Jogja dan hujan sore itu!

Image hosted by Photobucket.com

Di Kedai Kebun Jogjakarta, beberapa malam lalu, aku datang menikmati Malam Penyair Perempuan Indonesia, salah satu acara sastra dalam Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang berlangsung 07 Juni – 07 Juli 2005. Ada banyak sastrawan terkenal yang aku temui di sana. Yang tampil malam itu, Diah Hadaning dari Bogor (perempuan 40-an tahun yang perkasa), Dina Oktaviani anak Lampung yang tinggal di Jogja (si sipit), Putu Vivi Lestari dari bali (oh..kayak gituh toh!), Evi Idawati (penyair + bintang sinetron), Rukmi Dani, dll. Di sana juga ada Abdul Wachid, Raudal Tanjung Banua, Saut Situmorang, Katrin (kritikus sastra dari Jerman itu), Hasta Indriyana, dan seabreg sastrawana lain. Acara itu berlangsung di lantai atas Kedai Kebun, di bagian bawah ada pameran lukisan para pelukis top Indonesia. Ada juga bazar buku (gila murahnya lho!), aku sempat beli beberapa, yang kira-kira aku gak bisa temui di Makassar.

Bukan itu yang aku mau cerita. Seusai acara, oleh beberapa orang yang tahu kalau buku puisiku ‘Hujan Rintih Rintih’ sudah terbit, mereka minta buku itu. Dhaaarr! Baru aku sadar, bahwa tiba-tiba aku ingin sekali melupakan buku puisi itu. Sekiranya aku punya daya, aku ingin menariknya saja dari pasar! Karena tidak pede? Bukan! Lalu? Buku yang dipersembahkan khusus buat seorang perempuan itu, tiba-tiba membuat aku hilang di tengah kerumunan sastrawan itu. Perempuan yang namanya terlalu banyak tertulis di buku kumpulan puisi itu, sekarang tidak lagi berstatus sama sewaktu puisi-puisi dan buku itu dibuat. Itulah soalnya, ingin rasanya kubakar saja semua buku-buku itu! tapi, bukankah satu-satunya rumah adalah kenangan?

Tadi sore, selepas belanja buku di Toga Mas, aku tertahan di kafe toko buku itu karena hujan. Dari jendela-jendela terbuka sambil menikmati coklat panas aku menikmati hujan di luaran dan merasakan pelan-pelan ada hujan juga yang jatuh di mataku (tapi aku berjanji tak mau menulis puisi untuk itu!). Wahyu, lelaki yang mirip Nicolas Saputra yang selalu menemaniku di Jogja, berkomentar bahwa sejak aku di Jogja hujan selalu turun. (Lihat, bahkan alam pun menangis untukku!) Dan…sudah bisa ditebak, aku menjadi tak bisa lepas dari jerat yang sebenarnya ingin aku tinggalkan dengan pergi ke Jogja. Perempuan itu! Ia terlalu identik dengan hujan. Hujan terlalu banyak menginspirasi aku menulis puisi untuk dan tentang dia. Ah…ingin sekali rasanya aku berlari di bawah hujan dan menumpahkan airmata agar tak seorang pun tahu kesedihanku ini!

Di kafe yang dipenuhi remaja yang sedang bercanda dengan kekasihnya itu, aku tiba-tiba teringat puisi pendek yang pernah aku tulis!

suatu sore saat hujan

anak-anak di jalanan
bermain air genangan
pada seorang perempuan
aku dikepung kenangan

(Hujan Rintih Rintih 2005)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s