MEMBACA PEREMPUAN YANG MENCINTAI STILL GOT THE BLUES

Image hosted by Photobucket.com

Judul: Perempuan yang Mencintai Still Got The Blues

Pengarang : Rahmat Hidayat

Penerbit: Ininnawa dan Identitas

Tahun Terbit: 2005

Halaman 222 halaman

Ukuran : 13 x 20 cm

harga : 25.000,- (disc. 20%)

I.

Buku kumpulan cerita pendek “Perempuan yang Mencintai Still Got The Blues” ini lahir dari tangan Rahmat Hidayat, seorang penulis dengan latar belakang pendidikan ilmu kedokteran di Universitas Hasanuddin, Makassar. Ia tidak sendirian tentu karena sebelumnya rumah sastra telah dihuni oleh sejumlah besar penulis dengan latar belakang pendidikan maupun pekerjaan di bidang medis. Sudirman H.N, Mira W, Hendrawan Nadesul, Lowell, Chekov, dan Tolstoy, adalah beberapa pendahulunya.

Nampaknya, pendidikan medis memberikan pemahaman kepada mereka akan badan kasar manusia sementara dunia sastra memberi ruang bagi mereka untuk “mengalami’ badan halus manusia. Tak mengherankan bila karya para penulis tersebut umumnya sarat dengan warna humanisme yang kuat serta ditulis dengan keterampilan teknis yang tinggi dan perhatian yang kuat akan detil.

Karena itu pula, bukan suatu kebetulan jika kedua puluh cerpen dalam kumpulan ini sarat dengan kisah penderitaan manusia-manusia sakit, atau lebih tepatnya yang disakiti, oleh nasibnya. Sumber penderitaan itu beraneka: sejarah politik kekerasan (Cerpen Pohon Belimbing di Belakang Rumah dan Saya Halimah dari Pidie), moralitas sosial (Asiah Bersua Malaikat), kebijakan sosial ekonomi (Anak-Anak Daeng Basse dan Asu Panting), belenggu kultural (Di Tepi Sungai Suatu Sore, Membuang Kucing, dan Ratna), cinta yang bermasalah (Tasia Tasia, New Year’s Eve, Mbak Nani 854326, dan Kalau Aku Mati). Bahkan, cinta yang tulus pun masih memberikan sebentuk keperihan, sebagaimana yang tergambar dengan lirih dalam Perempuan yang Mencintai Still Got The Blues, Perempuan di Bibir Pantai, Kupu-Kupu dalam Kotak Kaca, dan Kisah dari Kebun Mawar.

Dan semua sakit dan penderitaan itu dialami oleh tokoh perempuan.

II

Hampir seluruh kisah memang beredar pada titik orbit seorang tokoh wanita. Tetapi boleh jadi, seorang pembaca yang punya pretensi feminis akan bersungut-sungut dan menggerutu apabila berharap untuk menemukan semacam manifesto ideologis dari buku ini. Dan memang, sebagai pencerita yang telaten, penulis nampaknya lebih memilih untuk membiarkan setiap tokoh wanita dalam cerpen-cerpennya menegaskan eksistensi dengan cara mereka sendiri-sendiri.

Tokoh Rosi menyatakan kesetaraannya dengan balik mentraktir soto setelah puas menggauli simpanannya, tokoh Aku, yang dahulu justru getol memanfaatkan tubuh Rosi. Halimah memilih bersaksi kepada dunia setelah berhasil selamat melewati serangkaian teror mental dan fisik oleh tentara. Ros (dalam Membuang Kucing).melakukannya dengan tindakan frontal meskipun berakhir dengan tragis.

Selain dari tindakan Rosi, Halimah, dan Ros, manifestasi kekuatan dan semangat tokoh perempuan dalam menghadapi nasib yang menyakitinya juga berwujud dalam perbuatan yang mistis dan bahkan fantastis. Ada perempuan misterius yang melakukan tindak kesetiaan supra-rasional (tetapi bukan ir-rasional), dengan terus menerus selama belasan tahun memesan lagu Still Got the Blues yang didedikasikan untuk mantan kekasihnya, Alex. Atau berdiri di bibir pantai mulai pagi hingga senja seakan-akan menanti sesuatu atau seseorang, dengan aura kemurungan yang agung dan mengagumkan sehingga pencerita akhirnya terlibat secara intens dan bahkan mengidentifikasikan dirinya sehingga menjelma sebagai lelaki di bibir pantai di akhir cerita.

Juga ada tokoh Asiah yang mengalami pengalaman mistis, berjumpa dengan sosok malaikat yang nyeleneh dan tokoh Ratna yang baru dapat memperoleh penghargaan dari lingkungan kerabatnya nanti saat kesurupan badan halus Karaeng dan mengalami tranformasi menjadi seorang juru sembuh.

Sudut pandang yang tidak lazim akibat penjungkirbalikan klise karakter tokoh juga memberi warna komedi tragis pada beberapa cerpen lainnya. Dalam kisah New Year’s Eve, tokoh Masya bertindak di luar pakem tokoh wanita: ia berselingkuh terlebih dulu sebelum diselingkuhi suaminya. Penyelewengannya ini tidak hanya membuat si suami kecewa dan terluka akibat dikhianati, tetapi juga menjadi lebih geram karena sebagai lelaki ia telah didahului oleh tokoh perempuan. Hasilnya, balas dendanm yang dangkal dan konyol dari tokoh suami: berkencan semalam dengan perempuan iseng yang ditemuinya saat keluyuran di malam tahun baru setelah tidak mampu menunjukkan kemarahnnya sebagaimana seharusnya seorang lelaki marah. Dan setelah puas bercinta ia pun pulang dengan harapan kekanak-kanakan untuk tidur dan terbangun dengan sarapan roti selai kacang dan sari jeruk.

Dalam Mbak Nani 854326, yang kecele itu gantian si istri. Awalnya ia terbakar amarah karena menemukan bukti penyelewengan suaminya dengan seseorang bernama Mbak Nani. Streotipe seorang perempuan adalah merasa tak rela untuk diduakan dengan wanita lain. Kita kenal rivalisme yang kuat antar sesama perempuan dalam hal tampilan dan dandanan, misalnya. Tetapi apa yang akan terjadi, jika rivalnya itu ternyata seorang pria yang kewanitawanitaan? Dalam kisah ini, kemarahan si istri menjadi serba salah. Yang ia lakukan hanya terpaku tanpa tahu harus berbuat apa. Bahasa gaulnya kira-kira “Ngak level, dech saingan dengan bencis…”

Nada humor.berubah menjadi lebih kelam dan meneror pada kisah Lara Croft. Seorang karyawan muda keranjingan berat dengan permainan elektronik bertokohkan Lara Croft (jagoan–ataukah jagowati?–seksi yang dipersonifikasikan dengan sempurna di layar lebar oleh artis Angelina Jolie; Nona Jolie ini sendiri parasnya serupa dengan wajah penyair kita, Shinta Febriany). Lucunya, ada perempuan sungguhan yang tak kalah seksi yang sebenarnya naksir kepada si karyawan. Tetapi dalam pandangan pria itu, si perempuan nyata tidak lebih dari seorang sekretaris berdada besar yang bawel, pengatur, dan pemaksa. Ironisnya, karyawan muda justru terbunuh oleh tokoh perempuan rekaan sementara perempuan sungguhan hanya bisa panik memekik-mekik.

Keberagaman posisi pandang yang digunakan penulis dalam mengeksploitasi relasi pria-perempuan dalam sejumlah cerpennya, membuat cerita-cerita ini menarik dan kaya. Efek ini sulit diperoleh jika sejak awal si penulis sudah mengambil ancang-ancang sebagai juru kampanye feminisme.

Perspektif tematik yang menarik dan efisiensi yang tinggi dalam pengembangan latar, alur, serta penokohan, yang kemudian dikemas dalam gaya bahasa yang bernas namun lancar mengalir membuat karya-karya yang terkumpul dalam buku ini patut memperoleh perhatian kita. Terlepas dari beberapa catatan dalam hal teknis penerbitan.

Tampilan fisik buku ini yang monokrom tidaklah se-colorfull kisah-kisah di dalamnya. Dari pertimbangan pemasaran, kemasan demikian akan kurang menarik atensi para pembaca umum yang telah terbiasa dengan kemasan semarak ala teen-lit dan chick-lit. Selain itu, beberapa inkonsistensi dalam pengindonesiaan kata asing dan kesalahan penulisan bentukan kata, huruf, serta tanda baca juga patut menjadi perhatian penerbit saat cetak ulang nantinya. Kalimat “Berteriak atau kau mati” dalam cerpen Di Tepi Sungai, Suatu Sore mungkin maksudnya “Berteriak, kau mati” atau “Diam, kalau tak mau mati” atau “Mau mati atau diam”.. Pada halaman 84, kata hedfon akan lebih tepat ditulis hedpon, analog dengan telephone menjadi telepon. Bantalon di halaman 160 tentunya adalah pantalon. Kata mempesona pada halaman 190 merupakan bentuk tak baku dari memesona.

IV.

Setelah generasi cerpenis Lili Yulianti (sekarang mukim di Tokyo setelah beberapa tahun menetap di Australia) dan Sudirman H.N (kini untuk kedua kalinya berdomisili di Australia), angkatan penulis lebih muda dengan bekal keterampilan menulis yang di atas rata-rata penulis segenarasinya antara lain adalah Rahmat Hidayat dan M. Fauzan Mukrim.

Yang membuat mereka berbeda adalah pemahaman dan penguasaan atas apa yang menjadi esensi sebuah cerpen yaitu bagaimana berkisah, mengalirkan alur peristiwa. Kebanyakan penulis muda kontemporer saat ini lebih terpaku pada apa yang dikisahkan. Tak heran, bila pemicu suatu cerita adalah konsep tertentu maka cerita-cerita mereka akan berkembang menjadi risalah atau esai filsafat. Sebaliknya, bila titik tolak cerpen itu adalah lanskap emosional tertentu maka yang lahir adalah kesah (bukannya kisah), semacam lirik-lirik puitik berkepanjangan yang populer di dalam siaran radio swasta sebagai biskal, bisikan kalbu artistik.

Entah kebetulan entah tidak, dua nama terakhir di atas pun mempunyai kecenderungan sebagai nomad kosmopolitan seperti kedua rekan senior mereka terdahulu: Setelah meluncurkan bukunya pada akhir bulan Juni lalu, Rahmat sudah harus segera berangkat ke Amsterdam untuk mendalami studi penyakit viral. Adapun Fauzan, sebagai reporter salah satu televisi swasta, asyik hilir mudik Makassar-Jakarta atau ke beberapa kota lainnya di nusantara.

Tetapi bolehlah kita bernafas lega, karena keduanya berjanji untuk tetap setia berkarya. Konon, ada kumpulan cerpen kedua dari Rahmat Hidayat tengah dalam persiapan naik cetak sementara sebuah novel dari Fauzan juga akan segera diluncurkan ke publik oleh Penerbit Inninnawa dalam waktu dekat (S.M Noor tentu tidak akan kesepian lagi sebagai novelis di kota ini). Kita tunggu..

resensi oleh Hendragunawan S. Thayf

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s