan umpan

begitulah, engkau terus menggerus tangis
hingga di dadamu mata air tipis nyaris habis
menyisakan batuk bergemuruh serupa guruh

tetapi, sekali lagi, engkau tak tahu mengeluh
mulutmu hanyalah corong doa-doa paling minta
agar tuhan tak mengeringkan kali
sebelum ternak-ternak dan anak-anak
menemukan hujan

sebelum sore dan matamu dikatupkan perlahan

Balikpapan, 2006

SESAAT SETELAH KAPAL BERSANDAR

tak ada yang lebih letih dari kapal yang bersandar
setelah menempuh perjalanan dari bandar ke bandar
kecuali tubuhku yang mungkin telah berubah lain
di bening kelereng matamu

sepasang tanganmukah dermaga itu?

menjulur ingin merengkuh
membawaku ke dalam dadamu
yang bergetar seperti geladak
di rambut panjang laut yang berombak

kuku-kukunya baru saja kau potong
agar tak melukai punggungku gosong

namun urat-uratnya tak mampu kau sembunyikan
seperti tangis yang kau kulum dengan senyum
atau sesekali gigitan di bibir bawah
ia menjalar sebagai akar-akar pohonan tua
yang sisa hidupnya adalah kepedihan

inilah petualangan terakhirku, ibu

setelah semua dermaga yang pernah menerimaku
tak lebih lidah perempuan-perempuan nakal
menjilat lalu muntah sambil mengumpat-umpat
tak tahan pada kerat-kerat
dagingku dan keringat pekat
yang kusuling dari mata air susumu

Balikpapan, 2006

PADA SEBUAH MALAM ENGKAU BERJALAN

telapak kaki yang membawa langkah-langkahmu
pada sebuah malam yang dinginnya asing
adalah persembahan rahasia yang tak kau kehendaki
dan lengan jalanan lengang dipilih menjadi altarnya

daunan pohon di kiri-kanan mengingatkan
tak henti-henti sebuah kejadian
dari mimpi buruk dalam tidurmu
yang membuat segenap waktu adalah duka
hingga kau lupa pada rasa takut

dan bayanganmu ditelan bayangan pohonan
yang hilang jua di bawah bayangan langit

seperti inikah kehidupan di belakang punggung matahari?
engkau bertanya kepada senyap
yang melingkup

cahaya matamu meraba-raba arah dalam redup
gerangan di mana diletakkan tujuan

engkau terus berjalan di sela-sela percakapan
angin dan ranting-ranting yang tak kau pahami
dan mengabaikan setiap persimpangan yang kau temui
seperti kakimu bukan kakimu
seperti tubuhmu bukan tubuhmu
seperti segala sesuatu bukan milikmu
kecuali pertanyaan,
sebab jawaban dan tujuan bukan pula pengetahuanmu

maka engkau terus berjalan,
engkau terus berjalan…

Balikpapan – Makassar, 2006

SEBUAH RUMAH TERKUNCI

ada sebuah rumah dibelit akar-akar hutan
dibalut sulur-sulur kabut
bertandang ke dalam tidurmu setiap malam
rumah terkunci seperti kursi pelaminan yang sepi

seluruh bulan yang menziarahinya adalah januari
basah penuh desah
memenjarakanmu dalam rahasia gairah
dan malam-malam adalah resah
yang tak pernah sudah

di luar tidurmu
aku berjaga-jaga dari balik sebatang pohon
menyembunyikan kunci di saku
sambil membayangkan beranda wajahmu
sebagai tempatku mereguk pagi dan sore hari

seandainya engkau tahu
bahwa reranting pohon-pohon itu adalah bilah-bilah badik
matanya membidik
jantung perjumpaan kita
maukah kau berguling beberapa depa,
agar kita bertemu di batas jaga dan tidur
menuntaslunaskan kerinduan?

Makassar, 2006

DENTING SENDOK DAN GARPU

meja makan menghamparkan peternakan
dan ladang-ladang yang sudah mati

kemudian sendok dan garpu berdenting
melempar ingatan jauh melenting
ke sebuah kampung yang pernah takluk jadi
daerah jajahan masa kanak-kanak

ting!

bunyi pedang ayah dan paman beradu
karena sepetak sawah yang tak jelas
pematangnya di surat wasiat
waktu paceklik mencekik-cekik
yang tak menjual warisan akan dikuburkan

perut lapar akan memakan pula cabang-cabang silsilah
pada akhirnya

ting!
ting!

bunyi pedang sekelompok orang yang menyerang
dengan pedang penduduk yang tidak mau menyerah
enggan ladangnya jadi kaki-kaki pabrik
segenap langit dipenuhi pekik

surat-surat tanah tiba-tiba ada di tangan orang asing
dan penduduk jadi kucing
dipaksa makan dari tong-tong sampah
dan minum dari pipa-pipa limbah

ting!
ting!
ting!

bunyi pedang itu selalu ada di meja makan
membuat makanan terasa amis
dan minuman terasa kecut

Makassar, 2006

LELAKI IKAN

sebatang pohon yang ditebang bandang
suatu petang
saat kupu-kupu bermain riang dalam terbang
itulah jembatan antara siang-malamku
dengan tempat yang menyembunyikanmu

di bawahnya sungai mengaruskan air mata gunung
yang lelah melawan matahari dalam tarung

bulan mengawasi dari tempat tinggi
mengkhawatirkan air mataku
yang selalu ingin melarikan diri
menyusul keberangkatanmu ke sana

ke mana?
tak ada yang tahu
ada saja pertanyaan ditakdirkan sia-sia

pada sebuah subuh, aku terbang sebagai seekor elang
lalu hinggap di ranting-ranting sungai
menjelma ikan dan mencarimu di sela-sela batu

aku tak menemukanmu
namun alir sungai dan air mataku
adalah saudara yang saling kasih

setelah itu batang pohon dan bulan yang sama
akan bercerita pada anak-anak
bahwa aku adalah lelaki ikan
yang mencari pengantinnya di lubuk sungai ini

aku tak bersedih, meski betul-betul tak bertemu jejakmu
sebab kesedihanku akan melahirkan
kesedihan-kesedihan lain

bukankah anak-anak harus belajar bersedih?
begitu pula kehilangan
begitu pula kesetiaan
begitu pula…

Makassar, 2006

TUNAS-TUNAS HUJAN

tunas-tunas hujan menghijau
memenuhi udara pagi

di beranda ini, aku akan mengamatinya
jadi ranting jadi cabang lalu berbunga
juga membayangkanmu kuyup menyusup
mencari kehangatan ke dalam ringkih rengkuhku

satu-dua buah mungkin jatuh terpetik angin
aku akan memungutnya
mengupas dan memakannya
merasakan lagi keberanjakanmu dari rumah
:kecut!

sambil berlari-lari di atas berita koran pagi
aku merangkai-rangkai cerita sendiri
tentang sebuah hutan tumbuh di halaman
dan tepianya entah di mana
aku sesat seorang di tengah-tengahnya

kuhirup kopiku sebelum berangkat dingin
kau tahu, kopi itu kuseduh
sambil tersedu-sedu
sebab alangkah sendu
bunyi sendok dan gelas beradu

tunas-tunas hujan mulai berdaun lebat
aku melihat wajahmu sekelebat
kemudian lesat ke arah yang tak kutandai

tunas-tunas hujan tumbuhlah, tumbuhlah!
aku ingin berteduh dibawa bayang-bayangmu
sungguh terik sepi ini

rimbunlah, rimbunlah!
aku akan berlari ke tengah hutanmu
menyerahkan diri pada taring binatang buas

tunas-tunas hujan terus menghijau
jarum jam sudah jauh
aku masih di beranda mulai beku
di manakah kau?

Makassar, 2006

HIDUP IBU ADALAH MENUNGGU, AKU SAKSINYA

dari pintu yang kuak setengah
ibu melambaikan tangan
sambil tertunduk memasrahkan biji-biji
air mata pada lantai

air mata itulah yang tumbuh jadi laut
seluruh pantainya adalah muara

suatu waktu, ayahmu kembali
dibawa oleh sungai
aku akan menerimanya meski
telah menjadi daun kering
atau sampah
atau apa pun,
katanya padaku

aku berenang berhari-hari
tetapi laut itu sungguh luas
dan setiap pulau yang kudatangi
tak menyimpan tubuh ayahku

aku juga memanjat punggung-punggung gunung
tetapi setiap tangga menuju arah yang salah

ibu tetap menunggu di atas doa-doa
dan uban-ubannya rontok satu-satu
menjadi kayu bakar
yang memanaskan tungku tanah liat
agar kami tetap kuat

hidup ibu adalah menunggu,
aku saksinya

Makassar, 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s