cerpen terbaik kompas 2005

Image hosted by Photobucket.com

Hidung saya pasti salah, ketika aroma parfum Lolita Lempicka moncor saat Titiek Puspa melintas. Ini Hari Raya apa? Rekan saya yang cerpenis muda berseloroh! Lalu lalang orang bergantian mencicip santapan. Setelah mencucu menakar hasil urutan kompilasi cerpen yang terpilih, lalu aneka santapan jadi yang diserbu setelah itu. Rasa ketidakpuasan untuk sementara bisa diatasi saat sapa-papasan dengan sejumlah rekan lama. Tentu saja, sejumlah cerpenis muda seperti menguap dari peredaran di pesta hajatan tahunan kali ini…

Pendapat nyinyir itu terselip di antara rasa syukur, bahwa kita pernah memiliki sastrawan besar macam Kuntowijoyo.

Hajatan Pemberian Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2005 yang jatuh pada 28 Juni 2005 malam itu seperti tengah menapak usia yang ‘mapan’. Terhitung sejak tahun 1992, kecuali absen tahun 1998, harian Kompas telah membuktikan kemandirian cerpen koran sebagai genre sastra yang mandiri. Arti 13 buku Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas bukan sekadar bagaimana mencatat perjalanan cerpen setiap tahunnya. Setiap ajang pemilihan- lagi-lagi rekan saya sang cerpenis muda itu bergurau, apapun jenis pemilihan itu- akan sangat dipengaruhi unsur politis, jaringan, dan akses! Ah! Kenapa pasal gunjingan itu seperti peluit nyaring ketika Chaerul Umam membacakan cerpen terbaik, lalu sajian musik Aceh yang membangkitkan buluroma itu?

“Saya tidak melihat Djenar Maesa Ayu, apakah dia datang?” Tanya seseorang seperti menjerit di samping saya. Yang ditanya malah balik bertanya, “Lha, dari tadi saya malah nyari mana Intan Paramaditha? Yang mana sih, orangnya?” saya sangat ingin menjawab, ‘saya tadi melihat Ibu NH. Dini’, lalu mengapa saya redam kata-kata itu? Apakah saya masih terbawa sejumlah gunjingan soal kriteria umur jadi patokan untuk sebuah kepuasan sebuah karya? Saat merasakan ambience ketidakpuasan para undangan yang begitu kelihatan sangat gelisahnya…

Jika keputusan juri adalah sebuah hal yang patut kita baca sebagai sebuah hasil yang maksimal. Lalu rinai bisik-bisik, sampai obrolan mencorong seperti menghujani Bentara Budaya Jakarta kawasan Palmerah Selatan malam itu. Padahal buku yang bertajuk JL. ‘Asmaradana’ sebagai buku tercetak sebagai Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2005 itu sudah ada dalam genggaman (hampir) semua undangan.

Saya memberi selamat pada Kurnia Effendi yang untuk kali pertamanya masuk dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas. Dia begitu sumringah! Tak lupa saya beri selamat pada Ratna Indraswari Ibrahim yang pada malam itu menjadi orang paling berbahagia. Dia didaulat sebagai Penerima Anugerah Kesetiaan Berkarya, selain cerpennya yang berjudul Baju masuk sebagai 10 terpilih. Ratna yang sejak tahun 1982 itu hingga kini giat menulis.

Berbeda dari buku-buku sebelumnya, Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2005 kali ini hanya memuat 10 cerpen. Dengan jumlah tersebut, artinya kerja ekstra para juri untuk menyaring 50 cerpen selama tahun 2004. Para cerpenis dan cerpen yang terpilih adalah: Kuntowijoyo (cerpen Rt 03 Rw 22: Jalan Belimbing atau Jalan “Asmaradana”), Agus Noor (cerpen Kupu-kupu Seribu Peluru), Radhar Panca Dahana (cerpen Senja Buram, Daging di Mulutnya), Gus tf Sakai (cerpen Belatung), Veven sp Wardhana (cerpen Dari Mana Datangnya Mata), Sunaryono Basuki Ks (cerpen Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura), Indra Tranggono (cerpen Bulan Terbingkai Jendela), Ratna Idraswari Ibrahim (cerpen Baju), NH Dini (cerpen Daun-daun Waru di Samirono), Kunia Effendi (cerpen Roti Tawar).

Tahun ini adalah tepat perayaan Ulang Tahun ke-40 bagi Kompas. Acara sudah digelar. Buku Jl ‘Asmaradana’ Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2005 sudah beredar. Tak ada yang salah dari itu semua. Gunjingan, akrobat kritik, rinai bisik-bisik ketidakpuasan adalah bumbu penyedap. Semua berjalan seperti biasa. Tak kurang satu apa. Selamat Ulang tahun Kompas! Selamat bagi cerpenis terpilih…

Selamat jalan Pak Kunto, kita di sini semua bahagia. Karena hingga detik-detik terakhir, kita masih punya sastrawan besar yang terus meniti jalan di dunia kepenulisan. Jl Asmaradana telah tercetak dalam sejarah cerpen kita. Ia bagaikan bentangan ‘api asmara’ yang tak akan pernah lekang… Dan akan selalu dikenang.*** Chusnato

dicomot dari http://www.sriti.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s