KEPADA IBUNYA, BATU MENGIRIM ASAP

/1/
setelah bara api bebatang kretekku
menghabiskan cengkeh dan tembakau
akan kubakar pula rak dan buku-buku,
seprei dan tempat tidur, juga rumahku
bahkan kota dan hutan-hutan hijau

aku hilang jejak dan alamatmu sejak dulu
maka asap-asap akan mengabari dari jauh
seluruh risau juga rindu padamu

ibu, doa siapa yang meneluhku jadi batu?

/2/
rupanya, ada airmata di dada batu
yang jatuh setiap kali terdengar lagu
tentang rerumput dan kerbau-kerbau,
tentang daun-daun kehilangan hijau
juga tentang kampung yang jadi baru

ada yang tak henti menangis, ibu!
:langit, hulu sungai, laut dan mataku

mungkin seorang berkata padamu
semua itu tak akan pernah mampu
mengembalikan batu jadi anakmu
maka kubakar saja seluruh milikku,

dan asapnya mungkinkah tiba di situ?

/3/
baiklah, baiklah biar kubakar jua diriku
seperti membakar dupa-dupa atau kayu,
dan berharap asapku membawa bau-bau;
peluh, darah, nanah dan tanah, airmata, airsusu
yang adonannya dulu kau buat menjadi aku

namun, ibu, mohon setelah semua itu
jangan pernah engkau duduk lesu
menangisi anakmu menjelma abu
atau debu

Makassar, 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s