Jeritan Lirih Oe

Image hosted by Photobucket.com

KISAH yang kompleks senantiasa menawarkan berbagai kemungkinan kenikmatan: petualangan dengan konflik sengit, narasi yang kaya dengan gaya yang ungkap, hubungan rindu-dendam karakter yang muncul di dalamnya, tema yang menyinggung sejumlah ranah dengan cara pandang cukup berbeda dibandingkan orang kebanyakan, melahirkan trauma, rasa sakit, namun mencoba menemukan jalan baru melepaskan hasrat dan emosi.

KENZABURO OE — pemenang Hadiah Nobel Sastra 1994 — dalam Jeritan Lirih menumpahkan segala kemampuannya dalam sebuah karya fiksi: cara ungkap kaya yang mencoba menjelajah sejumlah lapis kesadaran, tema yang mampu menyinggung beberapa subjek persoalan, baik fisik dan spiritual, karakter yang terus mencoba menyelrsaikan krisis dalam hidupnya, dan akhirnya berusaha menjalani nasib dengan sejumlah keputusan dan pilihan. Meskipun cerita terfokus pada dua karakter hubungan kakak-adik Takashi dan Mitsusaburo yang penuh persoalan psikologis, mereka ternyata terlibat dengan persoalan lain yang tak kalah krusial: melawan ancaman dari kekuatan luar dengan dukungan modal dan kekuatan besar, pergulatan dengan mitos dan sejarah suatu bangsa. Di sisi lain, mereka tetap bergelut dengan persoalan duniawi, seperti seksual, kekerasan, rasa bersalah, moralitas dan heroisme. Di tangan OE pergumulan itu menjadi sebuah karya yang ‘mengganggu’, namun esensial, karena menelusuri pertanyaan manusia tentang takdir, masa lalu, dan trauma. Takashi dan Mitsusaburo adalah wakil dua kutub, dan keduanya mengikuti pilihan yang akhirnya mengarah pada suatu kesimpulan, bahkan menjadikan novel ini mempunyai dua klimaks, suatu terobosan yang sangat jarang dilakukan penulis lain.

Akademi Swedia, panitia Hadiah Nobel Sastra, menyebut Jeritan Lirih sebagai karya matang utama OE, memujinya karena buku ini ‘mengurai hubungan manusia di dunia yang sulit’. Sejak pertama kali terbit, buku ini terus bertahan sebagai salah satu karya klasik sastra dunia. Sementara OE sendiri menjadi sosok paling terkemuka penulis Jepang pasca-Perang Dunia Kedua, bahkan dinilai banyak kritik berusaha kuat mengubah dan meninggalkan warisan sastra Jepang yang di masa modern dibangun Yasunari Kawabata atau Yukio Mishima.

[Buku ini aku beli di Toko Buku Toga Mas Jogjakarta, diskonnya 30%]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s