baca, makan, dan nonton!

senang sekali, kemarin (Minggu,11/12/05) para pengelola biblioholic ngadain relax time ! maksudnya untuk menyegarkan kepala karena ‘mungkin’ lelah ngurus segala sesuatu tentang buku! nah, relax time ini akan jadi program bulanan pengelola (aan, ochank, dan anna) tapi kalau ada yang mau ikut boleh juga (tetapi biblioholic tdk tanggung biayanya ya!)

nah, kemarin kita bikin acara jalan-jalan; pertama ke toko buku Gramedia (tetap berhubungan dengan buku ya?), terus lanjut ke Mie Tang (nah,kalo yang ini hobbi kami yang lain, makan!), terakhir, nonton bareng The Lion, The Witch and The Wardrobe (salah satu seri Narnia yang difilmkan). Heran, relax time kok tidak bisa jauh dari buku ya? Semoga bulan depan acaranya bisa lebih seru!

thanks to: fia,iccang dan isdah yang membuat relax timenya jadi semarak! lain kali ikut lagi ya!

yang mau tahu tentang Narnia, berikut ini kami muat sedikit ulasannya. diambil dari Ruang Baca Tempo.

Petualangan Baru Di Balik Pintu Lemari

Jauh sebelum Harry Potter menemukan peron 9 3/4, empat bocah Inggris sudah bertualang ke negeri ajaib lewat sebuah lemari pakaian. Ke Narnia, ke empat bocah itu —Lucy, Edmund, Peter, dan Susan— berkelana. Di negeri yang di dalamnya terdapat mata air ajaib, penyihir kejam, dan tanah kebeliaan.

Kisah pengelanaan ke negeri Narnia itu dituangkan C.S. Lewis dalam bukunya yang amat tersohor The Chronicles of Narnia.

Buku Lewis, yang awalnya dikenal sebagai penulis buku rohani dan psikologi orang dewasa, ini menjadi sumber ilham penulis cerita fantasi lainnya, termasuk J.K. Rowling.

Dua buku serial Narnia ini (The Magician’s Nephew dan The Lion, The Witch and The Wardrobe) yang terbit pertama kali pada 1950 dan 1951, muncul versi bahasa Indonesianya Juni silam.

Serial Narnia ini kompletnya terdiri dari tujuh jilid: The Magician’s Nephew; The Lion, The Witch and The Wardrobe; The Horse and His Boy; Prince Caspian; The Voyage of The Dawn Treader; The Silver Chair; dan The Last Battle.

Uniknya, meski Sang Singa… merupakan yang pertama kali terbit, dalam urutan kronik Narnia, buku ini dianggap sebagai jilid kedua karena Lewis mem-plot Keponakan Sang Penyihir sebagai jilid perkenalan.

Tidak heran jika dalam bab I buku ini, Lewis menulis: “Ini kisah tentang sesuatu yang terjadi dulu ketika kakeknenekmu masih kanak-kanak.

Kisah ini penting karena mengungkapkan bagaimana pertama kali dimulainya berbagai hal bisa keluar-masuk dari dunia kita sendiri ke tanah Narnia.”

Kisah Narnia bermula ketika Lucy, Edmund, Peter, dan Susan berkunjung ke rumah seorang teman keluarga mereka. Keluarga keempat bocah itu hendak lari dari London yang tengah membara karena Perang Dunia Kedua.

Di rumah itu mereka menemukan lemari yang mengantar mereka ke sebuah tanah ajaib, Narnia. Tanah itu tengah dirundung kutukan Penyihir Putih; berselimut salju tiada habis.

Di negeri ajaib itu, mereka bertemu makluk aneh, Aslan, singa agung yang dapat berbicara. Singa inilah yang menemani keempatnya bertualang, bertemu beragam makluk aneh, dan menghadapi musuh.

Sementara buku Keponakan Penyihir berkisah tentang awal mula terbukanya pintu menuju Narnia. Buku ini menceritakan perjalanan dua bocah Polly dan Digory, yang hidup di masamasa Sherlock Holmes masih bermukim di Baker Street. Itu artinya puluhan tahun sebelum Lucy dan saudaranya yang lain menemukan pintu itu.

Dalam buku ini, Lewis menceritakan awal berkembangnya kutukan di Narnia. Paman Digory, Andrew, rupanya seorang penyihir jahat yang tengah mengujicoba ilmunya. Kedua bocah yang bertetangga itu menjadi korbannya. Dan terlemparlah kedua bocah itu ke dunia berselimut hutan Narnia.

Di sana mereka bertemu Queen Jadis yang belakangan menjadi Penyihir Putih, faun (sejenis hewan berkepala manusia mirip centaurus dalam mitos Yunani), dan para kurcaci. Dalam jilid ini pula diperkenalkan Aslan, sang singa penguasa yang menciptakan Narnia dengan cara bernnyanyi. Celakanya, ia kemudian tersingkir karena Penyihir Putih menguasai Narnia.

Kronik Narnia ini merupakan karya terbesar yang dilahirkan Lewis. Ia juga merupakan satusatunya cerita kanak-kanak yang lahir dari penulis dan dosen Sastra Inggris di Cambridge University ini.

Lewis meraup bermacam sumbersebagai inspirasi ceritanya. Mitos Yunani dan Romawi diakuinya sebagai inspirasi terbesar, selain itu juga cerita rakyat Irlandia, tanah kelahiran Lewis.

Kesukaan Lewis membaca karya-karya besar sejak kanakkanak juga memberi pengaruh tidak sedikit pada seri Narnia.

Karakter Aslan, sang singa agung diakui Lewis sebagai pengaruh dari Kisah 1001 Malam yang ia baca di masa kanak-kanak.

Sementara negeri yang berselimut salju itu pernah mampir dalam mimpi masa kecilnya. Pembaca yang menggemari karya J.R.R. Tolkien akan menemukan banyak kemiripan Narnia dengan The Silmarillion, karya Tolkien yang kalah populer dengan serial The Lords of The Rings di sini. Ini tampak pada bagian AinulindalÎ, the Song of the Ainur yang mirip dengan terciptanya Narnia lewat nyanyian Aslan.

Di luar kemiripan itu, Lewis memang mengakui ia dan Tolkien berkawan akrab dan saling melengkapi dalam karya. Pemberi ilustrasi pada serial ini (yang sangat indah dan detil), Pauline Bayne, adalah juga kawan Tolkien.

Munculnya seri terjemahan Narnia ini akan memperkaya khazanah kisah fantasi sihir yang selama ini dikuasai Harry Potter. Selain itu, para penggila petualangan di sekolah sihir Hogwarts akan menyadari, J.K. Rowling tidak beroleh ide briliannya dengan begitu saja.(Angela)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s