Buku baru Nukila Amal

Image hosted by Photobucket.com

Bapakku anggrek bulan, putih dari hutan. Ibuku mawar merah di taman, dekat pagar pekarangan. Bertemu suatu pagi di pelabuhan. Melahirkanku. Bayi merah muda kemboja. Bunga kuburan. …Bapakku bening air kelapa muda. Ibuku sirup merah kental manis buatan sendiri. Aku Bloody Mary. Jumat malam alkoholik, happy hours, Jumat pagi robotik.

Masih ingat dengan kalimat-kalimat di atas? Itu adalah cuplikan dari bagian awal novel Cala Ibi karya Nukila Amal, pengarang yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana, menyeruak dan menggetarkan sastra Indonesia. Sebuah koreografi kata yang tangkas, indah, dan bernas hingga pada halaman-halamannya kalimat-kalimat menjelma menjadi rangkaian aforisma. Sebuah novel yang memperkarakan hakikat nama, peristiwa dan cerita, maya dan nyata, diri dan ilusi, tapi juga memperkarakan kodrat kata dan bahasa itu sendiri.

Nah, setelah sukses dengan Novel Cala Ibi, Nukila Amal kembali hadir dengan kumpulan Cerpen terbarunya berjudul Laluba

Kumpulan cerita pendek Nukila Amal memuat penggambaran kondisi
kemanusiaan yang bergerak diantara situasi keseharian dan yang
ekstrim: orang yang berjalan – jalan, rehat di kedai kopi, kejenuhan,
cinta pertama, sepi usia tua, hingga kebrutalan perang.

Subyeknya bisa siapa saja atau apa saja: Ibu yang tengah hamil,
penari eksentrik, setetes embun, dua tangan yang bercakap, atau seekor
buaya kecil yang menyeruak keluar gambar. Cerita bertempat di pesisir
Halmahera, gang dan jalanan kota Jakarta, desa di Korsika, galeri di
negeri Belanda, sirkus di negeri antah berantah, atau taman ria di
dalam mata. Beberapa cerita bertolak dari karya – karya pegrafis
M.C.Escher.

Beberapa Komentar tentang Laluba

Cerita – cerita pendek Nukila, menyeret kita ke ceruk batin manusia
yang paling dalam dan misterius. Membacanya adalah sebuah pengalaman
kebahasaan yang pelik, menyentuh, indah dan menakjubkan.
–Bambang Sugiharto

Prosa Nukila Amal tidak hanya memuat puisi dalam presisi rima dan
diksi; tetapi juga menggunakan metafor yang segar, kerap mengagetkan,
cermat dan liris, yang terpadu ke dalam struktur yang ketat bahkan
nyaris matematis
–Laksmi Pamuntjak

“Sentuhan Nukila memberi hidup kepada benda – benda, kepada yang kecil
dan `tak penting’ dunia dalam yang kian ditinggalkan – ketika banyak
cerita lebih memilih merayakan kebanalan permukaan hidup. Setiap tapak
kata adalah elan vital yang menyempurnakan dan menggenapi pembacanya.
Sebuah terobosan alam cara bercerita yang tak mungkin diabaikan oleh
siapapun yang serius memikirkan perkembangan sastra Indonesia masa kini.”

Kutipan Laluba

Berikut ini aku sengaja kutipkan sedikit dari halaman-halaman Laluba;

Mari ke laut, anakku. Kini saatnya. Kurasa mereka sudah dekat. Aku
bisa mendengar gema suara mereka terbawa angin subuh. Dengar, dini
hari ini angin tidak berdesir, tapi suaranya seperti sayatan sepanjang
jalan. Jendela kayu berderit ngilu olehnya, daun pintu mendesiskan
retak, menangkupkan dingin ke dalam rumah. Lilin tercakar: sebentar ia
berkobar, sekejap ia mengerjap-ngerjap. Gelap ingin masuk merasuk-rasuk.

Telah semalaman aku duduk di sini, berdiang pada cahaya lilin di
dapur. Aku menatap tepi cahayanya meliuk kuning biru, menjatuhkan
bayanganku pada dinding kayu — ia bergerak kesana-kemari seperti
penari, padahal aku duduk diam. Berjam-jam aku mengamati bilah-bilah
kayu, menelusuri dengan mata permukaannya yang memecah seperti urat
nadi pucat. Tapi aku tak bicara pada mereka. Aku tak bicara padamu.
Aku tak bicara pada siapa-siapa. Aku hanya duduk di sudut, menunggu.
Kita akan melangkah keluar dengan pelan sekali, tak perlu buru-buru.
Aku ingin telapak kakiku menjejak penuh, merasai lantai kayu, tanah,
rerumputan basah dan bunga jambu luruh. Benang-benang halus bunga
jambu terasa lembut di kaki, banyak juga yang tersangkut di pagar
bambu. Akan kusemat satu di telingaku. Pohon ini ditanam ayahmu, ini
kali pertama ia berbuah — pasti rasanya manis, segar. Lihatlah
pohonnya, permukaanya hampir tertutupi warna merah muda menyala,
nyaris elektrik. Jika malam tiba, orang-orang dapat melihatnya dari
ujung kampung.
Kampung kita: rumah-rumah yang berderet menunggu ajal, tembok-tembok
pejal yang menggigil. Gelap. Lampu minyak di dalam rumah-rumah menyala
lemah, meremangi mimpi jiwa-jiwa yang tak lagi bisa tidur lelap.
Kuyakin kau juga tak tidur. Betapa sepi. Hanya ada suara angin,
serangga satu dua dan ombak pecah. Di saat-saat hening seperti ini,
aku berharap bisa menangkap bunyi denyut jantungmu atau dengkurmu. Ada
pula suara pria-pria berjaga yang bercakap dengan suara rendah. Kita
tak perlu melewati mereka, kita akan lewat samping menuju belakang
rumah. Aku sedang tak ingin ditanya-tanya.
Di belakang rumah ada pohon ketapang. Di bawahnya ada sebuah perahu
yang dibalikkan — perahu ayahmu. Punggungku terasa kram, akhir-akhir
ini aku merasa cepat lelah. Kita akan duduk di sini. Menunggu
matahari, pagi dan yang lain lagi.

Sedikit tentang Nukila Amal

Image hosted by Photobucket.com

Lahir di Ternate, Maluku Utara, 26 Desember 1971. Kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. Sesekali ia menulis, membuat keramik, atau pergi berjalan-jalan ke daerah. Kini tinggal di Jakarta. Cala Ibi adalah novel pertamanya. Termasuk dalam jajaran lima besar nominasi Khatulistiwa Literary Award 2003.

Kabar Buruk

Seperti biasa, buku-buku terbitan Alvabet tidak beredar di Makassar. Sebut saja beberapa buku terjemahan pengarang terkenal Paulo Cuelho. Aku juga baru saja beli buku terbaru Paulo Cuelho, Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Terseduh. Untuk buku itu nanti aku tulis sedikit komnetar juga.

One thought on “Buku baru Nukila Amal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s