Toko Buku dengan Sentuhan Personal

Sejumlah toko buku didirikan dengan semangat memberi alternatif. Ada yang memilih segmen anak dan remaja, menjual buku seken, dan berkonsep pujasera. Lakukah?

Suatu saat, jaringan toko buku besar Foxbook mendirikan cabangnya yang kesekian, tepat di seberang toko itu. Meski dikelola dengan sepenuh hati, namun para pelanggan setia toko independen ini mulai tergoda oleh tawaran menarik hypermarket buku itu.

Toko yang dikelola oleh Joe Fox tersebut memanjakan keinginan pelanggan: menawarkan tak terhitung judul buku, bisa membaca buku di sofa dan kursi yang cozy sembari menyesap segelas cappuccino, mendekorasi ruang baca untuk anak-anak dengan penuh warna.

Toko buku milik Kelly akhirnya tersingkir dan memilih tutup, meski Kelly yang dimainkan Meg Ryan dan Fox yang diperankan Tom Hanks kemudian menjadi sepasang kekasih.

Ini memang sebuah kisah dalam film You’ve Got Mail, sebuah komedi romantis yang laris pada 1998.

Lewat film inilah Rika Endang Triyani, alumnus Sastra Cina Universitas Indonesia angkatan 1995, mendapat inspirasi untuk mendirikan sebuah toko buku.

Rika mengaku sudah lama bermimpi mendirikan toko buku kecil yang nyaman bagi para pelanggannya. Setelah menonton film itu, ia tahu konsep yang ia inginkan bagi toko buku angan-angannya itu.

“Aku menggabungkan konsep kedua toko di film itu, ‘nyaman’ dari Foxbook serta ‘sentuhan personal’ dari Shop Around The Corner,” kata Rika saat ditemui di toko bukunya, Rabu (8/6).

Mengambil nama hampir sama, Shop On the Corner, toko buku yang ia dirikan Agustus tahun lalu di sebuah bangunan bergaya kosmo di kawasan Lamandau, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu memilih mengkhususkan diri pada segmen anak dan remaja.

Lokasinya pun dipilih di dekat sekolah. Kawasan ini dikelilingi antara lain SMA 70 Bulungan, SMP 6, SD PSKD dan SMA 6.

Mengapa memilih anak dan remaja? Ibu satu orang anak itu mengaku prihatin pada rendahnya minat baca anak dan remaja. “Saya ingin mengenalkan mereka nikmatnya membaca buku,” ucapnya.

Alumnus SMA 70 Bulungan itu juga mendasarkan pada pengalamannya ketika bergabung dalam Kelompok Pecinta Buku Anak pimpinan Murti Bunanta. Di situ, ia yang saat itu masih kuliah dididik berbagai macam cara untuk meningkatkan baca anak, termasuk cara mendongeng yang baik dan benar.

Dengan konsep itu, toko buku yang memajang sekitar 1.000 judul buku itu pun menjadi tempat hang out para pelajar. Para remaja ini bebas duduk di mana saja, sambil selonjoran sekalipun. “Yang penting mereka mau membaca, saya sudah senang,” tuturnya.

Para remaja itu biasanya menyambangi toko bukunya setelah selesai sekolah sembari menunggu waktu les. “Paling ramai Jumat sore, karena besoknya mereka libur. Mereka mencari buku sebagai teman di akhir pekan,” kata Rika yang mengeluarkan modal Rp 70 juta untuk mendirikan toko buku itu.

Rika menuturkan pernah suatu kali seorang anak kelas 1 SMA hendak membeli komik seharga Rp 14 ribu, namun ia diskon hingga tinggal Rp 12 ribu. Ternyata anak itu hanya punya uang Rp 11.500. “Wajahnya memelas sekali, jadi saya berikan saja buku itu. Tapi saya diomeli akuntan saya, kalau baik terus kapan dapat untungnya,” katanya dengan tawa berderai.

Para remaja yang sudah biasa datang juga tak segan-segan menelpon ke ponsel Rika sekadar untuk menanyakan referensi sebuah buku. Bahkan, ia kadang diminta membantu membuat pekerjaan rumah mereka. “Yang bikin saya pusing kalau mereka kabur dari sekolah dan nongkrong di toko saya.”

Bila sedang ramai, Shop On the Corner bisa dikunjungi 50 orang setiap hari. Namun bila sedang sepi, hari Sabtu atau saat libur sekolah, lima pengunjung saja sudah bagus.

Omset yang diperoleh tiap bulan sekitar Rp 6 juta. Itu pun, kata Rika, masih sering nombok untuk memenuhi kebutuhan bulanan, seperti membayar dua pegawai. Tak sedikit yang menyarankannya untuk menutup usaha toko bukunya dan mencari usaha lain dengan cash flow yang lebih cepat.

Namun itu tak menyurutkan langkah Rika untuk mewujudkan impiannya. “Aku bertahan demi idealismeku,” ujarnya lugas.

Bermula dari Perpustakaan

Jika Rika mengawali mendirikan toko buku alternatif setelah terinspirasi film, Bilven dan Hakim bermimpi mempunyai toko buku setelah mengelola perpustakaan kampus saat masih menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Telkom Bandung.

Ide untuk membuat perpustakaan mencuat saat dia bersama kawan-kawan kuliahnya kerap menggelar diskusi di kampus. Dari pertemuan-pertemuan itu tercetus ide untuk membuat perpustakaan yang bisa dikelola secara mandiri. “Buku-bukunya dikumpulkan dari koleksi kawan-kawan yang kebetulan doyan baca,” ujar Bilven, Jumat (10/6).

Mereka berhasil mengumpulkan sekitar 500 buku dan mendirikan perpustakaan Sang Pemula.

Setelah lulus, Bilven, Hakim dan empat temannya ingin lebih serius menggeluti dunia buku. Mula-mula mereka mengontrak rumah kecil di kawasan Jalan Karapitan awal 2004 lalu. Karena butuh tempat yang cukup besar yang bisa dijadikan tempat jualan buku sekaligus wadah diskusi, Bilven dan kawan-kawannya pindah ke Jalan Lengkong Besar, Bandung.

Lokasi ini tepat di seberang Kampus Universitas Pasundan. Mereka harus merogoh kocek Rp 80 juta untuk menyewa dua tahun. Mereka menamakan toko buku itu Ultimus.

Otak bisnis mereka berputar, ruangannya yang lebar mereka bagi tiga. Ruangan pertama disewakan untuk dijadikan warnet. Sisanya, dua ruangan lagi, dijadikan ruang baca dan kelas bahasa. Sedangkan halaman samping yang cukup luas dijadikan tempat pertunjukan seni atau tempat berdiskusi.

Bekerja sama dengan jaringan seniman atau toko buku alternatif, Ultimus sering menggelar acara bedah buku, menonton film independen, sampai kursus bahasa Inggris gratis.

Sampai saat ini, tidak kurang dari 3.700 judul buku yang menghiasi ruangan Ultimus. Buku-buku ini berasal dari 130 suplier, baik dari penerbit maupun distributor.

Bilven lebih suka menyebut koleksi Ultimus sebagai buku-buku humaniora. Alasan memilih buku-buku jenis ini, kata dia, karena selama ini toko buku besar di Bandung kurang menggarap serius buku-buku humaniora.

Untuk menjaga kesetiaan pelanggan, Ultimus memberikan diskon 15-20 persen. “Tapi ada masa-masa tertentu kami memberi diskon sampai 50 persen,” kata Bilven.

Dengan strategi diskon seperti itu, Bilven mengakui omset Ultimus mencapai Rp 25-30 juta per bulan. Jumlah ini, kata dia, masih di bawah target, kendati sudah bisa menutupi biaya operasional, termasuk cukup untuk membiayai kegiatan diskusi dan menambah koleksi.

Untuk mendongkrak omset, Ultimus menyebut toko mereka sebagai Toko Buku Diskon. Mereka memberikan bonus untuk pembelian buku langsung di toko, melayani pembelian buku antar dan bayar di tempat untuk dalam kota dengan bebas biaya pengiriman, melayani pembelian buku luar kota, dan menawarkan “ruang untuk membaca, membeli buku, nongkrong, ngobrol bersama dengan harum dan nikmatnya secangkir kopi.”

Toko Buku dan Distro

Sentuhan personal juga ditawarkan Omuniuum, toko buku di Jalan Sultan Agung No. 9. Iit Sukmiati, Aril Herdiantoro, Tri Juniantoro adalah tiga orang sahabat yang sama-sama menyukai musik dan membaca buku fiksi. Aril adalah salah seorang personel band metal Koil.

Ketika ketiganya bergabung untuk mendirikan unit usaha maka yang terpikir adalah memiliki toko yang menyajikan buku, fashion, dan musik. Jadilah Omuniuum yang didirikan pada 2003 sebagai toko buku fiksi, buku musik, dan sekaligus distro.

“Prinsip kita, kalau menjual sesuatu kita harus mengerti betul apa yang dijual itu. Jadi kita bisa menjelaskan pada pembeli” kata Aril.

Pada awal berdiri, Omuniuum yang disewa Rp 12 juta per tahun hanya punya ruang berukuran 4 X 4 meter persegi dan cuma menjual 200 buku saja. Setahun kemudian Omuniuum sudah mampu menambah ruang menjadi 8 meter X 4 meter. Jumlah buku pun sudah bertambah antara 1.000 sampai 2.000 buku.

Dalam satu bulan Omuniuum bisa menjual antara 250-300 buku. Omsetnya mencapai Rp 10-12 juta. Sementara distro mereka beromset antara Rp 20-30 juta per bulan. “Ini cukup untuk membiayai operasional plus menggaji 7 orang karyawan,” kata Tri.

Selain distro, toko buku ini juga dilengkapi dengan kafe dan warnet.

Kedua bisnis ini tidak satu manajemen dengan toko buku dan distro. “Konsep Omuniuum ini Pujasera, jadi menyediakan banyak kebutuhan pelanggan,” kata Tri.

Spesial Seken

Berbeda dari Omuniuum yang menyuguhkan buku-buku tertentu, sebuah toko buku alternatif di kawasan Beji, Depok, menawarkan beragam jenis buku: fiksi, nonfiksi, komik, resep masakan, kamus, einsiklopedi, hingga buku-buku kuno.

Toko buku milik Fauzan Haryosoediedo, mantan fotografer senior majalah Trust, itu spesial menyuguhkan buku-buku bekas. Menyewa sebuah ruko dengan luas 4X6 meter sejak 13 Maret lalu, Fauzan menamai tokonya Toko Buku Seken.

Meski baru dua bulan berdiri, pada bulan pertama hasil penjualan buku di toko ini mencapai Rp 2,3 juta. Pada bulan ke dua, Rp 3.7 juta. “Ada peningkatan, makanya kita berani meneruskan,” ujar Fauzan.

Fauzan lebih memilih menjual buku seken karena selama ini dia sudah memiliki banyak buku koleksi yang layak jual. Memilih buku seken dalam kondisi baik, kata Fauzan, bahkan lebih sulit dibanding mencari buku baru. “Kalau buku baru, kita tinggal pesen ke penerbit. Dan tidak usah mikirin modal,” ia menjelaskan.

Ia menceritakan, selama tiga tahun bekerja di Trust, ia selalu membeli buku seken di dekat kantornya. Tiap hari Fauzan selalu membawa pulang buku bekas satu kardus. “Awalnya cuma untuk koleksi, tidak direncanakan untuk dijual,” ungkapnya.

Mulanya ia ingin mendirikan taman bacaan di tempat yang ia sewa itu. Tapi terbentur kerumitan pendataan semua anggota, ia pun memutuskan menjual koleksinya dan terus berburu buku bekas.

Suasana yang nyaman dan harga yang murah adalah dua hal yang menjadi nilai lebih toko buku ini. Ia menjual buku bekas itu 20-50 persen buku baru. Buku anak yang biasa dijual dengan harga Rp 8 ribu, misalnya, dijual dengan hanya Rp 2.500. Buku termurah seharga Rp 1 ribu, antara lain resep makanan dan dongeng nabi. Yang termahal adalah buku koleksi lama yang bisa mencapai Rp 200 ribu. Antara lain buku diktat Mulo dan serat-serat Jawa.

sita planasari/rana akbari fitriawan/rinny srihartini/mawar kusuma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s