AKU DAN SEPASANG MATA

dulu, dulu sekali, ada sepasang mata sering menatapku penuh ratap
lewat malam-malam yang senyap, lewat tidur-tidur yang lelap
tetapi aku tak pernah hirau hingga aku tahu ada sesuatu telah menyelinap

sekarang sepasang mata itu telah ditumbuhi gua-gua panjang yang pengap
tempat mengendap segala perasaan yang meruap-ruap
tempat melindap segala keinginan yang meluap-luap
tak menyisakan sesuatu untuk kukecap

dan lengkung alis di atasnya adalah daunan pohon-pohon yang tingkap
tempat binatang-binatang buas memasang perangkap
tiarap menunggu setiap mangsa yang tak tanggap
untuk disergap, untuk disantap

dan kelopaknya yang diam tak mengerjap, tak pernah mau menyingkap
tetanda yang seharusnya terungkap
kata-kata yang seharusnya terucap
lalu isyarat apa yang mesti kutangkap?

yang tertinggal kini hanya usia tua dan aku yang tak henti berharap
seseorang datang menyihirku jadi uap atau asap
agar bisa menelusup ke celah-celah hutannya yang meriap
dan kemudian lorong-lorongnya yang gelap
menyerahkan diri segenap, menghadap untuk disekap atau didekap
sebab aku tak lagi genap, tak lagi lengkap

Makassar, Januari 2006

One thought on “AKU DAN SEPASANG MATA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s