Sihir Perempuan Intan Paramaditha

Image hosted by Photobucket.com

Buku setebal 150 halaman ini bukan semata-mata menyodorkan kisah-kisah horor yang menghibur dengan ketegangan cerita. Cerpen yang mempunyai keterbatasan ruang itu digunakan penulisnya untuk melancarkan ‘permainan halus’-nya dalam tema-tema cerita dunia hitam seorang perempuan. Ia dijadikan medium untuk melihat kembali dunia dan posisi perempuan dengan segala aspeknya. Sebagai perempuan, penulisnya merangkum segala persoalan yang dialami perempuan dari sudut pandang perempuan. Kita juga akan merasakan kelihaian penulisnya menjungkirbalikkan kisah perempuan dalam dongeng Cinderella (cerpen Perempuan Buta tanpa Ibu Jari), Super-woman (cerpen Mobil Jenazah), karyawati yang baik (cerpen Vampir, dan cerpen Darah), atau menjadi anak perempuan yang berbakti pada orangtua (cerpen Pintu Merah). Cerpen bagi Intan adalah sebuah tanya yang menanti jawab para pembacanya tentang kisah yang berkaitan erat dengan dunia perempuan…

Dongengan adalah yang cukup menonjol dalam buku ini. Ia menjadi semangat untuk menghadirkan kembali dunia dan persoalan perempuan dalam kisah masa kini. Dalam cerpen Sang Ratu misalnya, kisah mistis Ratu Kidul menyembul di antara kisah perjalanan pengusaha muda bernama Herjuno. Ia yang gemar main serong merasa tenang memiliki istri penurut. Kelak di satu saat di mana perusahaannya terjerat kasus pencemaran lingkungan harus berhadapan dengan seorang perempuan–yang dideskribsikan bagai kalajengking. Kendati kemunculan Ratu Pantai Selatan dalam cerpen ini memang sudah tercium sejak mula cerpen dituturkan, kita akan kerap ditumbuk ending cerita yang mencengangkan. Begitupun dengan cerpen Pemintal Kegelapan, penulisnya menuturkan dongengan perempuan yang setia menanti kekasihnya dengan memintal kegelapan. Dalam cerpen, dongengan yang dituturkan oleh seorang ibu pada anaknya itu adalah celupan kisahnya sendiri. Seorang ibu tunggal yang membesarkan anaknya sendiri, menanti hadiran cinta sejati, dan berakhir dengan kangker rahim yang tengah meradang.

Cerpen Perempuan Buta tanpa Ibu Jari memelintirkan dongengan Cindrella yang telah meleganda. Gadis cantik yatim-piatu bernama Sindelarat itu akhirnya datang juga dalam pesta pemilihan calon ratu. Sudut pandang pencerita adalah salah satu kakak tiri Sindelarat yang kelak memotong ibu jari kakinya agar bisa menggunakan sepatu yang kekecilan. Legenda dongeng yang tadinya berakhir bahagia dikecoh teror di akhir cerita yang tragis.

Dari segi teknik penceritaan, Intan memiliki kecapakan yang patut digarisbawahi. Penceritaan dengan dua speaker membingkai kisah Vampir penghisap darah yang juga sudah melegenda. Saras, sang sekretaris yang cakap mengerjakan segala tugas itu bekerja untuk seorang atasannya, Irwan yang kaya, rupawan dan suka bermain-main dengan kekuasaan. Desas-desus miring dunia pekerja sekretaris itu oleh penulisnya disublimkan dengan kalimat-kalimat putus dan serba mengantung. Cukup efektif untuk memberi nuansa horor dalam sudut penceritaan ganda seperti dalam cerpen Vampir ini.

Keberanian Intan bukan hanya menggali kisah-kisah suram bernuansa horor yang menakutkan. Penulisnya mampu menggali kedalaman esensi kisah suram perempuan di seputar cerita aborsi di kalangan perempuan. Cerpen Jeritan dalam Botol bukan bersandar dari sensasi berita yang sangat sensitif ini. Ada semacam kesangsian kalaulah saja buku ini tidak terbit maka kita tidak akan pernah menemukan karya yang mengangkat tema seperti ini. Dalam cerpen Jeritan dalam Botol, Intan telah melakukannya dengan jalinan cerita yang sangat halus, dengan teknik yang apik untuk menyembulkan endapan dari kedalaman cerita. Cerpen ini sekaligus menjadi terobosan dari segi tematik, yang mungkin masih dianggap ‘haram’ oleh cerpen koran, misalnya.

Intan tidak hanya melulu menghadirkan tema-tema suram dan seram yang meneror. Ia bisa membesut kisah tragedi tanpa narasi yang memilukan. Cerpen Sejak Porselen Berpipi Merah itu Pecah tetap tampil unik tanpa ceceran darah dan teror mencekam. Kisah sunyi pasutri di masa senja tanpa anak itu tiba-tiba terusik ketika boneka porselen bernama Yin Yin itu pecah oleh seekor kucing kesayangan mereka. Nyaris tak ada nuansa kesedihan yang berlarat-larat dalam cerpen itu, namun, nuansa kelam itu merayap dalam kepahitan kisah dari awal sampai di akhir cerita. *** Chusnato

dicomot dari http://www.sriti.com

Iklan

One thought on “Sihir Perempuan Intan Paramaditha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s