singkat, sepersekian detik yang hangat menyengat

setelah meletakkan sekotak makan siang
kau berlalu dengan ringan dan riang
tiba-tiba, di langkah keempat atau kelima
kau menoleh serupa lupa membisikkan satu kalimat
kau menatapku, aku tersenyum, kau tersenyum:

“selamat makan! maaf, makanan itu akan tawar
tanpa senyumku!”

aku terus tersenyum
dan menyantap makan siang dan senyummu dengan lahap

hanya sepersekian detik, sangat singkat
tetapi setelahnya tangan dan bibirku gemetar
mengisap batang-batang rokok

sungguh, sepersekian detik, hangat menyengat
dan setelahnya jantungku tak reda berdebar
hingga ke pokok-pokok

o, waktu yang terus menggerus-gerus
kau menjelma penghapus yang rakus
atas seluruh perihku bahkan yang paling halus
dan mengantarku ke ujung penungguan sekaligus

oktober, 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s